Kaderisasi untuk Progresifitas Keislaman (bagian 2)

 

Fenomena nabi Zakaria As. yang mewariskan kenabian kepada putranya Yahya As, padahal kondisi isteri Zakaria tidak memungkinkan untuk memiliki anak atau mandul, namun hal itu dijawab oleh Alloh SWT dengan sebuah kelahiran Yahya yang akan meneruskan risalah kenabian sang ayah disebabkan ketidakpercayaannya atas kejahilan kaumnya sendiri. Ini artinya, regenerasi atas tugas dakwah adalah yang utama ketimbang prestise sekedar meneruskan keturunan belaka sebagai sesuatu yang tidak dapat dibanggakan.

Padahal, hari ini masyarakat kita lebih membusungkan dada ketika keturunannya mampu mewariskan perusahaan milik keluarganya.tak ada lagi bekas jejak keimanan yang akan diwariskan kepada keturunannya kelak, sehingga apabila hal ini berada di mayoritas kepala masyarakat kita, wajar saja apabila keterbelakangan dan kemunduran keimanan itu terjadi. Sementara benteng utama keluarga yang seharusnya berfungsi melahirkan jundi-jundi militant yang akan membela islam dalam garda terdepan, itu mengalami kerusakan yang amat fatal terhadap orientasi dan arah kemana anak-anak mereka akan diwarnai. Sementara, pendidikan yang dijanjikan beberapa ormas islam di Indonesia sejak Republik tercinta ini berdiri, hanya mengumbar janji-janji kosong terhadap pembentukan watak dan mentalitas anak negeri yang tangguh, yang mampu melawan isme-isme menyesatkan orientasi berfikir kita di masa depan. Apakah kita akan mempercayakan kepada organisasi seperti ini? Tentu saja tidak. Lalu apa jawaban dari keraguan akan tegaknua sebuah perbaikan massif yang kini menggelayuti sebagian besar umat islam? Adalah sebagaimana yang digariskan oleh Alloh dalam sebuah firmanNya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(At-Tahriim:6).

 

Hal ini jugalah yang dengan bijak diusahakan Ikhwan dalam setiap pekik perjuangannya, bahwa perubahan itu dilakukan dengan bottom up, dari bawah ke atas. 1. Atas pribadi-pribadi yang tertarbiyah dengan shahih, 2. Keluarga / rumah tangga islami, 3. Masyarakat, 4. Pemerintah, 5. Daulah islamiyah, 6. Tegaknya Daulah Islamiyyah dan Khilafah Islamiyyah, 7. Dunia universal yang taklakuk di bawah panji islam. Seandainya, setiap pribadi memiliki kesadaran akan pentingnya sebuah perbaikan seperti ini, sudah barang tentu dan bukan sebuah kemustahilan tujuan dan cita-cita islam segera terwujud. Namun, ketika yang terjadi adalah sebuah kemalasan akan pengorbanan, kejumudan dalam beramal, dan ketidakpercayaan akan keniscayaan pertolongan Alloh terhadap para walinya, maka yang akan terjadi pada episode berikutnya terhadap perjuangan islam adalah :

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui (Al-Maa-idah : 54)

One thought on “Kaderisasi untuk Progresifitas Keislaman (bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s