Sudahkah Kita Memanusiakan Manusia?

Oleh : Lufti Avianto

Telah menjadi sebuah kesepakatan umum dan tak ada pertentangan atasnya, kalau makhluk yang dinamakan manusia itu berciri-ciri berjalan dengan kedua kakinya, mampu berkomunikasi, berbudaya, memiliki naluri, budi, rasa, empati, dan yang paling penting : memiliki dan menggunakan akalnya. Tanpa itu semua, mustahil sebuah wujud makhluk bisa disebut sebagai ‘manusia’.

 

Atau kalu masih bingung dengan definisi manusia, biarkan saya mengutip statement dari situs wikipedia :

Manusia dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan. 

Intinya, manusia tak seperti makhluk lainnya. Tak seperti hewan, tumbuhan apalagi batu! Manusia mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang salah dan yang benar atau kalau manusia muslim seperti kita, bisa membedakan mana yang halal dan yang haram dan yang ma’ruf dengan yang munkar. Manusia juga makhluk yang unik, ia bisa lebih mulia daripada malaikat, atau lebih rendah dari binatang ternak sekalipun bila tak mampu mengendalikan hawa nafsunya.

 

Sepertihalnya anda, saya, dan ‘makhluk’ lain yang sama wujudnya adalah manusia. Namun permasalahannya, tidak semua manusia mampu memanusiakan manusia lainnya atau bahasa simple-nya tak semuanya bisa memperlakukan sesamanya secara manusiawi!. Lho kok? Padahal, manusia itu telah diperintahkan untuk berbuat baik dengan sesamanya, dengan hewan, tumbuhan, serta alam tempat dimana ia hidup. Sebagaimana yang difimankanNya :

 Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qoshosh : 77). 

Namun pada kenyataannya, tak semua manusia mampu melaksanakan perintah Allah Swt itu. Perintah yang menganjurkan untuk berbuat baik (atau lebih tepatnya berbuat adil) kepada sesama dan alam untuk dijaga. Karena adil itu lebih dekat dengan takwa :

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Maaidah : 8) 

Pernahkah kita berbuat adil dan memposisikan manusia sesuai fitrahnya sebagai manusia? Sepertihalnya bila anda memiliki dua anak yang berbeda usia. Dalam hal materi, anda akan memberikan jumlah yang berbeda bagi mereka bukan? Misalnya Rp 50.000 bagi anak yang sudah kuliah, jumlah itu sangat pantas bila mengingat kebutuhannya yang banyak : ongkos, makan siang, fotokopi catatan, nge-print tugas, rental komputer, atau rental internet untuk cari informasi sebagai bahan paper. Namun, apakah anda akan memberikan jumlah yang sama kepada anak anda lainnya yang duduk di bangku SD? Tentu tidak, karena adil bukan berarti sama, tetapi adil itu sesuai dengan tempatnya. Bagi anak yang jauh lebih muda, kebutuhannya juga mungkin jauh lebih sedikit. Dengan Rp.5000 saja mungkin sudah cukup untuk beli kertas ulangan atau jajannya di sekolah. Namun apa yang akan terjadi bila sang anak SD diberikan Rp.50.000? anda sudah bisa membayangkan dampaknya bukan? Itu baru dari sisi materi, belum lagi soal kasih sayang, perhatian, pembebanan tanggung jawab, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana bila kita bekerja di sebuah lembaga yang berembel-embelkan ‘kemanusiaan’? sudahkah kita memperlakukannya sebagai manusia? Atau dalam bahasa Qur’annya, sudahkah kita berbuat adil? Karena adil lebih dekat dengan takwa. Tentunya dengan melihat seluruh aspek keadilan : beban kerja, penilaian, de-el-el 

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An-Nahl : 90).

One thought on “Sudahkah Kita Memanusiakan Manusia?

  1. Bukankah salah satu yang mendapatkan naungan Allah di hari akhir nanti adalah pemimpin yang adil? Dan setiap kita sebenarnya adalah pemimpin kan? So…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s