Gizi dan Kualitas Generasi Indonesia

p828gf0145.jpg

oleh : Ir. Alwan Bukhori

Manajer Layanan Gizi PKPU

Bagi pembaca yang ingin berkonsultasi masalah gizi bisa di-email ke box_alwan@yahoo.com

Masalah gizi kurang dan buruk hingga kini masih merundung Indonesia. Segenap upaya telah dilakukan pemerintah, namun belum menampakkan hasil yang signifikan. Bahkan, fenomena terakhir menunjukkan adanya peningkatan prevalensi masalah gizi yang lebih serius. Data Susenas 2005 menunjukkan, terdapat 28% berstatus gizi kurang dan 8,8% berstatus gizi buruk dari 18 juta balita. Krisis ekonomi, merosotnya nilai rupiah dan bencana alam yang beruntun, menjadi pemicu meningkatnya masalah ini. Berbagai penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara status gizi dengan kecerdasan anak. Otak dan jaringan syaraf berkembang sangat cepat sejak janin hingga bayi lahir. Sepuluh bulan setelah kelahiran, pertumbuhan otak dan jaringan syaraf tersebut berkembang dan akan maksimal (100%) setelah usia 2 tahun. Kemudian dilanjutkan perkembangan sel otak dan jaringan syaraf hingga usia 60 bulan atau masa balita berakhir. Jika dalam masa bayi dan balita (critical periode) gizi anak tak tercukupi, akan berakibat terhambatnya proses tumbuh kembang anak. Ini ditandai dengan sel otak yang tak tumbuh dengan sempurna dan kecerdasan anak menjadi rendah. Oleh karena itu, upaya perbaikan status gizi yang cepat dan tepat menjadi hal yang sangat mendesak dilakukan. Tabel di bawah ini menjelaskan pengaruh status gizi kurang dan buruk terhadap proses tumbuh kembang sel otak.

Berbagai Upaya

Penanganan masalah ini melalui Posyandu ternyata belum berjalan dengan baik. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Posyandu, belum sampai meningkatkan kualitas makanan bergizi agar balita dapat bertumbuh-kembang dengan sehat. Penanganan lain juga dilakukan pemerintah, seperti pemberian susu kepada balita memang sangat berarti, tetapi belum menyentuh akar permasalahan sebenarnya. Keluarga balita penerima susu itu akan menyetop pemberian susu seiring dengan berhentinya pemberian susu dari pemerintah. Karena setiap program bantuan yang tidak mengedepankan pembinaan masyarakat dapat berdampak buruk bagi penerima program. Masyarakat akan terbiasa menunggu bantuan tanpa terlebih dahulu berusaha menangani masalahnya sendiri. Sehingga muncul penyakit baru di masyarakat yaitu “kebudayaan menunggu bantuan tanpa berusaha” (cargo cult mentality). Munculnya masalah gizi bukan saja disebabkan masalah pangan dan kesehatan, melainkan beragam masalah, seperti kemiskinan, kondisi kesehatan anak dan lingkungan, perilaku konsumsi, perilaku pengasuhan, pendidikan, dan lain-lain. Maka penanganan masalah gizi ini harus dilakukan secara multidimensi dan holistik dengan mengedepankan community development dalam pelaksanaan programnya. Dengan demikian secara bertahap dan kontinyu, penyelesaian masalah gizi dapat berangsur-angsur berkurang dan resiko masalah gizi berupa lost generation dapat diminimalisasi, kualitas SDM pun menjadi unggul. Insyaallah.

Posted in Uncategorized

One thought on “Gizi dan Kualitas Generasi Indonesia

  1. Assalaamuaalikum wr.wb

    Bagaimana khabarnya Akhi, ana Agus Kurnia..alumni pondok HAMAS..Alhamdulillah sejak 96 jadi dosen Perikanan di Univ. Haluoleo Kendari…Solowesi Tenggara

    emailku : fatmi_70@yahoo.com
    Hp : 085341503590

    Alhamdulillah isteri anaknya 3…he…he…
    Salam kangen. neh…

    Terakhir ketemu waktu 98 kali yah di Bandung waktu peresemian Garda Keadilan…

    Wass.wr.wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s