Perjuangan Islam, Jangan Terkooptasi (bagian 2)

Fenomena Ikhwanul Muslimin.

Kala itu, Hasan Al-Banna belum genap berusia 23 tahun. Ia hanyalah guru ibtidaiyyah, yang tak seorang pun memandangnya berguna. Namun sejarah kemudian berbangga dengan fenomenalnya organisasi yang mendunia, yang manhajnya berada di 70 negara hingga hari ini. Ditemani Hafidz Abdul Hamdi yang seorang tukang kayu, Ahmad Al-Hushary seorang tukang cukur, Fuad Ibrahim sebagai tukang setrika, Ismail Izz sebagi tukang kebun, Zaki Al-Maghriby sang montir sepeda, dan Abdurrahman Hasbullah sebagai sopir. Mereka bukanlah siapa-siapa, namun kegemilangannya menembus kebekuan pergerakan islam dunia, menjadi perhatian semua pihak, termasuk mereka yang membenci islam.

Al-Ikhwan Al-Muslimun, adalah sebuah anugerah Alloh untuk menyelesaikan persoalan umat. Orisinilitas manhajnya yang terjaga berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, menyebabkan Ikhwan terjaga dan berkembang hingga hari ini. Dengan prinsip “seperti Sufi dalam tahap ruhiyah, dan seperti militer dalam operasionalnya’, Ikhwan hingga hari ini tetap eksis dalam menggemakan jihad dan dakwah ke seluruh pelosok kampung, hingga sudut-sudut perkotaan.

Ikhwan menyadari bahwa penyelesaian persoalan umat, lebih banyak terjadi tidak sampai pada akarnya, tidak tuntas. Persoalan negeri ini ada pada kekuasaan atau dengan kata lain ada pada pemimpin yang memegang kebijakan publik. Sehingga tempat strategis ini harus dikuasai umat islam untuk menentukan masa depannya di kemudian hari ini.

Tak ada jalan lain, selain penegakkan islam harus direbut sampai ke tingkat pemerintahan. Melalui pemilu adalah jalan terakhir, karena kebanyakan negara-negara di dunia menganut sistem demokrasi dalam pemerintahannya. Artinya, tidak mungkin kita dalam kondisi seperti ini, menyuarakan syariat islam. Bukan tidak mungkin tapi lebih tepatnya belum saatnya, karena kekuatan umat islam belum sepadan dengan kekuatan musuh islam itu sendiri. Sehingga kalaupun toh dipaksakan hanyalah menjadi ‘bunuh diri’ bagi perjuangan islam.

Namun dalam kenyataannya, banyak yang menghujat cara dakwah dan jihad Ikhwan dalam mengamalkan pemahamannya berdasarkan Al-Quran dan sunnah nabi muliaNya. Banyak yang mencaci metode perjuangannya, namun dengan demikian sebenarnya yang terjadi adalah robohnya dakwah di tangan para dai itu sendiri seperti yang dikatakan kader Ikshwan Ust. Fathi Yakan.

Hal ini tak perlu terjadi, seandainya setiap harokah mampu dengan lapang dada menerima setiap kelebihan harokah lainnya. Menutupi setiap jengkal kekurangan yang dimiliki untuk mengubahnya sebagai kekuatan yang tak bisa dibendung oleh kaum kuffar.

Inilah yang mesti menjadi perhatian bagi setiap harokah, bahwa perbedaan cara perjuangan bukanlah hal yang prinsip untuk diperdebatkan sehingga jurang itu semakin besar dan menjadi celah bagi musuh untuk menghancurkan kita. Perbedaan ‘cabang’ sebagaimana diutarakan di awal, hanyalah hal yang sia-sia bila setiap hari dikaji dan diseminarkan. Yang mesti digarisbawahi bahwa umat menanti kiprah kita memperjuangkan setiap hak kita yang tertindas !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s