Menuju Ramadhan Terindah

Ramadhan adalah tamu kehormatan. Beragam cara orang menyambut tamu itu. Ada yang senang, ada yang gelisah kalau ia tak punya apa-apa untuk menyambutnya dan ada pula yang tak peduli. Namun yang lebih mengherankan lagi, ada pula yang tak tahu bahwa ia telah kedatangan tamu, telah masuk di rumahnya dan didiamkan begitu saja. Sikap tak terpuji dalam menyambut tamu kehormatan itu, hanya akan membuatnya kecewa dan marah. Lalu bagaimana caranya agar kedatangan tamu agung itu dapat membawa kebahagiaan? Di sini pentingnya mempersiapkan keimanan kita menuju Ramadhan terindah sepanjang hayat.

 Sepuluh Hari Pertama.Saat awal kedatangan tamu biasanya kondisi hari kita bahagia dan berbunga-bunga. Karena tamu membawa banyak cerita bahagia dan kabar gembira. Kitapun terhibur dengan ragam pahala dan keutamaan Ramadhan. Karenanya Ramadhan disebut bulan rahmat untuk menebar aroma kegembiraan. Oleh karena itu, pada saat-saat awal inilah seluruh umat islam perlu memupuk semangat ibadah, semangat mencari ilmu agar rahmat yang Allah sediakan dapat kita raih. Caranya, siapkan susana hati yang gembira dalam ibadah. Bangun rasa cinta untuk menunaikan amalan sunnah. Karena Ramadhan bukan sebagai beban tapi kebutuhan. Semangat kecintaan ibadah di sepuluh hari pertama, sebaiknya kita pupuk demi menyongsong dua puluh hari berikutnya. Caranya dengan memperbanyak wawasan tentang keutamaan, hikmah dan keistimewaan Ramadhan dari berbagai sudut pandang. Sisi ekonomi, psikologi, kesehatan, sosial, dan pendidikan. Ini berguna untuk menumbuhkan kesadaran, agar kita menjalankan ibadah itu dengan sepenuh hati dan disandarkan pada pengetahuan yang benar. Sepuluh Hari Kedua.

Biasanya mulai agak bosan. Barisan shalat berjamaah mulai mengalami ‘kemajuan’. Layaknya kompetisi, babak penyisihan diikuti peserta yang sedemikian banyak, namun di babak berikutnya mulai berguguran. Dan hanya menyisakan para jawara di babak akhirnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tamu ‘Ramadhan’ mulai membuat bosan penghuni rumah. Di sinilah perlunya ketahanan stamina keimanan yang baik agar inovasi dan kreatifitas dalam ibadah dapat tercipta. Mulailah membuka komunikasi, berdialog dan berdiskusi agar antara kita dan ‘tamu’ Ramadhan dapat saling terbuka untuk memaafkan. Maka Nabi, menyebut sepuluh hari kedua ini sebagai bulan Maghfirah. Sehingga amal yang tepat adalah dengan memperbanyak mohon ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan dan kekhilafan kita dalam ibadah yang kurang sempurna.

 Sepuluh Hari Ketiga.Adapun paruh yang ketiga adalah bulan dijauhkannya manusia dari api neraka. Biasanya yang tertarik untuk ibadah di tahap ini semakin sedikit. Karena yang lazim, kalau tamu mau pulang hati akan senang sebab ia menyita waktu kita dan mengekang keinginan kita. Dan tamu yang baik tentu akan meninggalkan kesan, pesan dan juga hadiah. Sehingga kita merasa sayang untuk berpisah. Begitulah di penghujung Ramadhan, aneka hadiah telah tersedia. Lailatul Qadar yang istimewa disediakan bagi mereka yang siaga meraihnya. Malam yang lebih indah dari seribu malam, seperti tamu yang akan memberikan grand prize-nya. Sehingga yang harus kita lakukan adalah harus menempel ketat tamu itu dan jangan dibiarkan sendiri hingga terlantar di penghujung kepergiannya. Sebab, bisa jadi kita gagal mendapatkan hadiahnya yang akan diberikan kepada orang-orang pilihannya. Caranya, perbanyaklah amalan sunnah seperti yang dicontohkan Rasulullah yakni I’tikaf di masjid, perbanyak membaca Al-Quran, dzikir, shalat sunnah dan ibadah lain yang bisa mengakrabkan kita denganNya. Inilah pentingnya menjaga stamina keimanan agar kita bisa mencapai puncak ibadah Ramadha hingga di penghujungnya. Sehingga kita bisa meraih keberkahan dan keutamaan sepanjang Ramadhan, mendapatkan Lailatul Qadar, dan meraih kesucian di Idul fitri. Itulah puncak kebahagiaan berkah hidup dunia dan bekal di akhirat nantinya. 

Disarikan dengan sedikit perubahan dari buku :Manajemen Ramadhan, Menuju Ramadhan Terindah.

Karya Solikhin Abu ‘Izzuddin.

Penerbit Bina Insani Press, 2005.

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s