Setiap Kita Punya Monumen Kebaikan

Oleh : Lufti Avianto

Lihatlah diri kita hari ini. Perhatikan tiap lekuk diri dan tabiatnya. Perangai dan sikap. Watak dan karakter. Juga fisik dan tekstur hati di dalamnya. Kemudian, renungkanlah tentang diri kita, peran kita, kontribusi juga atribut lain yang membawa kita pada kebaikan. Siapapun kita, adalah hasil rekontruksi pengalaman dan pendidikan yang kita ecap sebelumnya di masa lalu.

Si tukang semir, akan berkarya dengan kemampuannya. Menyemir sepatu setiap hari, tidak hanya untuk makan sehari-hari tetapi lebih dari itu. Ia membuat sepatu-sepau berkilap dan enak dipandang mata. Sepatu pejabatkah, karyawan, pegawai negeri bahkan siapapun mereka yang ingin tampil necis dan rapi. Dan dengan itu, si tukang semir memiliki monumen kebaikan yang dapat dibanggakan, sepatu-sepatu yang berkilap.

Atau sesekali, longoklah si penjaga pintu kereta api. Begitu remeh nampak pekerjaannya. Tak memerlukan keahlian khusus. Tak perlu mengenal komputer apalagi ijazah sarjana strata satu. Syaratnya cuma satu, yang penting mau menunggu kereta dengan jadwal yang sudah ditetapkan, entah malam atau siang.

Pekerjaannya pun terbilang sederhana kalau tak pantas disebut monoton. Hanya menunggu intruksi lewat radio akan kedatangan kereta, lalu menutup palang perlintasan jalan agar para pengguna jalan tak melaluinya. Selesai.

Namun, pernahkah kita tahu bahwa di Indonesia masih banyak lintasan kereta yang tak dijaga?. Akibatnya, banyak nyawa yang melayang sia-sia dari kecelakaan kereta dengan mobil atau motor yang melintasinya.

Ada lagi penyapu jalanan. Setiap pagi, ia bangun sebelum ayam berkokok dan matahari menyapa manusia. Dalam gelap dan dingin pagi yang masih dini, menggigiti mereka menyusuri jalan-jalan dan trotoar yang kotor dengan sampah hari kemarin.

Sapu yang mereka genggam, adalah kebaikan yang mengalir pagi itu menjelang matahari meninggi. Dan begitu setiap hari, tanpa presensi. Sehingga, setiap hari yang mereka lalui adalah keindahan hari buat kita saat melalui jalan-jalan dan trotoar kota yang bersih. Dan membuat kita begitu bersemangat ketika berangkat ke kantor setiap pagi.

Siapapun kita, anda ataupun saya. Pekerjaan kita, status kita atau titel kita dalam himpunan masyarakat yang luas sekalipun adalah pengrajin-pengrajin dalam monumen kebaikan. Tukang semir sepatu atau penjaga pintu lintasan kereta hanyalah potret kecil dari kalangan masyarakat yang kerap dimarjinalkan, namun memiliki monumen kebaikan yang dapat dibanggakan.

Tak dipungkiri, kelak saat di Hari Penghisaban Allah SWT akan memanggil mereka dengan sebutan yang paling indah, Ahli Kebaikan. Kemudian, dihadapkan kepada mereka monumen kebaikan yang tinggi menjulang nan indah yang mampu membuat iri jutaan manusia lainnya.

Lalu, bagaimana dengan para pemimpin, pengusaha, eksekutif muda, dan direktur yang memimpin sebuah perusahaan kebaikan? Seharusnya, di tangan-tangan merekalah kebaikan itu menjadi sebuah komoditi utama setiap pribadi muslim yang hanif. Kebaikan yang menjadi barang konsumsi utama namun tak langka atau mahal yang dapat dijangkau masyarakat miskin sekalipun. Sehingga, setiap kita memiliki monumen kebaikan yang patut dibanggakan di hadapanNya kelak. Insya Allah.

Advertisements

Styrofoam Berbahaya

Beberapa tahun lalu, Mc Donalds mengumumkan akan mengganti wadah styrofoam dengan kertas. Para ahli lingkungan menyebutkan keputusan itu sebagai ”kemenangan lingkungan” karena styrofoam sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.

Namun bukan berati styrofoam (polystyrene) jadi berkurang dan hilang. Malahan di Indonesia, penggunaan styrofoam sebagai wadah makanan makin menjamur. Sangat mudah menemukannya dimana-mana. Mulai dari restoran cepat sampai ketukang-tukang makanan di pinggir jalan, menggunakan bahan ini untuk membungkus makanan mereka. Alasannya, ingin praktis dan tampil lebih baik. Padahal di balik kemasan yang terlihat bersih itu ada bahaya besar yang mengancam.

Dalam industri, styrofoam sering digunakan sebagai bahan insulasi. Bahan ini memang bisa menahan suhu, sehingga benda didalamnya tetap dingin atau hangat. Karena bisa menahan suhu itulah, akhirnya banyak yang menggunakannya sebagai gelas minuman dan wadah makanan.

Berbahaya Bagi Kesehatan. Mengapa styrofoam berbahaya? Styrofoam jadi berbahaya karena terbuat dari butiran-butiran styrene, yang diprosese dengan menggunakan benzana. Padahal benzana termasuk zat yang bisa menimbulkan banyak penyakit.

Benjana bisa menimbulkan masalah pada kelenjar tyroid, mengganggu sistem syaraf sehingga menyebabkan kelelahan, mempercepat detak jantung, sulit tidur, badan menjadi gemetaran, dan menjadi mudah gelisah. Dibeberapa kasus, benzana bahkan bisa mengakibatkan hilang kesadaran dan kematian.  saat benzana termakan, dia akan masuk ke sel-sel darah dan lama-kelamaan akan merusak sumsum tulang belakang. Akibatnya produksi sel darah merah berkurang dan timbullah penyakit anemia. Efek lainnya, sistem imun akan berkurang sehingga kita mudah terinfeksi. Pada wanita, zat ini berakibat buruk terhadap siklus menstruasi dan mengancam kehamilan. Dan yang paling berbahaya, zat ini bisa menyebabkan kanker payudara dan kanker prostat.

Beberapa lembaga dunia seperti World Health Organization‘ s International Agency for Research on Cancer dan EPA (Enviromental Protection Agency) styrofoam telah dikategorikan sebagai bahan carsinogen(bahan penyebab kanker)

Makin Berlemak Makin Cepat. Saat makanan atau minuman ada dalam wadah styrofoam, baham kimia yang terkandung dalam styrofoam akan berpindah ke makanan. Perpindahannya akan semakin cepat jika kadar lemak (fat) dalam suatu makanan atau minuman makin tinggi. Selain itu, makanan yang mengandung alkohol atau asam (seperti lemon tea) juga dapat mempercepat laju perpindahan.

Penelitian juga membuktikan, bahwa semakin panas suatu makanan, semakin cepat pula migrasi bahan kimia styrofoam ke dalam makanan. Padahal di restoran-restoran siap saji dan di tukang-tukang makanan di pinggir jalan, styrofoam digunakan untuk membungkus makanan yang baru masak. Malahan ada gerai makanan cepat saji yang memanaskan lagi makanan yang telah terbungkus styrofoam di dalam microwave. Terbayang, kan, betapa banyaknya zat kimia yang pindah ke makanan kita dan akhirnya masuk ke dalam tubuh kita.

Buruk Bagi Lingkungan. Selain berefek negatif bagi kesehatan, styrofoam juga tak ramah lingkungan. Karena tidak bisa diuraikan oleh alam, styrofoam akan menumpuk begitu saja dan mencemari lingkungan. Styrofoam yang terbawa ke laut, akan dapat merusak ekosistem dan biota laut. Beberapa perusahaan memang mendaur ulang styrofoam. Namun sebenarnya, yang dilakukan hanya menghancurkan styrofoam lama, membentuknya menjadi styrofoam baru dan menggunakannya kembali menjadi wadah makanan dan minuman.

Proses pembuatan styrofoam juga bisa mencemari lingkungan. Data EPA (Enviromental Protection Agency) di tahun 1986 menyebutkan, limbah berbahaya yang dihasilkan dari proses pembuatan styrofoam sangat banyak. Hal itu menyebabkan EPA mengategorikan proses pembuatan styrofoam sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia. Selain itu, proses pembuatan styrofoam menimbulkan bau yang tak sedap-yang mengganggu pernapasan-dan melepaskan 57 zat berbahaya ke udara.

Melihat sedemikian besar dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan, beberapa kota di Amerika seperti Berkeley dan Ohio telah melarang penggunaan styrofoam sebagai kemasan makanan. Bagaimana dengan kita di Indonesia, masih tetap mau memakai styrofoam?? Bagaimana dengan anda dan Keluarga anda? akankah berlaku bijak dengan tidak menggunakan styrofoam. Mari selamatkan bumi disekitar kita ……..

Kematian Soeharto ; Antara Kontroversi, Penegakan Hukum, Pelurusan Sejarah dan Kemanusiaan.

Gajah mati meninggalkan gading,

harimau mati meninggalkan belang,

manusia mati meninggalkan… kontroversi!

Pepatah ini mungkin tepat untuk menggambarkan sosok mantan presiden RI kedua, H.M Soeharto. Setelah kematiannya pada 27 Januari 2008 lalu, pemberitaan seperti tak henti-hentinya mengabarkannya di media cetak, online dan elektronik. Kematiannya, selain diliputi kedukaan dari para kerabat dan keluarga juga menyisakan kontroversi atas kasus korupsi dan HAM yang sampai saat ini tidak jelas atau menggantung begitu saja.

Beberapa pihak bisa kita lihat di media, begitu bersimpati dan turut berduka cita. Atau ada juga yang mengenang jasa-jasanya sebagai ‘Bapak Pembangunan’ atas republik ini. Namun tak sedikit pula yang menghujat dan tetap mengkritik meski kuburan mantan jenderal bintang lima ini belum kering.

Seperti Gus Dur yang juga mantan RI1 ini yang menuding Presiden SBY terlalu berlebihan dengan menetapkan 7 hari setelah kematiannya sebagai hari berkabung nasional dengan menaikkan bendera setengah tiang. Ada lagi, Amien Rais yang dikalim media sebagai “Pengkritik Setia Soeharto” sejak 1998 hingga Soeharto wafat. Amien tetap ngotot minta proses hukum Soeharto tetap dilakukan dan menyeret kroni-kroninya yang masih hidup untuk dijatuhi hukuman.

Setidaknya menurut saya, ada dua pendekatan dalam penanganan kasus Soeharto. Pertama, pendekatan kemanusiaan. Ini perlu dilakukan sebab melihat kondisinya yang sakit sejak 4 Januari silam dirawat di RSPP, Jakarta. Pada masa itu, tak perlu dulu membicarakan ‘proses damai’ kepada pihak keluarga. Biarkanlah keluarganya mengupayakan yang terbaik buat Soeharto yang kondisinya kian kritis kala itu. Jadi, manuver Jaksa Agung Hendarman Supandji tak perlu diralat SBY sebagai upaya mencari ‘win-win solution’. Memalukan.

Kedua, pendekatan hukum. Bahwa hukum adalah berlaku bagi setiap warga negara tanpa terkecuali. Tak pandang bulu, apakah dia tukang becak, tukang sapu, babu, kaum gay, pelacur, PNS, pengusaha, bahkan pejabat sekaliber menteri, anggota dewan dan presiden bila ia melanggar wajib diproses secara hukum. Itu namanya KEADILAN. Kita tahu, bahwa penegakan hukum di negeri ini masih “tebang pilih” dan berat sebelah bagi masyarakat kecil dan melarat yang tak mampu membeli hukum di atas meja sekalipun. Yang tak mampu membeli pasal-asal KUHP jaksa dan hakim di meja hijau. Itulah hukum.

Bagi kasus Soeharto, menurut hemat saya harus tetap dijalankan demi tegaknya supremasi hukum. Demi keadilan hukum dan demi kewibawaan hukum. Sehingga memberikan efek jera dan preventif bagi pelaku pelanggaran hukum apapun bentuknya, dari yang ringan hingga yang berat sekalipun. Meski sudah meninggal, tak ada salahnya jika kasus itu tetap diusut, sehingga kita bisa menyelamatkan sejarah Indonesia dari kontroversi dan ‘kegagapan’ dalam menatap masa depan.

Sekali lagi, upaya itu tetap harus dilakukan. Jangan sampai, keadilan ALLAH SWT yang akan berbicara dan akan menyelesaikan kasus ini di akhirat kelak dengan hisab yang berat. Na’udzubillah.

Saya jadi teringat dengan sebuah lelucon saat SD dulu. Suatu saat, ALLAH akan menghukum para koruptor dengan merendamnya di kolam luas dan dalam yang berisi kotoran manusia. Begitu menjijikkan. Seluruh koruptor dari mancanegara dan pelosok manapun telah direndam dan tak kelihatan lagi batang hidungnya. Namun aneh, hal ini tidak berlaku bagi Soeharto yang hanya direndam sebatas dengkulnya. Apakah dosa Soeharto sedikit? Ternyata tidak, dia diselamatkan kroni-kroninya yang bertumpuk di bawah kakinya… hehehee… 😀

Kaderisasi untuk Progresifitas Keislaman (bagian 2)

 

Fenomena nabi Zakaria As. yang mewariskan kenabian kepada putranya Yahya As, padahal kondisi isteri Zakaria tidak memungkinkan untuk memiliki anak atau mandul, namun hal itu dijawab oleh Alloh SWT dengan sebuah kelahiran Yahya yang akan meneruskan risalah kenabian sang ayah disebabkan ketidakpercayaannya atas kejahilan kaumnya sendiri. Ini artinya, regenerasi atas tugas dakwah adalah yang utama ketimbang prestise sekedar meneruskan keturunan belaka sebagai sesuatu yang tidak dapat dibanggakan.

Padahal, hari ini masyarakat kita lebih membusungkan dada ketika keturunannya mampu mewariskan perusahaan milik keluarganya.tak ada lagi bekas jejak keimanan yang akan diwariskan kepada keturunannya kelak, sehingga apabila hal ini berada di mayoritas kepala masyarakat kita, wajar saja apabila keterbelakangan dan kemunduran keimanan itu terjadi. Sementara benteng utama keluarga yang seharusnya berfungsi melahirkan jundi-jundi militant yang akan membela islam dalam garda terdepan, itu mengalami kerusakan yang amat fatal terhadap orientasi dan arah kemana anak-anak mereka akan diwarnai. Sementara, pendidikan yang dijanjikan beberapa ormas islam di Indonesia sejak Republik tercinta ini berdiri, hanya mengumbar janji-janji kosong terhadap pembentukan watak dan mentalitas anak negeri yang tangguh, yang mampu melawan isme-isme menyesatkan orientasi berfikir kita di masa depan. Apakah kita akan mempercayakan kepada organisasi seperti ini? Tentu saja tidak. Lalu apa jawaban dari keraguan akan tegaknua sebuah perbaikan massif yang kini menggelayuti sebagian besar umat islam? Adalah sebagaimana yang digariskan oleh Alloh dalam sebuah firmanNya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(At-Tahriim:6).

 

Hal ini jugalah yang dengan bijak diusahakan Ikhwan dalam setiap pekik perjuangannya, bahwa perubahan itu dilakukan dengan bottom up, dari bawah ke atas. 1. Atas pribadi-pribadi yang tertarbiyah dengan shahih, 2. Keluarga / rumah tangga islami, 3. Masyarakat, 4. Pemerintah, 5. Daulah islamiyah, 6. Tegaknya Daulah Islamiyyah dan Khilafah Islamiyyah, 7. Dunia universal yang taklakuk di bawah panji islam. Seandainya, setiap pribadi memiliki kesadaran akan pentingnya sebuah perbaikan seperti ini, sudah barang tentu dan bukan sebuah kemustahilan tujuan dan cita-cita islam segera terwujud. Namun, ketika yang terjadi adalah sebuah kemalasan akan pengorbanan, kejumudan dalam beramal, dan ketidakpercayaan akan keniscayaan pertolongan Alloh terhadap para walinya, maka yang akan terjadi pada episode berikutnya terhadap perjuangan islam adalah :

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui (Al-Maa-idah : 54)

Kaderisasi untuk Progresifitas Keislaman (bagian 1)

Ketika kita duduk bersama hari ini, dan membicarakan dakwah sebagai objek pembicaraan, maka ada satu bagian yang paling menarik darinya, yaitu kaderisasi. Kaderisasi adalah bagian yang menentukan umur sebuah organisasi, akan panjang dan akan membahana gaungnya dengan kader-kader tangguh yang mengusungnya, atau berakhir pada sebuah catatan singkat sejarah berdirinya organisasi itu. Tentunya islam, adalah bagian yang kita bicarakan kelangsungannya, akan terus berkibarkah panji dakwah di tangan para pembelanya? Atau harus Allah ganti dengan golongan yang lebih baik lagi.

Namun, sebelum kita membahas lebih jauh lagi, kita harus mengetahui apa itu kaderisasi dan tugas-tugasnya. Setidaknya, kita bisa memahami pengertian kader sebagai perwira, atau jundi. Sehingga makna kaderisasi adalah proses pembentukan seorang perwira yang akan meneruskan nilai-nilai perjuangan suatu golongan tertentu. Namun, hal ini tidak terbatas pada sebuah organisasi saja, bahkan pengertian kaderisasi juga bisa ditempatkan ke dalam pengertian yang lebih luas lagi, bahkan organisasi sekelas keluarga sekalipun.

Berbicara mengenai tugas kaderisasi, setidaknya ada sebuah pola lazim yang sudah menjadi rahasia umum dan berlaku secara organisatoris, yakni melahirkan kader (merekrut/recruitment), mendidik (pembinaan/tarbiyah), merawat (maintenance) dan mewarnai (shibghoh).
Sebuah hal yang wajar dan sangat biasa untuk menentukan sepanjang apa riwayat sebuah organisasi ditorehkan, maka ia perlu dilanjutkan nilai-nilai perjuangan, sehingga melahirkan kader-kader baru yang lebih baik mutlak diperlukan demi kelangsungan organisasi tersebut. Kemudian, setelah kader-kader baru didapatkan, tahap selanjutnya adalah mendidik melalui nilai-nilai yang akan ditempatkan pada semua aspek yang syamil (ruhiyah, fikriyah, jasadiyah).

Kemudian sequel perawatan, adalah usaha organisasi untuk menjaga kadernya dalam taraf kualitas tertentu pada waktu tertentu. Jadi, ada sebuah targeting dan arah pembinaan yang berkala dan memegang teguh asas istimroriyah dalam menyiapkan kader yang berkualitas di masa yang akan datang. Tetapi hal ini bukan saja bagian suplemen penguat belaka, tetapi juga perawatan dari sebuah kondisi yang memprihatinkan (futur) untuk diterapi dan diatasi seandainya menimpa kader-kadernya.

Dan yang terakhir adalah pewarnaan. Proses ini tidak berlangsung ketika semua tugas-tugas itu dilalui, namun jalannya beriringan dengan tugas yang lainnya. Pewarnaan (shibghoh), atau biasa kita kenal dengan proses indoktrinasi nilai ke dalam jiwa kader untuk menjadikan sebuah nilai sebagai falsafah hidupnya, adalah sebuah proses yang kita rencanakan dalam menentukan ‘warna atau corak’ khas bagi orang yang akan mendukung suatu golongan tertentu. Sebagaimana Alloh firmankan di dalam Al-Quran yang mulia :
Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. ( 2:138 ).

Perjuangan Islam, Jangan Terkooptasi (bagian 2)

Fenomena Ikhwanul Muslimin.

Kala itu, Hasan Al-Banna belum genap berusia 23 tahun. Ia hanyalah guru ibtidaiyyah, yang tak seorang pun memandangnya berguna. Namun sejarah kemudian berbangga dengan fenomenalnya organisasi yang mendunia, yang manhajnya berada di 70 negara hingga hari ini. Ditemani Hafidz Abdul Hamdi yang seorang tukang kayu, Ahmad Al-Hushary seorang tukang cukur, Fuad Ibrahim sebagai tukang setrika, Ismail Izz sebagi tukang kebun, Zaki Al-Maghriby sang montir sepeda, dan Abdurrahman Hasbullah sebagai sopir. Mereka bukanlah siapa-siapa, namun kegemilangannya menembus kebekuan pergerakan islam dunia, menjadi perhatian semua pihak, termasuk mereka yang membenci islam.

Al-Ikhwan Al-Muslimun, adalah sebuah anugerah Alloh untuk menyelesaikan persoalan umat. Orisinilitas manhajnya yang terjaga berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, menyebabkan Ikhwan terjaga dan berkembang hingga hari ini. Dengan prinsip “seperti Sufi dalam tahap ruhiyah, dan seperti militer dalam operasionalnya’, Ikhwan hingga hari ini tetap eksis dalam menggemakan jihad dan dakwah ke seluruh pelosok kampung, hingga sudut-sudut perkotaan.

Ikhwan menyadari bahwa penyelesaian persoalan umat, lebih banyak terjadi tidak sampai pada akarnya, tidak tuntas. Persoalan negeri ini ada pada kekuasaan atau dengan kata lain ada pada pemimpin yang memegang kebijakan publik. Sehingga tempat strategis ini harus dikuasai umat islam untuk menentukan masa depannya di kemudian hari ini.

Tak ada jalan lain, selain penegakkan islam harus direbut sampai ke tingkat pemerintahan. Melalui pemilu adalah jalan terakhir, karena kebanyakan negara-negara di dunia menganut sistem demokrasi dalam pemerintahannya. Artinya, tidak mungkin kita dalam kondisi seperti ini, menyuarakan syariat islam. Bukan tidak mungkin tapi lebih tepatnya belum saatnya, karena kekuatan umat islam belum sepadan dengan kekuatan musuh islam itu sendiri. Sehingga kalaupun toh dipaksakan hanyalah menjadi ‘bunuh diri’ bagi perjuangan islam.

Namun dalam kenyataannya, banyak yang menghujat cara dakwah dan jihad Ikhwan dalam mengamalkan pemahamannya berdasarkan Al-Quran dan sunnah nabi muliaNya. Banyak yang mencaci metode perjuangannya, namun dengan demikian sebenarnya yang terjadi adalah robohnya dakwah di tangan para dai itu sendiri seperti yang dikatakan kader Ikshwan Ust. Fathi Yakan.

Hal ini tak perlu terjadi, seandainya setiap harokah mampu dengan lapang dada menerima setiap kelebihan harokah lainnya. Menutupi setiap jengkal kekurangan yang dimiliki untuk mengubahnya sebagai kekuatan yang tak bisa dibendung oleh kaum kuffar.

Inilah yang mesti menjadi perhatian bagi setiap harokah, bahwa perbedaan cara perjuangan bukanlah hal yang prinsip untuk diperdebatkan sehingga jurang itu semakin besar dan menjadi celah bagi musuh untuk menghancurkan kita. Perbedaan ‘cabang’ sebagaimana diutarakan di awal, hanyalah hal yang sia-sia bila setiap hari dikaji dan diseminarkan. Yang mesti digarisbawahi bahwa umat menanti kiprah kita memperjuangkan setiap hak kita yang tertindas !

Perjuangan Islam, Jangan Terkooptasi (bagian 1)

Dakwah dan jihad, adalah dua kata yang wajib hukumnya bagi seorang muslim yang tidak hanya hanif, tetapi juga shodiq, yang membenarkan apa yang difirmankan Alloh juga apa yang digariskan Rasulullah. Dalam aplikasinya, banyak ditemukan berbagai macam cara untuk mencapai tujuan yang satu, yaitu menegakkan kalimat tauhid, Laa Ilaaha Illallaahu di muka bumi. Perbedaan ini, adalah sesuatu yang diwajarkan selama ia berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunah Rasullah, menerima keduanya dengan seutuhnya tanpa meninggalkan salah satunya.

Lagi-lagi, perbedaan itu masih diperbolehkan pada tahap ‘cabang’ bukan pada ‘pokok’ ajaran islam itu sendiri. Mengenai perbedaan metode dakwah, kemasan atau yang sifatnya sajian agar lebih mudah diterima oleh objek dakwah. Lihatlah, bagaimana hari ini begitu marak dengan berbagai macam harokah islamiyyah. Khusus di Indonesia, sejak tahun 1955, ada Masyumi yang muncul dengan ditandai dengan kemenangannya dalam Pemilihan Umum pada tahun itu.

Kemudian sejarah bergulir, Masyumi dibubarkan karena menyuarakan ditegakkannya syariat islam kala itu. Di sini kita bisa lihat bagaimana fiqh dakwah Masyumi yang cenderung terlihat terburu-buru dalam mencapai tujuannya. Padahal, kondisi umat islam saat itu belum siap dengan tuntutan syariat islam, atau dengan kata lain masyarakat belum tahu betul apa yang akan menjadi tuntunannya.

Kemudian, sejarah mencatat setelah masa itu. Umat islam terkooptasi ke dalam dua bagian besar, yakni Muhammadiyah dan Nahdhotul ‘Ulama. Ya, dua organisasi besar inilah yang kemudian mengisi hari-hari umat islam dalam sejarah stagnasi. Mengapa stagnasi? Karena dari kiprah keduanya di panggung keumatan Indonesia selama berpuluh-puluh tahun, belum ada hasil gemilang yang mampu dinimkati umat dari hasil pemikiran yang orisinil dari kader-kader dakwah itu. Keduanya, lebih condong terhadap satu sisi saja dalam penggarapan ladang dakwah, padahal potensi umat islam amatlah besar.
Lihatlah Muhammadiyah yang fokus pada pendidikan. Hingga hari ini, belumlah ada hasilnya bagaimana mereka menghasilkan sebuah sistem pendidikan yang mampu memajukan potensi umat, menggalinya hingga terbuka semua tabir kebodohan hingga cahaya keilmuan yang disertai iman dapat hadir di tengah-tengah mereka. Bahkan sampai hari ini pula, tak satupun sekolah dari Muhammadiyah yang bersaing menghasilkan kader-kader terbaiknya.

Lalu Nahdhotul ‘Ulama yang mengupas seputar peribadahan saja, seputar dari tahlil ke tahlil yang tak jelas juntrungan dasar hukumnya dalam islam. Mereka sibuk mengupas persoalan ibadah yang terkadang agak kabur dengan nilai-nilai bid’ah.

Inilah potret sejarah perjuangan islam sampai saat ini. Harokah yang ada masih berkutat pada satu sisi memandang islam sebagai agama yang paripurna. Melihatnya dari satu sisi yang subjektif dan terkadang cenderung mengkerdilkan orang-orang di luar mereka, walau tak sampai memurtadkan atau mengkafirkan. Bahkan ada beberapa harokah yang sampai menolak ajaran islam yang lain, atau menerima sebagian yang lain.

Agama yang paripurna ini, terlalu sempit kalau hanya dibahas dari satu sisi saja. Islam termat sempurna, ia membahas seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari tauhid, ibadah, muamalah, ekonomi, politik, sosial, pendidikan sampai tatanan keluarga. Atau dengan kata lain mengatur manusia sejak manusia itu bangun tidur sampai ia tidur kembali, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Maka termat lucu, kalau ada harikah yang hanya memperjuangkan salah satu atau beberapa nilai islam saja. Dengan kompleksitas nilai-nilai yang ada, islam terlalu mulia untuk ditolak sebagian ajarannya, dan terlalu agung untuk diterima sebagiannya yang lain. Padahal Alloh berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan… – Al-Baqarah : 208.

Itu artinya, tak ada penolakan antara nilai yang satu dengan nilai yang lainnya. Tak ada yang bertolak belakang. Misalnya, ada anggapan kalau islam tak boleh berpolitik. Karena politik itu kotor. Lalu mengapa Rasulullah menjadi seorang pemimpin politik yang mengatur barisan umatnya. Menjadi kepala negara, dan juga menjadi panglima perang. Menrapkan siasat untuk menghancurkan golongan kafir. Lagipula, islam bukan agama yang hanya mengurusi soal sholat, puasa, zakat, dan naik haji. Itu saja tidak cukup untuk menebus syurga dari sisi Alloh.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. – At-Taubah : 111

Itulah harga syurga yang dijanjikan Alloh. Dengan pengorbanan harta dan jiwa kita. Dengan bentuk perjuangan melalui peperangan sehingga kita membunuh atau terbunuh. Menegakkan panji-panjiNya hingga tegak di muka bumi. Persoalannya adalah, adakah harokah yang mampu menjawab tantangan umat yang semakin hari semakin bertambah berat permasalahannya.