Memilih Pilihan

Oleh : Lufti Avianto

 

Lelaki itu nampak bingung di kerumunan pasar yang begitu ramai. Orang-orang silih berganti melewati dirinya yang masih bingung. Apa yang hendak dibelinya ? padahal uang yang dimilikinya tak banyak, hanya tiga ribu. Ya, hari ini, uang senilai itu seperti tak memiliki banyak manfaat ketimbang sepuluh tahun yang lalu.

Uang itu juga, didapatnya setelah setengah hari bekerja menjadi polisi cepek di pasar Kramatjati.

Ia belum menentukan pilihannya. Meski perut sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Lapar tetaplah lapar. Lapar takkan bisa berhenti merong-rong hanya dengan mengamati keadaan sekitar dengan uang tiga ribu di tangan. Bisa dibayangkan, begitu mendesaknya hawa perut itu segera dituntaskan.

Kemudian, ia mendekati warung pecel ayam di sebuah tenda berwarna putih itu. Dilongoknya keadaan di dalam, betapa orang-orang lahap menyantap hidangannya, apalagi di bawah terik matahari yang membakar, segelas es jeruk pasti akan menyejukkan kerongkongan. Sesaat ia ragu, karena terpampang di sudut tenda itu, nasi pecel : tujuh ribu! wah gawat, takkan cukup!

Ia bergegas menjauh dari tenda itu. Tak ada pilihan lain, selain gorengan menjadi sasaran. Padahal, sejak pagi, seculi makanan tak ada yang mampir di tenggorokannya. Dan tiga ribu itu, adalah jatahnya untuk makan seharian. Lalu, dihampirinya penjual aneka gorengan itu. Dipilihnya sepotong singkong sambil bertanya berbasa-basi.

“Harga satuannya berapa pak?” lelaki itu bertanya. Nampak berbasa-basi memang, tapi tak ada salahnya ditanya, pikirnya demikian. “Tiga ratus perak aja, mas” jawabnya datar.

“Kalau saya beli tiga ribu dapat berapa?”, tanyanya sambil mengunyah singkong yang sejak tadi di pegangnya. “Ya, sepuluh mas!” jawab sang penjual agak kesal.

“Tidak di tambah? Lelaki itu mebujuk. Tapi sambil menelan singkong. “Gimana kalo dua belas?” lelaki itu mencoba menawar, sambil memilih pisang untuk dicoba lagi.  “Kalau saya kasih dua belas, berarti jadi empat belas dong!” penjual itu menjawab.

“Kok empat belas dari mana?” lelaki itu mencoba mengelak sambil menelan pisang goreng. “Ya, dengan dua yang sudah mas makan!” jawabnya naik pitam. Glek. Lelaki itu pucat, kalau akal busuknya tercium penjual gorengan. Ia malu. “Ya sudah, tiga ribu duabelas saja,” ia kehabisan akal lagi.

Setelah mengambil sepuluh gorengan sisanya, ia cepat-cepat pergi meninggalkan si penjual. Di perjalanan, lelaki itu begitu iri melihat orang-orang yang berada dalam restoran ber-AC menikmati hidangan serba nikmat dan bergizi. Sementara dirinya, makan hanya untuk melepaskan jerat-jerat lapar dari dasar lambungnya. Boro-boro’ untuk merasakan kenyang, tak peduli apakah makanannya sudah memenuhi standar nilai gizi atau tidak.

******

Seringkali kita terjebak dalam memilih pada pilihan-pilihan yang sederhana. Layaknya memilih jodoh atau pasangan hidup yang bisa kita analogikan seperti memilih makanan untuk kita konsumsi. Tapi bukan menyamakan wanita seperti makanan.

Seseorang yang hanya ‘bermodal kecil’ tentunya hanya akan menerima yang sesuai dengan pilihannya. Bermodal kecil maksudnya, tingkat keimanan yang rendah disertai niat busuk (pacaran, berzina, dsb), seperti lelaki dalam kisah di atas. Belum membeli, sudah dapat ‘bonus’. Begitu juga memilih jodoh, belum menikah, tetapi ‘selingan-selingan’ yang dilakukan sudah layaknya suami-isteri.

Tentunya, kita tidak ingin menyalahkan nasib wanita ‘gorengan’ yang sudah makin banyak di masyarakat kita. Ia bisa saja ‘dicoba’ terlebih dahulu sebelum dibeli (baca : dinikahi), kalau tidak suka, bisa saja ditinggal tanpa harus membayar.

Apalagi kemasan gorengan, yang memungkinkan setiap pembeli menyentuhnya terlebih dahulu. Memilah-milah bahkan mencoba! Dari kemasan yang terbuka itu, kemungkinan akan higienisnya akan jauh berkurang, disebabkan tangan calon pembeli dan serangga dan debu yang bisa saja hinggap padanya.

Tetapi kesalahan ada pada ‘modal’ dari masing-masing manusia akan keimanan dan usahanya untuk senantiasa memperbaiki dan membina keimanan itu, serta niat yang lurus hanya untuk Alloh semata sebagai tujuan hidup kita (Allohu Ghoyatuna).

Seandainya modal kita besar, tentunya kita akan memilih makanan terbaik bagi kesehatan tubuh kita, walaupun kita mampu membeli (baca: menikahi) wanita ‘gorengan’tadi yang jauh menimbulkan resiko.

Lagipula Alloh takkan keliru memilihkan pilihanNya bagi kekasih setia di jalanNya yang dengan tiga air (air mata, keringat, dan darah) berjuang demi kemenangan yang hanya milikNya. Karena Dia telah berjanji dalam firmanNya, bahkan janjiNya itu lebih pasti dari terbitnya matahari di ufuk timur, dan terbenamnya di sisi barat :

 Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) – AnNuur : 26

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s