Semburat Cahaya Mulia yang Teraniaya

Oleh : Lufti Avianto 

 

Pagi itu di penghujung bulan Sya’ban, aku sempat mengintip sebahagian bayangan bulan mulia yang menyembul dari balik surya keemasan. Penampilannya agak berbeda tak seperti biasanya. Begitu muram walau tetap menyimpan semangat dan kemuliaan yang sama dari tahun sebelumnya. Tak ada yang berubah pada kemuliaannya.

Ku sempatkan mengobrol sejenak di pagi cerah itu, sekadar menanyakan kabarnya walau nampak basa-basi. Namun, aku tak mengira jawaban yang meluncur saat itu. Kekecewaan, sebuah kata yang amat berat penilaian dirinya terhadap mereka yang menyambut kehadirannya beberapa saat lagi.

Ya, sang bulan mulia itu kecewa melihat tingkah polah manusia yang menyambut Ramadhan dengan dingin. Sekedar rasa bahagia pun tak sempat menghampiri jiwa mereka. Padahal rasulullah memberikan isyarat, barangsiapa yang merasa gembira dengan kedatangan Ramadhan, maka diharamkan tubuhnya untuk dijilat api neraka.

Menyambutnya pun tidak, apalagi merayakan saat ia berada di sisi selama sebulan? Tak ada persiapan, dan ramadhan berlalu begitu saja. Ramadhan tergugu dan bisu sambil memikirkan, perayaan apa yang akan disiapkan baginya oleh manusia pandir untuk sekedar memohon karuniaNya.

Dua isyarat pada Rajab dan Sya’ban sebelumnya, bukan menjadi ajang warming up bagi manusia, namun hanya sepi dari kemeriahan ruhani. Ia, hanya seberkas cahaya yang nampak dengan jelas disiakan oleh penikmat gelap gulita dunia. Seperti dianiaya dalam kerangkeng keterasingan ibadah, Ramadhan kini hanya menjadi pengangguran di tengah kesibukan kerja duniawi semata.

Begitulah, sang rembulan mulia itu berkisah tentang nasib dirinya kini. Lemah lunglai tak bertenaga. Sedikit banyaknya, aku malu dengan apa yang diutarakannya. “Kebanyakan manusia masih bertahan dari kegelapan ukhrowi dan kesepian berdua denganNya melalui perantaraanku,” begitu ucapnya lirih.

Ia mengeluh padaku dan menceritakan semua kesedihannya padaku. Pada orang yang menurutku tak tepat, karena sebagian besar manusia yang dimaksud adalah aku. Aku yang masih gemar lari menjauhiNya, merusak Asma SuciNya, mengangkangi risalahNya, bahkan di waktu-waktu mulia sekalipun seperti Ramadhan.

Dan aku, mungkin salah satu penghuni kegelapan ruhani itu. Menolak semburat cahaya yang teramat mulia, dengan berbagai ketidakpedulian dan apologi atas kemaksiatan diri. Tapi setidaknya, dari obrolan ringan di pagi itu, aku menjadi tahu dengan apa aku sang penduduk kegelapan hati, menyambut kehadiran Ramadhan mulia dengan sekuat nafasku yang tersisa di akhir Sya’ban ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s