Balada Komputer Lemot

Oleh : Lufti Avianto 

Lemot. Entah kata itu datang dari mana, aku tidak tahu. Apalagi asal-usul kata itu sepertinya bukan dari bahasa Indonesia asli. Tapi, yang kutahu dari kata ‘lemot’ itu adalah yang kini menghinggapi komputer tempatku bekerja.

Ya, lagi-lagi komputer lemot yang kurayapi punggung keybord-nya selama tujuh bulan terakhir aku bekerja di kantor ini. Setiap hari, bahkan setiap jam kupandangi kelambanannya ‘berfikir’ dalam membantu seluruh tugas kantorku itu. Namun, setidaknya aku berharap agar otakku tidak selemot komputerku yang saat ini tengah kuharapkan penggantiannya dengan komputer yang jauh lebih baik.

Aku sering mendengus kesal dan sering tak sabar menghadapi ke-lemotan-nya. Bagaimana mungkin menuntaskan setiap deadline yang diberikan kalau ritme kerja tak sebanding dengan peralatan yang digunakan. Bisa dikatakan, komputerku tak bisa mengikuti langkah kakiku mengejar sumber berita.

Pernah pula aku mengeluh dengan rekan sekantorku soal ‘mesin ketik canggih’ nan lemot itu. Tanggapannyapun beragam. Ada yang menanggapi dengan enteng dan adapula yang bijak. Tetapi masalahnya, hanya komputerku yang paling lemot di kantorku itu bila dibandingkan dengan komputer lainnya. Bukannya aku tidak bersyukur dengan fasilitas yang ada, tetapi setiap hari aku mesti ‘memanaskan’ komputer itu selama sejam untuk kemudian kugunakan untuk bekerja. Bila tidak dipanaskan, maka bisa dipastikan, ia akan ngambek saat digunakan. Wahhh….

Bisa dibayangkan kelemotannya. Dengan spesifikasi prosesor Intel Pentium II, komputerku menggunakan office windows XP 2003 dengan fasilitas on line untuk internet, meski sudah menggunakan ram 256, tetap saja tidak mampu memperbaiki performanya. Dalam komputer putih itu tak ada peranti lunak yang ‘berat’ seperti Adobe Photoshop, Page Maker dan lainnya, namun kemampuannya sungguh membuat hati geregetan dibuatnya. Apalagi saat menggunakan internet untuk mencari data tambahan liputan, atau membuka dan mengirim e-mail ke media dan relasi kerja, saat itulah kesabaranku diuji dengan komputer tersayang.

Di tengah badai ujian kesabaranku, aku teringat dengan sebuah tulisan yang sempat kubuat dan juga kupajang di blog pribadiku. Dalam tulisan berjudul Menunggu Jawaban, aku ‘diingatkan’ tulisan yang kubuat sendiri. Setidaknya, aku mesti berfikir kreatif dalam hal menunggu. Malu juga rasanya, ketika menunggu menjadi rutinits sehari-hari, namun aku juga belum membiasakan ‘produktif’ dengan kegiatan menjemukan itu.

Kemudian, kubaca kembali tulisan yang terpajang dib log pribadiku. Kubaca berulang-ulang untuk kuresapi kembali tiap makna yang ada di dalam kalimat itu. Tak ada sepuluh menit, aku telah menemukan sebuah cara jitu untuk membunuh kekesalan terhadap ‘rekan elektronikku’ yang lemot itu.

Jawaban itu kutemukan setelah aku menemukan sebuah kalimat yang kutulis sendiri dari tulisan itu.

 Ya, menunggu memang menjemukan, bagi mereka yang menafikan penilaian dariNya. Namun akan sungguh mengasyikan, apabila kita serahkan padaNya. Menunggu memang membosankan, seandainya hanya difokuskan pada satu pekerjaan saja: ya menunggu itu. Banyak dari mereka yang tak mampu mengelola waktu menunggunya. Dan menunggu harus disikapi dengan seni menunggu yang cermat. Karena bisa jadi detik-detik yang berlalu menjauhi kita, pergi tanpa memberikan sepeserpun makna bagi kita. Atau kita yang tak mau peduli terhadap satuan waktu itu ? Sejujurnya, aku tak ingin dimurkai Alloh sebagaimana firmanNya dalam surah Ash-Shoof : 3. “Sangatlah dibenci Alloh jika kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan,” 

Dari sini, aku mendapatkan cahaya yang sempat memudar. Ternyata, tulisan sendiri mampu mengingatkan kealpaanku dalam mengelola waktu menunggu. Sejak saat itu, aku bisa kreatif menunggu loading komputer lemotku. Mulai dari tilawah, menyeduh kopi dan teh, atau sambil membaca buku. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa berbuat kreatif di tengah badai yang menguji kesabaranku. Dan ini bukan cerita lelucon biasa…

Dari cerita ini, ada rekanku yang merasa iri. Bagaimana tidak, sebelum waktu zuhur biasanya aku mampu menyelesaikan bacaan Quranku yang satu juz itu.

“Komputerku memang tidak lemot, jadinya tidak bisa disambi seperti komputermu. Tidak bisa nyambi tilawah, apalagi bikin kopi atau teh,” ujar Bobi berseloroh, salah seorang rekan kantorku.

Ternyata, selain melatih kesabaran, menunggu bisa berpahala juga asal kita bisa kreatif menyiasatinya…

3 thoughts on “Balada Komputer Lemot

  1. Sungguh indah pribadi seorang muslim itu. Jika ia diberi karunia oleh Allah lalu ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia diberi ujian oleh Allah lantas ia bersabar maka itu juga baik baginya.

    salam ta’rif, tulisannya menyehatkan otak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s