Ikhlas Itu Datang dari Sebuah E-mail

Sebuah email masuk dalam kotak inbox yahoo-ku. Kubuka, ada sebuah komentar dari tulisanku yang ku-posting di sebuah milis kepenulisan. Kubaca sesaat, lalu aku berisitghfar dan hamdalah. Isinya tentang sebuah nasihat yang berharga, menurutku. Memang ada sedikit pujian, tapi tak terlalu kuperhatikan. Tapi yang paling menonjol adalah sarannya untuk tidak mengepos pesan setengah-setengah kemudian me-link ke blog dimana tulisan full itu dimuat.

Lengkapnya ia memberikan beberapa pandangan yang membuatku terdiam sejenak. Berfikir, betapa nikmatnya menjadi seorang muslim yang tengah diberikan nasihat dari muslim lainnya :

 ”…tapi coba bayangkan beberapa manfaat berikut ini: banyak orang (anggota milis) yang baca artikel mas lufti dengan lengkap, karena ada anggota milis yang hanya bisa kirim-terima email, tidak bisa berselancar di internet. ada juga yang cuma sempat buka email dan gak sempat browsing. setelah mereka baca dan menganggap isinya bagus, ada kemungkinan di forward ke email teman-teman, atau ke jaringan internal kantor, atau di milis lain yang mereka ikuti, atau malah dicetak dan dipasang di mading kantor, kampus, sekolah, dan lain-lain. Dengan demikian cukup dengan mencantumkan nama dan blog kita di akhir tulisan, maka blog kita tersebar kemana-mana. lalu bagi yang membaca dan tertarik dengan tulisan mas lufti yang lain, dan kebetulan lagi ada waktu dan bisa browsing, maka ada kemungkinan mereka mengunjungi blog kita.

Manfaat. Ia memberikan label pandangannya dengan kata ’manfaat’. Dengan kata itu, seperti telah men-scan komputer hatiku dari segala bentuk virus. Dengan anti-virus bermerk ’Manfaat & Keikhlasan’, terdeteksi sebuah virus bernama ’egoku’ yang ingin selalu mengatakan bahwa popularitas di dunia maya lebih penting daripada nilai manfaat tulisan yang menginspirasi.

Kucerna baik-baik kalimat demi kalimat email itu. Begitu tulus ia mengungkapkan nasihatnya. Aku tersadar. Alhamdulillah. Seseorang telah mengingatkanku tentang satu hal yang mungkin terlihat remeh. Tapi tidak bagiku. Aku melihatnya sebagai suatu bentuk ibadah yang mengedepankan pentingnya niat dalam setiap ibadah, termasuk beribadah melalui tulisan-tulisan yang aku hasilkan lalu ku-posting di blog dan beberapa milis yang kuikuti.

Karena menulis, bukan untuk popularitas semata. Popularitas hanyalah sebuah risiko dan konsekuensi logis. Tapi ibadah harus disterilkan dari segala bentuk niat yang menyimpang seperti popularitas. Ya, menulis adalah ibadah, sebagaimana niat awalku ketika mendaftar untuk jurusan jurnalistik dulu. Aku ingin beribadah, berdakwah dan berjihad dengan pena. Dengan tinta yang kutulis di atas kertas hingga menjadi tulisan yang menginspirasi banyak orang untuk senantiasa lebih baik lagi.

Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan maka ia juga akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakan itu. Dan barangsiapa yang menunjukkan keburukan maka ia juga akan mendapat dosa sebagaimana dosa orang yang mengerjakan itu, tanpa dikurangi sedikitpun.

Terima kasih sahabat. Meski aku tak mengenal dirimu, tapi kau telah mengingatkan diriku yang pandir ini. Kutulis pesan singkat sebagai balasan tanda terima kasihku atas keikhlasannya menunjukkan kebaikan :

Terima kasih banyak atas masukannya. Insya Allah saya ikuti sarannya…

*) Untuk Novee Arman (noviarman111@gmail.com), where ever and whoever you are Semoga Allah senantiasa menunjukkanmu hidayahNya. Jazakumullah khairon katsiroo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s