Kaderisasi untuk Progresifitas Keislaman (bagian 1)

Ketika kita duduk bersama hari ini, dan membicarakan dakwah sebagai objek pembicaraan, maka ada satu bagian yang paling menarik darinya, yaitu kaderisasi. Kaderisasi adalah bagian yang menentukan umur sebuah organisasi, akan panjang dan akan membahana gaungnya dengan kader-kader tangguh yang mengusungnya, atau berakhir pada sebuah catatan singkat sejarah berdirinya organisasi itu. Tentunya islam, adalah bagian yang kita bicarakan kelangsungannya, akan terus berkibarkah panji dakwah di tangan para pembelanya? Atau harus Allah ganti dengan golongan yang lebih baik lagi.

Namun, sebelum kita membahas lebih jauh lagi, kita harus mengetahui apa itu kaderisasi dan tugas-tugasnya. Setidaknya, kita bisa memahami pengertian kader sebagai perwira, atau jundi. Sehingga makna kaderisasi adalah proses pembentukan seorang perwira yang akan meneruskan nilai-nilai perjuangan suatu golongan tertentu. Namun, hal ini tidak terbatas pada sebuah organisasi saja, bahkan pengertian kaderisasi juga bisa ditempatkan ke dalam pengertian yang lebih luas lagi, bahkan organisasi sekelas keluarga sekalipun.

Berbicara mengenai tugas kaderisasi, setidaknya ada sebuah pola lazim yang sudah menjadi rahasia umum dan berlaku secara organisatoris, yakni melahirkan kader (merekrut/recruitment), mendidik (pembinaan/tarbiyah), merawat (maintenance) dan mewarnai (shibghoh).
Sebuah hal yang wajar dan sangat biasa untuk menentukan sepanjang apa riwayat sebuah organisasi ditorehkan, maka ia perlu dilanjutkan nilai-nilai perjuangan, sehingga melahirkan kader-kader baru yang lebih baik mutlak diperlukan demi kelangsungan organisasi tersebut. Kemudian, setelah kader-kader baru didapatkan, tahap selanjutnya adalah mendidik melalui nilai-nilai yang akan ditempatkan pada semua aspek yang syamil (ruhiyah, fikriyah, jasadiyah).

Kemudian sequel perawatan, adalah usaha organisasi untuk menjaga kadernya dalam taraf kualitas tertentu pada waktu tertentu. Jadi, ada sebuah targeting dan arah pembinaan yang berkala dan memegang teguh asas istimroriyah dalam menyiapkan kader yang berkualitas di masa yang akan datang. Tetapi hal ini bukan saja bagian suplemen penguat belaka, tetapi juga perawatan dari sebuah kondisi yang memprihatinkan (futur) untuk diterapi dan diatasi seandainya menimpa kader-kadernya.

Dan yang terakhir adalah pewarnaan. Proses ini tidak berlangsung ketika semua tugas-tugas itu dilalui, namun jalannya beriringan dengan tugas yang lainnya. Pewarnaan (shibghoh), atau biasa kita kenal dengan proses indoktrinasi nilai ke dalam jiwa kader untuk menjadikan sebuah nilai sebagai falsafah hidupnya, adalah sebuah proses yang kita rencanakan dalam menentukan ‘warna atau corak’ khas bagi orang yang akan mendukung suatu golongan tertentu. Sebagaimana Alloh firmankan di dalam Al-Quran yang mulia :
Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. ( 2:138 ).

One thought on “Kaderisasi untuk Progresifitas Keislaman (bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s