Mahalnya Rasa Tanggung Jawab

Oleh : Lufti Avianto 

 

Setahun sudah berlalu. Tak terasa warga Perumtas, Sidoarjo, Jawa Timur melalui hari yang berat di tempat pengungsian setelah lumpur panas yang menenggelamkan rumah mereka, tanah, surat-surat penting, sekolah, dan fasilitas umum lainnya yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Tidak hanya kerugian materi, tetapi juga kerugian imaterial sangatlah mahal dan tak bisa diukur dengan uang. Seperti yang diungkapkan Imam (72) salah seorang rombongan warga korban lumpur yang datang ke Jakarta untuk meminta keadilan kepada Pemerintah Pusat. “Kerugian imaterial kami tak bisa diukur dengan uang. Selama setahun kami tinggal di tempat pengungsian dan makan dengan makanan yang sangat tidak layak!” tandasnya berapi-api siang itu (19/4) di universitas Paramadina, Jakarta.

Pernyataan yang menyayat nurani tak hanya dirasakan oleh Imam, tetapi ratusan ribu orang lainnya yang kini berada di Sidoarjo, Jawa Timur pun merasakan hal yang sama. Perasaan perih itu disebabkan pihak PT Lapindo Brantas tak jua peduli dengan jeritan para korban yang meminta ganti rugi yang pantas. Seperti yang diteriakkan ratusan warga korban lumpur Lapindo siang itu : “Ganti rugi 100% YES, Ganti 20% NO,”.

Kalau toh pun diganti, pihak Lapindo sendiri nampak mengulur-ulur waktu pembayaran. Dan itupun tak semua warga yang dibayarkan, karena pihak Lapindo sendiri memberikan batasan : Bahwa para warga yang menjadi korban pasca ledakan pipa gas beberapa waktu lalu tidak akan mendapat ganti rugi”. Lalu, dimana rasa empati mereka diletakkan?

Ilustrasi di atas hanyalah sebuah pelajaran yang ingin kita petik kali ini, bahwa betapa mahalnya rasa tanggung jawab di negeri ini. Tanggung jawab yang menjadikan seseorang berada pada posisi yang terhormat dan terjaga, karena ia mampu menanggung segala resiko yang telah ia perbuat. Dan ia mampu membayar kesalahannya terhadap orang lain, dengan ‘harga’ pantas yang menghadirkan perasaan rela, lega dan ikhlas dari pihak yang menjadi korban.

Kenapa ‘harga’? karena setiap kesalahan tak mesti dibayar dengan materi semata. Ada kesalahan yang cukup dengan ungkapan maaf diiringi gulungan senyum yang ikhlas mengembang, ada pula ‘harga’ lainnya yang bisa menghadirkan perasaan ridho di hati. Sudahkah kita demikian?

Bukankah teramat menyenangkan seandainya kita bisa mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita di dunia? Karena, seandainya kita lari dari tanggung jawab itu, niscaya pengadilan Allah SWT di akhirat kelak akan terasa amat sulit perhitunganNya, oleh karena belum tuntasnya pertanggungjawaban kita di dunia. Maka, ada sebuah ungkapan bersarat nilai tinggi bagi kita dari seorang Khalifah yang telah dijamin keberadaannya di syurga oleh Rasulullah Saw, yakni Umar Bin Khatthab Ra : Hisablah dirimu, sebelum dirimu dihisab di Pengadilan Allah SWT,”.

One thought on “Mahalnya Rasa Tanggung Jawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s