Perjuangan Islam, Jangan Terkooptasi (bagian 1)

Dakwah dan jihad, adalah dua kata yang wajib hukumnya bagi seorang muslim yang tidak hanya hanif, tetapi juga shodiq, yang membenarkan apa yang difirmankan Alloh juga apa yang digariskan Rasulullah. Dalam aplikasinya, banyak ditemukan berbagai macam cara untuk mencapai tujuan yang satu, yaitu menegakkan kalimat tauhid, Laa Ilaaha Illallaahu di muka bumi. Perbedaan ini, adalah sesuatu yang diwajarkan selama ia berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunah Rasullah, menerima keduanya dengan seutuhnya tanpa meninggalkan salah satunya.

Lagi-lagi, perbedaan itu masih diperbolehkan pada tahap ‘cabang’ bukan pada ‘pokok’ ajaran islam itu sendiri. Mengenai perbedaan metode dakwah, kemasan atau yang sifatnya sajian agar lebih mudah diterima oleh objek dakwah. Lihatlah, bagaimana hari ini begitu marak dengan berbagai macam harokah islamiyyah. Khusus di Indonesia, sejak tahun 1955, ada Masyumi yang muncul dengan ditandai dengan kemenangannya dalam Pemilihan Umum pada tahun itu.

Kemudian sejarah bergulir, Masyumi dibubarkan karena menyuarakan ditegakkannya syariat islam kala itu. Di sini kita bisa lihat bagaimana fiqh dakwah Masyumi yang cenderung terlihat terburu-buru dalam mencapai tujuannya. Padahal, kondisi umat islam saat itu belum siap dengan tuntutan syariat islam, atau dengan kata lain masyarakat belum tahu betul apa yang akan menjadi tuntunannya.

Kemudian, sejarah mencatat setelah masa itu. Umat islam terkooptasi ke dalam dua bagian besar, yakni Muhammadiyah dan Nahdhotul ‘Ulama. Ya, dua organisasi besar inilah yang kemudian mengisi hari-hari umat islam dalam sejarah stagnasi. Mengapa stagnasi? Karena dari kiprah keduanya di panggung keumatan Indonesia selama berpuluh-puluh tahun, belum ada hasil gemilang yang mampu dinimkati umat dari hasil pemikiran yang orisinil dari kader-kader dakwah itu. Keduanya, lebih condong terhadap satu sisi saja dalam penggarapan ladang dakwah, padahal potensi umat islam amatlah besar.
Lihatlah Muhammadiyah yang fokus pada pendidikan. Hingga hari ini, belumlah ada hasilnya bagaimana mereka menghasilkan sebuah sistem pendidikan yang mampu memajukan potensi umat, menggalinya hingga terbuka semua tabir kebodohan hingga cahaya keilmuan yang disertai iman dapat hadir di tengah-tengah mereka. Bahkan sampai hari ini pula, tak satupun sekolah dari Muhammadiyah yang bersaing menghasilkan kader-kader terbaiknya.

Lalu Nahdhotul ‘Ulama yang mengupas seputar peribadahan saja, seputar dari tahlil ke tahlil yang tak jelas juntrungan dasar hukumnya dalam islam. Mereka sibuk mengupas persoalan ibadah yang terkadang agak kabur dengan nilai-nilai bid’ah.

Inilah potret sejarah perjuangan islam sampai saat ini. Harokah yang ada masih berkutat pada satu sisi memandang islam sebagai agama yang paripurna. Melihatnya dari satu sisi yang subjektif dan terkadang cenderung mengkerdilkan orang-orang di luar mereka, walau tak sampai memurtadkan atau mengkafirkan. Bahkan ada beberapa harokah yang sampai menolak ajaran islam yang lain, atau menerima sebagian yang lain.

Agama yang paripurna ini, terlalu sempit kalau hanya dibahas dari satu sisi saja. Islam termat sempurna, ia membahas seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari tauhid, ibadah, muamalah, ekonomi, politik, sosial, pendidikan sampai tatanan keluarga. Atau dengan kata lain mengatur manusia sejak manusia itu bangun tidur sampai ia tidur kembali, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Maka termat lucu, kalau ada harikah yang hanya memperjuangkan salah satu atau beberapa nilai islam saja. Dengan kompleksitas nilai-nilai yang ada, islam terlalu mulia untuk ditolak sebagian ajarannya, dan terlalu agung untuk diterima sebagiannya yang lain. Padahal Alloh berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan… – Al-Baqarah : 208.

Itu artinya, tak ada penolakan antara nilai yang satu dengan nilai yang lainnya. Tak ada yang bertolak belakang. Misalnya, ada anggapan kalau islam tak boleh berpolitik. Karena politik itu kotor. Lalu mengapa Rasulullah menjadi seorang pemimpin politik yang mengatur barisan umatnya. Menjadi kepala negara, dan juga menjadi panglima perang. Menrapkan siasat untuk menghancurkan golongan kafir. Lagipula, islam bukan agama yang hanya mengurusi soal sholat, puasa, zakat, dan naik haji. Itu saja tidak cukup untuk menebus syurga dari sisi Alloh.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. – At-Taubah : 111

Itulah harga syurga yang dijanjikan Alloh. Dengan pengorbanan harta dan jiwa kita. Dengan bentuk perjuangan melalui peperangan sehingga kita membunuh atau terbunuh. Menegakkan panji-panjiNya hingga tegak di muka bumi. Persoalannya adalah, adakah harokah yang mampu menjawab tantangan umat yang semakin hari semakin bertambah berat permasalahannya.

3 thoughts on “Perjuangan Islam, Jangan Terkooptasi (bagian 1)

  1. Masyumi dibubarkan karena menyuarakan ditegakkannya syariat islam kala itu. Di sini kita bisa lihat bagaimana fiqh dakwah Masyumi yang cenderung terlihat terburu-buru dalam mencapai tujuannya.

    CMIIW. Bukannya Masyumi itu dibubarkan krn salah satu tokohnya divonis terlibat “pemberontakan” thd pemerintah pusat. Jadi, bukan krn syariat Islam-nya?

    Lihatlah Muhammadiyah yang fokus pada pendidikan. Hingga hari ini, belumlah ada hasilnya
    .
    .
    Lalu Nahdhotul ‘Ulama yang mengupas seputar peribadahan saja, seputar dari tahlil ke tahlil yang tak jelas juntrungan dasar hukumnya dalam islam.

    CMIIW. Mungkin memang ada literatur yg mengkaji kritis seputar kiprah 2 ormas Islam besar di Indonesia itu. Tp rasanya jd khawatir penilaian Mamang akan dipahami sbg generalisasi berlebihan. Bukankah di waktu2 kini, selayaknya dikembangkan sikap saling menghargai. Insya Allah setiap zaman ada “orang”nya.

  2. Sebagai tambahan :
    Pendapat saya : Sebenarnya bukan terbagi dua menjadi NU dan Muhammaddiyyah satu lagi oraganisasi Islam yang cukup kuat di Indonesia walupun dengan jumlah anggota yang tidak begitu besar seperti kedua ormas tersebut, namun saya kira organisasi islam ini tidak begitu mengutamakan quantitas tetapi qualitan anggotanya. Ormas Islam tersebut adalah Persatuan Islam (PERSIS) yang sampai saat ini tetap eksis di Indonesia.

  3. Assalamu’alaikum wr.wb, ada satu hal yang terlupakan oleh ummat Islam yaitu jati diri, kini ummat Islam harus mengembalikan jati diri itu, dari segala aspek esensi tujuan akhirnya harus KALIMAT SYAHADAT, berdasarkan sejarah dan sesuai dengan maklumat Allah SWT kalimat itulah yang membuat musuh islam gentar dan kalah baik di dalam peperangan bersifat fisik maupun non fisik, kita sudah memiliki hukum sendiri tapi mengapa kita gunakan hukum manusia, kita memiliki contoh pemimpin islam yang amanah tapi mengapa kita pilih pemimpin ingkar, kitapun sudah memiliki lambang identitas, tanah air tapi kita masih pilih yang lain kita masih bangga dengan sikap medua yang dibungkus dengan sangat jelas dengan kemunafikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s