Ideologi Islam, Jawaban Atas Kegamangan Universal

Islam, sebagai ideologi harus mampu bertarung dengan ideologi lain yang notabene bertentangan ataupun menentangnya. Dan untuk menunjukkan eksistensi itu, islam haruslah tegak dengan pendukung-pendukung solid yang senantiasa setia mengusungnya. Di luar sana, mereka – isme yang menentang islam selalu berkolaborasi dengan kedengkian kaum tiran guna memadamkan cahaya kemuliaannya. Adakalanya, para pendukung islam sendiri merasa gentar dengan serangan mereka, namun di saat yang lain, euphoria keberhasilan kadangkala membekukan semangat dan memunculkan rasa kepuasan berlebihan, sehingga kejumudan menghantui setiap kader pembela islam itu sendiri.

Islam, tentunya takkan tegak diantara lipatan tangan yang termangu menunggu keadaan musuh yang mulai lengah. Atau di saat kekuatan kita bertambah daya akibat over confidence karena kekuatan teknis mendukung. Bukan itu. Ia, panjinya akan senantiasa berkibar jika segenap cucuran keringat atau tarikan kekuatan dengan ihsan dilakukan, sehingga kumpulan keluh kesah terpendam dalam rasa keikhlasan dan kelapangan jiwa meninggi karena Alloh.

Itulah mengapa, sebuah sistem dibentuk dalam mencapai tujuan menegakkan islam sebagai ideologi, islam sebagai falsafah hidup, islam sebagai manhaj yang hakiki, dan islam sebagai sebuah sistem paripurna yang rahmatan lil ‘alamiin. Perlu dipahami, bahwa sebuah perubahan hingga islam dapat dikatakan sebagai sebuah ideologi, mestilah dibangun pada sebuah sub sistem yang paling kecil. Seandainya pada tatanan mikro itu islam sudah terinternalisasi dalam jiwa sesorang, maka takkan sulitlah bila orang ingin mengenal islam lebih jauh maka tinggal hanya melihat pribadi orang tersebut.

Oleh karena itu, perubahan yang paling mendasar dan paling berpengaruh terhadap perjuangan yang telah dicita-citakan terletak pada masing-masing individu yang tersentuh dengan pewarnaan Alloh. Kemudian, ketika jumlah mereka akan terus bertambah seiring dengan ditegakkannya sunnah Rasulullah Saw dengan menikah. Menegakkan islam dari miniature masyarakat yang terkecil, yakni keluarga.

Islam, di tempat inilah ia akan tumbuh subur sejalan dengan dilahirkannya generasi penerus orang tua mereka yang sholeh dan beriman. Di tempat ini pula, jundi-jundi kecil diperkenalkan untuk pertama dan utamanya, kepada Rob mereka, kepada siapa mereka harus menyerahkan segenap pengorbanannya. Keluargalah, tempat yang paling efektif pengenalan nilai-nilai islam tumbuh subur dan mendarah daging dalam dada mereka.

Kemudian, ketika ribuan bahkan jutaan kelompok atau miniature keislaman ini berkembang hingga akan membentuk sebuah tatanan masyarakat yang islami pula. Masyarakat yang senantiasa patuh dan taat pada norma Alloh yang berlaku. Mereka tidak lagi mempertentangkan akan gesekan norma sosial dengan norma agama. Norma sosial adalah norma agama, dan norma agama itu adalah islam, itulah yang mereka ketahui. Sehingga, perbedaan pendapat antara kelompok pro dengan kontra atau dikotomisasi diantara masyarakat takkan terjadi.

Seiring dengan segenap kesadaran masyarakat akan nilai-nilai islam yang telah mereka konsumsi sehari-hari, seiring itu pulalah sebuah negara yang akrab dan kental dengan ajaran islam akan segera terwujud. Tak adalagi penolakan kaum minoritas akan sebuah peraturan hukum syariat yang ditegakkan. Apalagi dengan tuduhan bahwa demokrasi di negara itu, yang menegakkan hukum Alloh, telah mati atau dipasung hidup-hidup. Takkan ada lagi tuduhan sekeji itu. Yang ada hanyalah sebuah kesadaran untuk menerima dengan segenap hati tanpa penolakan, tanpa sakit hati, dan tanpa ceceran darah dalam memperjuangkannya.

Di sinilah puncak dari sebuah kenikmatan yang dirasakan oleh seluruh penduduk bumi, yaitu islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Bagi tanaman, hewan, golongan mu’min bahkan bagi kafir zimni sekalipun. Bukankah islam sebagai ajaran yang paripurna tidak perlu lagi sebuah penambahan atau tambalan dalam setiap jengkal wilayah konsepnya? Bukankah Alloh itu haq, RasulNya haq, Al-Quran adalah haq, dan semua titik koma yang dikandung dalam setiap doktrinasinya adalah haq?

Seharusnya, tak ada penolakan-penolakan antara yang haq dan bathil. Mestinya. Namun isme-isme yang merajalela hari ini bagaikan jamur di musim penghujan, begitu nampak ramai berlomba-lomba merebut hati manusia-manusia gamang di seantero jagad ini. Ada mereka yang mengedepankan akal ketimbang iman. Ada mereka yang salah mempersepsikan makna keadilan yang sama rata. Atau mereka yang sakit hati atas kejayaan kaum feudal dan memilih perjuangan atas isme yang gamang dengan mengedepankan sisi sosial mereka.

Padahal bila mau jujur mereka mengakui bahwa itu semua telah diperkirakan sebelumnya oleh islam. Bahwa kegamangan mereka, orang-orang yang sakit hati dan kecewa terhadap sebuah sistem yang diciptakan manusia, telah dijawab di dalam Al-Quran Al-Kariim. Bahkan keraguan mereka atas Al-Quran sebagi buah atas kegamangan tadi, sungguh tidaklah beralasan. Sebab, Alloh dalam salah satu firmanNya telah menantang mereka yang ragu-ragu untuk membuat Sesutu yang lebih baik :

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
(Al-Baqarah : 23)

Walaupun demikian, masih saja ada mereka yang dengan bangga memamerkan isme-isme yang mereka usung dengan membawa segala kedunguannya, dipertontonkan kepada semua manusia yang berakal. Padahal, islam sebagai segala jawaban atas semua kegamangan, keraguan, atau keganjilan hati telah Alloh gariskan dalam puluhan ayatNya yang mulia :
Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini (Al-Jatsiyah : 45)

Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (Al-Baqarah : 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s