Belajar dari Ramadhan, Ku Raih Puasa Ruhani

Oleh : Lufti Avianto 

Ada seorang wanita yang mencaci maki pembantunya di bulan Ramadhan. Ketika Rasulullah melihat kejadian ini beliau menyuruh seseorang untuk membawa makanan dan memanggil wanita itu, lalu Rasulullah bersabda, “Makanlah makanan ini,”. Wanita itu menjawab, “Saya ini sedang berpuasa ya Rasulullah,” Rasululah bersabda lagi, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci−maki pembantumu. Sesunguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal−hal yang tercela. Betapa banyak orang yang berpuasa, dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Kisah yang terjadi pada masa Rasulullah ini merupakan potret perilaku kebanyakan manusia yang masih berulang hingga kini. Pemunculan sikap, dimana puasa hanya sebatas menahan nafsu jasmaniah seperti apa yang Rasul khawatirkan terhadap umatnya ketika menjalani hari−hari Ramadhan yang teramat mulia, yakni, “Banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa−apa kecuali lapar dan dahaga,” begitulah sabdanya.

Shaum (shiyam) atau yang lebih dikenal masyarakat Indonesia dengan istilah ‘puasa’, berarti menahan. Menahan dari hal−hal yang dilarang Alloh hingga waktu yang ditentukan. Sepertihalnya makan, minum dan bercampur dengan pasangan kita di waktu siang. Tetapi, sesungguhnya ada hal lain yang disiratkan kutipan kisah di atas atas maksud istilah ‘menahan’ tadi, tidak hanya berpuasa secara jasmani, tetapi juga mem’puasa’kan ruhani mereka.

Amarah, menggunjingkan sesama (ghibah), dan berbohong, adalah salah satu bentuk pelanggaran pahala tatkala kita tengah berpuasa. Sebagaimana yang dikisahkan di atas, seorang wanita yang memaki pembantunya, merupakan cerminan dari sifat seseorang yang tak mampu mengaplikasikan ruh shiyam (puasa) yaitu menahan sesuatu yang Alloh haramkan. Namun bukan berarti, ketika sudah berbuka kita bisa melepaskan amarah kita, boleh berbohong, dan lainnya.

Di sinilah, Alloh mengajarkan tentang makna shaum bagi hambaNya. Bagaimana sebuah ibadah puasa mampu memiliki efek luar biasa bagi ibadah lainnya. Dengan kelebihannya, puasa mampu melatih lahir dan batin kita untuk senantiasa beribadah kepadaNya. Menahan kebutuhan jasmaniah dan melatih ruhaniah

Namun, sejujurnya kerapkali benteng pertahanan itu berlubang, walau tak sampai hancur hingga puasa kita batal karenanya. Namun, dengan berlubangnya puasa kita, rusak pula pahala yang kita rajut sejak sahur di kala fajar hingga waktu berbuka di senja hari. Dan kitapun tak mendapatkan apa−apa, hanya sebatas rasa lapar yang menggigit, kerongkongan yang kering dan bau mulut yang tak sedap. Sia−sia.

Dalam menyambut kemuliaan Ramadhan, Rasulullah telah menyontohkan dengan mempersiapkan kedatangannya 2 bulan sebelumnya, yakni Rajab dan Sya’ban. Dua bulan menjelang Ramadhan inilah, Rasulullah dan para sahabat melakukan ‘pemanasan’ sebelum Ramadhan benar−benar hadir mengisi hari−hari. Hingga kita benar−benar merasa siap dengan keberkahan yang akan Alloh SWT karuniakan saat Ramadhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s