Film Ayat-Ayat Cinta : Dipuja dan Dibajak!

Masyarakat kita begitu nampak apresiatif pada awal beredarnya Novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Novel yang diklaim penulisnya sebagai ’Novel Pembangun Jiwa ini’ mampu menambah geliat sastera Islami yang tengah bangkit mencari tempat para penikmat sastera di Tanah Air.

Ide yang ditawarkan Habiburrahman El-Shirazy, Sang Penulis AAC, memang mudah dicerna dengan bahasa universal, yakni cinta. Namun, romantisme yang ditawarkan memang berbeda dari karya sastera sebelumnya yang kebanyakan bertemakan cinta syahwat nan seronok. Kang Abik, begitu sang penulis ini biasa disapa menawarkan roamantisme dalam Islam, cinta kepada sesama yang tak lebih tinggi dari cinta manusia kepada Sang Pemilik Cinta, Allah ‘Azza wa Jalla.

Sedemikian indah dan menarik novel ini diceritakan hingga mengalami cetak ulang beberapa kali sejak akhir 2004 digulirkan ke pasar. Efeknya luar biasa, bahkan sebuah suratkabar nasional menyebutkan bahwa AAC merupakan sebuah keajaiban yang ditorehkan oleh seorang penulis Indonesia.

Keajaiban? Benar, kata inilah yang mampu mewakili sebuah karya apik karya anak negeri yang satu ini. Sekitar tiga tahun peredaran AAC, tak kurang sekitar 400 ribu eksemplar telah laris dijual. Dengan angka ini, Kang Abik berhak mendapatkan royalti sekitar Rp.1,8 Miliar dan tercatat sebagai penulis yang mendapat royalti terbesar sepanjang sejarah kepenulisan Indonesia.

Itu baru materil, belum lagi beberapa penghargaan yang berhasil ditoreh, seperti Pena Award untuk kategori Novel Terpuji Nasional pada tahun 2005. Pada tahun yang sama pula, novel tersebut juga meraih The Most Favourite Books and Writer 2005 mengalahkan serial Harry Potter versi Majalah Muslimah. Kemudian, terpilih sebagai Novel Dewasa Terbaik dalam Islamic Book Fair 2006. Yang teranyar, Kang Abik dianugerahi sebagai Novelis No. 1 Tahun 2007 dari Insani Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan dinobatkan sebagai salah satu Tokoh Perubahan oleh Republika pada 4 Januari 2008.

AAC Diangkat ke Layar Lebar

Novel AAC yang fantastis ternyata membuat produser MD Picture Manooj Punjabi melirik kesempatan emas untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dengan penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim (sekitar 80%), MD Pictures setidaknya menargetkan 1% (sekitar 2 juta orang) saja Muslim yang menonton film ini.  Dengan hitungan 20 juta dikali sepuluh ribu maka setidaknya diperoleh pendapatan kotor sekitar Rp. 20 Milyar yang akan dikurangi biaya produksi setidaknya Rp. 10 Milyar. Hasilnya keuntungan bersih sebesar Rp. 10 milyar!

Menurut hemat saya, keputusan Kang Abik untuk menerima tawaran AAC difilmkan bukan hanya pertimbangan materi semata. Ada pertimbangan kemaslahatan dan dakwah yang harus dipertimbangkan, meski banyak kalangan dan para ’penggila’ AAC yang menolak novel itu difilmkan. Mereka khawatir nilai-nilai Islam akan luntur dengan selera pasar para kapitalis untuk mereguk keuntungan.

Seperti pernah diberitakan di media, keuntungan royalti selama ini yang ia peroleh digunakannya untuk membangun sebuah pesantren karya dan wirausaha Basmala yang berlokasi di Semarang. Jadi, bisa kita katakan bahwa keuntungan dari film AAC juga akan digunakannya untuk mengembangkan dakwah. Menurut saya, ini merupakan sebuah langkah jitu untuk merambah dakwah di dunia pertelevisian Indonesia, mengingat masih sedikit film yang bertemakan dakwah.

Buktinya, dari informasi yang beredar banyak aktor dan aktris yang ’terwarnai’ dengan film ini menjadi lebih baik dan sadar akan nilai-nilai Islam sebagaimana pesan moral AAC, termasuk sang sutradara Hanung Bramantyo seperti dikisahkan di blognya. Itu artinya, dakwah Kang Abik melalui karyanya dengan sadar atau tidak telah melintasi relung hati para kru dan pemain, itu minimal, belum lagi para pemirsa AAC nantinya.

Karya Itu Dibajak!

Bukan Indonesia namanya kalau tidak ada pembajakan karya. Meski belum sempat film itu diluncurkan di bioskop di Indonesia ternyata sudah beredar AAC versi bajakan. Hal ini membuat Hanung Bramantyo geram dan bingung. Bagaimana mungkin film yang belum diluncurkan tapi versi bajakan sudah ada di pasaran.

Menurut saya, di sinilah letak perbedaan mana karya besar dan bukan, yaitu pembajakan. Memang terdengar menyakitkan, tapi mana mungkin sang pelaku mau membajak karya yang ’ecek-ecek’? pasti yang dibajak adalah karya yang bermutu dan bernilai tinggi. Dalam hal ini, saya tak hendak membela sang pembajak, bukan. Hanya sedikit rasionalisasi bahwa Novel AAC yang megabestseller dan dicintai sekian banyak penikmat sastera ternyata tetap tangguh ketika diangkat ke layar lebar dan berhasil menarik banyak simpati dari setiap elemen masyarakat, termasuk elemen pembajak. Hehehe… 😀

Advertisements

Ikhlas Itu Datang dari Sebuah E-mail

Sebuah email masuk dalam kotak inbox yahoo-ku. Kubuka, ada sebuah komentar dari tulisanku yang ku-posting di sebuah milis kepenulisan. Kubaca sesaat, lalu aku berisitghfar dan hamdalah. Isinya tentang sebuah nasihat yang berharga, menurutku. Memang ada sedikit pujian, tapi tak terlalu kuperhatikan. Tapi yang paling menonjol adalah sarannya untuk tidak mengepos pesan setengah-setengah kemudian me-link ke blog dimana tulisan full itu dimuat.

Lengkapnya ia memberikan beberapa pandangan yang membuatku terdiam sejenak. Berfikir, betapa nikmatnya menjadi seorang muslim yang tengah diberikan nasihat dari muslim lainnya :

 ”…tapi coba bayangkan beberapa manfaat berikut ini: banyak orang (anggota milis) yang baca artikel mas lufti dengan lengkap, karena ada anggota milis yang hanya bisa kirim-terima email, tidak bisa berselancar di internet. ada juga yang cuma sempat buka email dan gak sempat browsing. setelah mereka baca dan menganggap isinya bagus, ada kemungkinan di forward ke email teman-teman, atau ke jaringan internal kantor, atau di milis lain yang mereka ikuti, atau malah dicetak dan dipasang di mading kantor, kampus, sekolah, dan lain-lain. Dengan demikian cukup dengan mencantumkan nama dan blog kita di akhir tulisan, maka blog kita tersebar kemana-mana. lalu bagi yang membaca dan tertarik dengan tulisan mas lufti yang lain, dan kebetulan lagi ada waktu dan bisa browsing, maka ada kemungkinan mereka mengunjungi blog kita.

Manfaat. Ia memberikan label pandangannya dengan kata ’manfaat’. Dengan kata itu, seperti telah men-scan komputer hatiku dari segala bentuk virus. Dengan anti-virus bermerk ’Manfaat & Keikhlasan’, terdeteksi sebuah virus bernama ’egoku’ yang ingin selalu mengatakan bahwa popularitas di dunia maya lebih penting daripada nilai manfaat tulisan yang menginspirasi.

Kucerna baik-baik kalimat demi kalimat email itu. Begitu tulus ia mengungkapkan nasihatnya. Aku tersadar. Alhamdulillah. Seseorang telah mengingatkanku tentang satu hal yang mungkin terlihat remeh. Tapi tidak bagiku. Aku melihatnya sebagai suatu bentuk ibadah yang mengedepankan pentingnya niat dalam setiap ibadah, termasuk beribadah melalui tulisan-tulisan yang aku hasilkan lalu ku-posting di blog dan beberapa milis yang kuikuti.

Karena menulis, bukan untuk popularitas semata. Popularitas hanyalah sebuah risiko dan konsekuensi logis. Tapi ibadah harus disterilkan dari segala bentuk niat yang menyimpang seperti popularitas. Ya, menulis adalah ibadah, sebagaimana niat awalku ketika mendaftar untuk jurusan jurnalistik dulu. Aku ingin beribadah, berdakwah dan berjihad dengan pena. Dengan tinta yang kutulis di atas kertas hingga menjadi tulisan yang menginspirasi banyak orang untuk senantiasa lebih baik lagi.

Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan maka ia juga akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakan itu. Dan barangsiapa yang menunjukkan keburukan maka ia juga akan mendapat dosa sebagaimana dosa orang yang mengerjakan itu, tanpa dikurangi sedikitpun.

Terima kasih sahabat. Meski aku tak mengenal dirimu, tapi kau telah mengingatkan diriku yang pandir ini. Kutulis pesan singkat sebagai balasan tanda terima kasihku atas keikhlasannya menunjukkan kebaikan :

Terima kasih banyak atas masukannya. Insya Allah saya ikuti sarannya…

*) Untuk Novee Arman (noviarman111@gmail.com), where ever and whoever you are Semoga Allah senantiasa menunjukkanmu hidayahNya. Jazakumullah khairon katsiroo…

Menulislah untuk Dunia

Menulis, pekerjaan yang mudah namun penuh perjuangan untuk melakukannya. Menulis, bukan sekadar menulis seperti yang kerap kita lakukan sejak sekolah dasar dulu. Tapi lebih dari itu, menggagas ide, menuangkan pemikiran, menyentuhnya dengan tata bahasa yang baik dan tak lupa menghiasnya dengan celupan pelajaran yang berharga. Itulah pekerjaan menulis, setidaknya definisi inilah yang berhasil kuendapkan setelah sekian lama kuliah pada jurusan Jurnalistik di sebuah universitas swasta di Jakarta Selatan.

Menurutku, menulis adalah tantangan intelektual seseorang yang mengecap pendidikan dan pengalaman hidup. Ia dituntut mampu menaklukan kata-kata kemudian merangkainya dalam kalimat lalu menyajikannya dalam sebuah kelompok paragraf demi paragraf hingga menjadi kumpulan bahasa non verbal yang bermakna dan mudah dicerna.

Apa yang ditaklukan? Segala sesuatu yang ia lihat, didengar, dirasa, dikecap dan dihayati selama proses pendidikan dan pengalaman yang ia jalani. Untuk menaklukan pengalaman itu, seseorang harus mengubah pengalamannya menjadi ‘sesuatu’ yang lezat dan mudah dicerna, yakni tulisan yang mudah dipahami ; dan bukan sebaliknya.

Tapi bagi sebagian lain, menulis menjadi pekerjaan sulit, sesulit ketika orang tersedak. Seperti sulit untuk mengeluarkan sesuatu yang tersumbat. Salah seorang sahabat pernah bertanya, “Bang, gimana sih resepnya bisa nulis bagus?”. Aku hanya tersenyum. Meski lulusan Jurnalistik, aku belum merasa tulisanku bagus atau sebagus wartawan dan penulis pada umumnya. Tapi karena yang tanya berlatar belakang pendidikan radiologi, maka kuberanikan untuk menjawabnya.

Sambil menghela nafas, kujawab. “Resep yang saya tahu dari baca buku, ikut pelatihan, dan waktu kuliah dulu cuma satu,” ujarku sambil menatap tajam matanya yang nampak antusias.

“Apa?” tanyanya penasaran.

“Menulis, menulis dan menulislah,” jawabku singkat dengan nada rendah ke tinggi yang berurutan. “Itu artinya kita harus banyak berlatih dengan berbagai cara untuk memudahkan kita menulis,”.

“Misalnya, setting waktu terbaik untuk menulis, buat kerangka tulisan, banyak membaca agar banyak referensi kata, menulis diary, membuat blog, siapkan buku saku agar kita mudah menulis di mana saja lalu menulislah dan terus berlatih,”

Eiiiit yang terakhir, jangan lupa minum Milo setiap hari,” candaku sambil nyengir.

Apa yang aku sarankan kepada sahabat itu, memang belum sepenuhnya optimal kujalankan. Sambil mencicil resep itu, aku juga menambahnya dengan ikut berbagai pelatihan jurnalistik atau kepenulisan lainnya. Selain itu, aku juga meminta beberapa rekan utnuk menilai dan mengoreksi apabila aku selesai mengerjakan sebuah tulisan. Dan seperti biasanya, blog pribadiku adalah tempat dimana semua rekaman perjalanan pemikiranku dituangkan, ditulis dan diabadikan.

Namun dari tataran teknis itu, ada hal yang jauh lebih besar dan prioritas untuk diperhatikan, yaitu NIAT. Niat atau motivasi adalah bahan bakar jiwa yang menggerakkan seluruh potensi untuk menuntaskan pekerjaan ini. Hanya niat yang akan membedakan antara tulisan yang ‘baik’ dan ‘buruk’ pada akhirnya.

Sebagian orang juga masih meremehkan pekerjaan yang satu ini. Tapi, bukankah dengan menulis kita mampu menginspirasi banyak orang? Memotivasi si fakir untuk berusaha meniti tangga kejayaan, menuntun si lemah untuk tetap tegar di tengah badai kesulitan atau mengingatkan pemimpin yang tiran hanya dengan sebuah tulisan?

Itulah kekuatan sebuah pekerjaan yang masih dipandang sebelah mata di negeri ini. Jadi, berbuat sesuatulah untuk mengubah dunia dengan menulis, menulis dan menulis. Menggagas ide, mengikat makna, dan yang terpenting mengukir sejarah peradaban manusia dengan kecemerlangan pemikiran yang terekam dalam semesta literasi dunia. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan pekerjaan sederhana nan mulia : menulislah untuk dunia. (bersambung).

 

*) Ditulis untuk mengikuti seleksi PELATIHAN MENULIS ARTIKEL ANGKATAN II MADINA SOCIETY yang diadakan Farid Gaban.

 

7 Tips Bebas dari Tipuan Mobil Eks Banjir

BANJIR telah menjadi pemandangan umum setiap kali hujan melanda kota-kota di Indonesia, khususnya Ibu Kota Negara, Jakarta. Tapi, meskipun sudah “biasa”, tetap saja datangnya air bah itu tak dapat diprediksi. Artinya, banjir bisa datang kapan saja, dan kebanyakan korban banjir tak siap menghadapinya. Saat banjir datang, banyak harta benda yang terpaksa rusak terendam karena tak sempat diselamatkan. Salah satu yang paling mahal dan langsung rusak adalah mobil. 

Genangan air pada mobil pasti meninggalkan kerusakan, tak hanya pada bagian interior, tapi pun -yang terpenting- pada  mesin. Komponen mekanikal, maupun elektrikal dipastikan akan mengalami keausan lebih cepat. Sebab, ampas lumpur dan jamur yang tertinggal sangat sulit untuk dibersihkan. Sialnya, garansi pun kerap batal jika kerusakan disebabkan bencana.

Lantas, pemilik mobil ‘eks banjir’ umumnya memilih untuk merapikan mobil itu, lalu menjualnya. Nah, jika begini, yang paling dirugikan adalah pembeli mobil bekas. Mereka mungkin saja terjebak, sebab mengenali mobil eks banjir tak semudah mengenali mobil mulus. Apalagi penjual pun cenderung untuk tak jujur, dan diam tanpa mengungkapkan kondisi mobil yang sesungguhnya. Namun sebenarnya ada beberapa langkah detail yang bisa dilakukan calon pembeli mobil bekas agar selamat dari ‘bencana’. Berikut adalah tips yang harus Anda perhatikan jika ingin membeli mobil di musim banjir saat ini.

1. Periksa Kelembaban dan Kotoran
Carilah adanya bekas uap air yang biasanya mengembun di sekitar batok lampu baik di dalam kabin maupun di bagian luar mobil. Lalu, buka dan teliti bagian kompartemen, dan rak-rak di dalam mobil, biasanya akan ditemukan endapan pasir atau tanah yang ditinggalkan lumpur di sudut-sudut sempit. Jangan lupa periksa pula bagian bawah atap yang biasanya menyimpan kotoran dan karat. Terakhir, selipkan tangan Anda untuk meraba bagian bawah jok, dan rasakan jika ada kelembaban.

2. Gunakan Indera Penciuman
Apakah anda mencium bau tak sedap. Endapan air meresap ke dalam jok mobil dan sangat sulit untuk menghilangkan bau tak sedap yang tertinggal. Periksa sudut-sudut jok, angkat karpet dan semua bagian mobil yang sulit untuk kering. Di tempat itu jamur dan endapan biasanya tumbuh.

3. Jeli Lihat Komponen Interior yang Ganjil
Anda wajib untuk memberikan perhatian ekstra dengan mengamati setiap detail komponen yang ada di dalam kabin. Carilah komponen yang ganjil dan tak selaras dengan keseluruhan bagian di dalam mobil.

Apakah karpet terlihat baru dan tak sesuai dengan usia mobil?  Adakah yang hilang atau diganti? Apakah sarung jok terlihat janggal dan tak terangkai rapi dengan karpet. Patut dicurigai komponen-komponen yang tak rapi ataupun terlihat terlalu baru adalah komponen baru yang dipasang setelah mobil diangkat dari banjir.

4. Mintalah Riwayat Perawatan Mobil
Mobil yang baik umumnya dilengkapi dengan riwayat perawatan, setidaknya riwayat perawatan berkala. Mungkin pula riwayat klaim asuransi. Atau bahkan pada beberapa orang, ada yang terbiasa menyimpan kuitansi pembayaran dan detail dari setiap perawatan selama mobil itu dipakai.
Dari sana bisa diperoleh gambaran kondisi mobil.

5. Tes Drive dan Periksa Fungsi Elektrikal
Poin ini merupakan langkah umum yang selalu dilakukan jika akan membeli mobil. Nyalakan mobil dan cobalah untuk mengendarainya. Bersamaan dengan itu, gunakan semua fungsi elektrikal yang ada, seperti lampu utama, lampu sein, lampu kabin, cetral lock, power window, radio tape, lampu dasboard, wiper dan lain-lainnya. Lakukan secara berulang untuk memastikan semua berfungsi dengan normal.

6. Pakailah Jasa Mekanik
Untuk memastikan kondisi mobil, terutama bagian mesin, sangat dianjurkan untuk membawa mekanik langganan kita untuk memeriksanya. Mekanik yang berpengalaman dapat megenali endapan kotoran di sela-sela mesin dan tempat yang tak terjangkau oleh mata awam.
Yang pasti mekanik tahu benar apa yang harus mereka periksa.

Hal ini penting pula jika mobil masih dalam masa garansi. Sebab, garansi akan gugur jika mobil terbukti pernah terendam banjir, meskipun kerusakan tak dapat disebutkan dengan rinci.

7. Jangan Ambil Risiko
Nah, jika Anda mencurigai bahwa mobil tersebut sepertinya pernah terkena banjir, segera tinggalkan. Jangan ambil risiko, meskipun sesungguhnya Anda tak yakin dengan apa yang Anda rasakan. Ingat, penghematan uang dengan harga mobil yang murah akan segera berakhir dan menjadi mahal saat Anda terpaksa memperbaiki mobil dikemudian hari. Jangan ambil risiko itu. Carilah mobil yang benar-benar Anda yakini. Selamat berburu … (GLO)

Sumber : Kompas.com

Blog ; Popularitas, Keuntungan Finansial dan Investasi Akhirat

Tanggal satu di bulan Februari. Seperti biasa, di kantor hiruk-pikuk terjadi di ruang bagian keuangan. Hari ini gajiaaaann. Heboh banget. Alhasil, selepas sholat maghrib beberapa rekan minta diantar ke mall untuk beli jas hujan. Maklum, dua bulan terakhir curah hujan masih tinggi-tingginya. Maka, salah seorang direktur yang tadi pagi kebasahan akibat jas hujan barunya keok diterjang air, semangat bener minta diantar ke toko untuk membeli jas hujan yang baru.

Selepas dari mall, kami kembali ke kantor agak malam. 8.30 waktu bagian Condet, Jakarta Timur. Kusempatkan mengecek email di komputer. Salah seorang sahabat mengirim email, yang kini tengah dinas luar ke Monokwari, Papua. Kubaca perlahan. Tumben malam-malam begini, pikirku. Kubaca emailnya di tampilan yahoo classic-ku untuk beberapa saat : 

Assalamualaikum

Akhuna penulishebat,

Bagaimana kabar keimanan dan kesehatan antum? semoga Allah SWT selalu menjaga agar tetap berada dalam kondisi yang prima, amiin. 

Akhi, terus terang ana salut sama antum yang sudah banyak menghasilkan karya-karya dakwah wa bil khusus tulisan-tulisan antum, terus terang lagi ana ngiri sama antum, masih muda produktif dan enerjik. Sebagai sohib, boleh donk kalo ana juga mencontoh apa yang antum udah lakuin, dan sebagai sohib yang baik ana yakin antum juga mau ngebimbing ana supaya bisa produktif khususnya dalam urusan tulis menulis… seperti antum.

Tapi ya akhi penulishebat… ada satu ketakutan ana kalo sudah bisa menulis, takut kalo-kalo Saat menulis, ana berharap buah dari tulisan ana adalah popularitas dan keuntungan finansial, barangkali ana akan mendapatkannya. Tapi, ana yakin saat ana mendapatkannya, maka saat itu pula ia kehilangan satu hal : investasi akhirat.  

Tapi ala kulli hal ana serius, tolong bantu, ana mau punya blog juga kayak antum supaya ana bisa mengaktualisasikan diri ana di situ, sekaligus ana bikin manuscript perjalanan hidup dan pemikiran ana.

Semoga keikhlasan dan keridhoan Allah saja yang ana dapatkan dalam setiap tekanan tombol-tombol keyboard ana.  

Tolong ya… ana serius, ana siap “traktir baso” 

Jzklh akh Lufti.

Wassalamualaikum.

Harsono

Dalam hitungan dua menit, aku selesai membaca email singkat permintaan sahabatku itu. Aku merinding terharu, ternyata keinginannya memiliki blog sangat kuat. Kupikir, permintaannya waktu rapat dua pekan lalu hanya sebatas ghuyonan-nya saja setelah melihat blog pribadiku, tempat latihanku menulis selama tiga bulan terakhir ini. 

Dan yang paling membuatku terharu adalah kebersihan niatnya memiliki blog, yang bukan semata-mata mencari popularitas manusia apalagi berharap dolar bila memasang google adsense dan sejenisnya. Tapi jauh dari itu : investasi akhirat.

“Saat menulis, ana berharap buah dari tulisan ana adalah popularitas dan keuntungan finansial, barangkali ana akan mendapatkannya. Tapi, ana yakin saat ana mendapatkannya, maka saat itu pula ia kehilangan satu hal : investasi akhirat. “

Subhanallah, ternyata Allah mengingatkanku dengan caraNya sendiri dan melalui jalan apa saja. Aku teringat dengan cita-citaku yang masih kuingin wujudkan hingga kini ; menjadi penulis hebat. Cita-cita yang kupatri dengan menamakan alamat email-ku dengan penulishebat@yahoo.com 

Banyak yang mengira aku ini penulis. Padahal, masih jauh dari kenyataan. Tapi, aku tak pernah berkecil hati. Sebab, orientasiku bukan cuma sebatas dunia semata, tapi menjadi dai dengan pena sebagaimana inspirasi yang datang setelah aku membaca Dai Bersenjata Pena. Menegakkan kalimat Allah melalui pena, menuliskan bait demi bait kebenaran, dengan harapan banyak orang yang menginspirasi dari tulisan itu untuk senantiasa berbuat baik. Karena tiada balasan yang pantas bagi kebaikan selain kebaikan itu sendiri.

Itulah mengapa aku dulu kuliah di Jurnalistik. Kupikir, masih sedikit dai yang berjuang melalui pena, melalui tulisan dan komunikasi non verbal ini. Sehingga, peluang untuk aku menambah amal shalih sangat besar. Subhanallah. Terima kasih atas email yang menginspirasi malam ini dan malam-malam berikutnya.

Balada Negeri Orang Miskin : Nasi Aking Vs Kue Lumpur

Sejak harga barang-barang kebutuhan pokok (sembako) merangkak naik, kita bisa menyaksikan fenomena yang menharukan. Terutama masyarakat miskin yang kian hari kian terjepit merasakan hidup. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga normal saja sudah sulit, apalagi dengan kondisi harga yang melambung. Otomatis, mereka beralih mencari konsumsi alternatif untuk sekadar mengganjal perut.

Di Indonesia, nasi aking menjadi primadona bagi mereka yang tak mampu membeli beras. Nasi basi yang dikeringkan ini, terkenal murah dan mudah didapat meski tak menjanjikan kadar gizi yang memadai. Sepertinya berlaku hukum “harga menunjukkan kualitas” bagi nasi aking yang saat ini menjadi mengganti nasi.

Lain Indonesia, lain pula negara orang, Haiti. Negeri ini juga tengah dilanda nasib serupa, naiknya harga-harga sembako. Seperti biasa, yang menjadi korban adalah masyarakat miskin dengan kondisinya yang serba terbatas. Namun, di Haiti tak mengenal nasi aking. Mereka menggantinya dengan kue lumpur sebagai makanan pokok saat ini.

Kue lumpur? Kita yang di Indonesia tentu sering makan penganan ini. Kue yang berbahan dasar terigu dan kentang ini dimasak dengan cara dipanggang di dalam oven. Dan biasanya kita menikmatinya untuk acara arisan, pengajian, sunatan atau sekadar menikmatinya bersama segelas teh atau kopi di kala senja tiba.

Kalau kue lumpur di Haiti anda kira seperti ini, anda tentunya salah besar. Sebab, kue lumpur yang dimaksud adalah benar-benar terbuat dari lumpur yang dicampur air, garam dan ragi. Sehingga ketika mengonsumsinya, masyarakat masih merasakan sisa-sisa lumpur di lidah mereka. Dan ini kejadian nyata! Waahhhhh…!

Melihat kejadian ini, pemerintah Haiti menyerukan masyarakatnya untuk mengentikan mengonsumsi makanan ini. Sebab, selain tak memiliki kandungan gizi, kue lumpur juga rentan terhadap bakteri yang terkandung di dalam lumpur.

Meski melarang, namun pemerintah tak memberikan solusi yang berarti. Tak memberikan subsidi apalagi menurunkan harga sembako. Inilah potret kebijakan yang kerap kali mengorbankan masyarakat miskin. Meski terpisah secara geografis, namun kita bisa melihat dua kebijakan yang sama dampaknya, korbannya juga sama dan lebih jauh lagi kita melihat sebuah kezaliman yang sama dari karakter pemimpin yang berbeda budaya. Sehingga dengan kebijakan itu, nasi aking di Indonesia dan kue lumpur di Haiti dipersaudarakan atas nama : KEMISKINAN.