Belajar dari Balik Bukit Uhud

Oleh : Lufti Avianto. 

Wajah-wajah bengis kaum Kafir Quraisy jelas tergambar saat Perang Uhud dimulai. Mereka berniat menjadikan perang ini sebagai pembalasan atas sakit hati mereka yang kalah pada Perang Badar oleh kaum Muslimin. Namun strategi yang digunakan kaum Muslimin, ternyata mampu efektif pada masa permulaan perang, yakni menempatkan pasukan pemanah di Bukit Rumat yang strategis untuk menghalau kaum kafir Quraisy.

Pasukan kaum kafir yang dikomandoi Khalid bin Walid tak mampu menandingi kehebatan kaum Muslimin.  Setelah kaum Kafir dibuat kocar-kacir, kaum Muslimin tak menyiakan kesempatan ini untuk menangkapi musuh yang kabur dan sebagian lagi mengumpulkan ghanimah (harta rampasan perang) yang terdiri dari senjata, perhiasan dan panji-panji.

Melihat kemenangan ini, pasukan pemanah yang berada di atas bukit merasa tergiur. Tarikan-tarikan nafsu dunia begitu menggoda mereka. Kekhawatiran mereka tidak mendapatkan bagian ghanimah membuat mereka meletakkan busur-busur panah dan turun dari bukit untuk ikut mengumpulkan ghanimah yang ditinggalkan kaum Kafir. Padahal sebelum perang, pasukan pemanah sudah diperingatkan oleh Rasulullah untuk tidak meninggalkan bukit itu, walau apapun yang terjadi di medan pertempuran. 

Kontan saja, kemenangan kaum Muslimin yang sudah berada di depan mata hilang ditelan kelalaian. Khalid bin Walid yang jeli melihat celah ini, balik melakukan penyerangan mematikan bersama pasukannya dari balik bukit Rumat secara mendadak. Kaum Muslimin yang tengah mabuk kemenangan dibuat limbung dan tercerai-berai. Akibatnya, kaum Muslimin menderita kekalahan dengan tewasnya 70 sahabat. 

Dari kisah Uhud, kita mendapatkan banyak pelajaran. Bahwa Allah SWT mempergilirkan setiap kondisi sebagaimana roda, antara kalah-menang, suka-duka dan sebagainya. Ini semua diberikan untuk menguji hamba-hamba Allah. Dan kekalahan yang dialami kaum Muslimin, bukan semata-mata kehendak Allah tetapi juga disebabkan kelalaian pasukan pemanah.

Atau dalam kata lain, setiap kondisi buruk yang menimpa kita, tidak semata-mata atas izinNya, namun di balik itu semua pasti ada kelalaian dan kesalahan manusia.  Lihat saja bagaimana bencana yang terjadi menimpa Indonesia secara bertubi-tubi, mulai dari tsunami, gempa bumi, tanang longsor, dan banjir bandang di berbagai tempat. Hal ini, sejatinya adalah akibat kemaksiatan dan ulah manusia tamak yang mengambil keuntungan di atas kerusakan alam. Hutan-hutan digunduli, sampah dan limbah pabrik menjejali sungai-sungai kota, dan perbuatan lainnya yang dapat melahirkan bencana. Lalu, apakah kita akan menyalahkan Allah SWT atas tindakan destruktif yang tanpa disadari telah kita lakukan terhadap nikmat alamnya? Ratap tangis saja takkan cukup untuk menyesali musibah yang telah dialami bangsa ini. Taubat, adalah jalan terbaik untuk memohon ampun kepadaNya disertai dengan semangat kepedulian untuk meringankan beban mereka yang menjadi korban bencana dari sebagian kita yang lalai terhadap perintahNya. Wallahu’alam bish Showab.

2 thoughts on “Belajar dari Balik Bukit Uhud

  1. Semoga kita tdk terlambat utk bertaubat dan semoga Allah masih memberi waktu utk kita ber-introspeksi diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s