Film Ayat-Ayat Cinta : Dipuja dan Dibajak!

Masyarakat kita begitu nampak apresiatif pada awal beredarnya Novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Novel yang diklaim penulisnya sebagai ’Novel Pembangun Jiwa ini’ mampu menambah geliat sastera Islami yang tengah bangkit mencari tempat para penikmat sastera di Tanah Air.

Ide yang ditawarkan Habiburrahman El-Shirazy, Sang Penulis AAC, memang mudah dicerna dengan bahasa universal, yakni cinta. Namun, romantisme yang ditawarkan memang berbeda dari karya sastera sebelumnya yang kebanyakan bertemakan cinta syahwat nan seronok. Kang Abik, begitu sang penulis ini biasa disapa menawarkan roamantisme dalam Islam, cinta kepada sesama yang tak lebih tinggi dari cinta manusia kepada Sang Pemilik Cinta, Allah ‘Azza wa Jalla.

Sedemikian indah dan menarik novel ini diceritakan hingga mengalami cetak ulang beberapa kali sejak akhir 2004 digulirkan ke pasar. Efeknya luar biasa, bahkan sebuah suratkabar nasional menyebutkan bahwa AAC merupakan sebuah keajaiban yang ditorehkan oleh seorang penulis Indonesia.

Keajaiban? Benar, kata inilah yang mampu mewakili sebuah karya apik karya anak negeri yang satu ini. Sekitar tiga tahun peredaran AAC, tak kurang sekitar 400 ribu eksemplar telah laris dijual. Dengan angka ini, Kang Abik berhak mendapatkan royalti sekitar Rp.1,8 Miliar dan tercatat sebagai penulis yang mendapat royalti terbesar sepanjang sejarah kepenulisan Indonesia.

Itu baru materil, belum lagi beberapa penghargaan yang berhasil ditoreh, seperti Pena Award untuk kategori Novel Terpuji Nasional pada tahun 2005. Pada tahun yang sama pula, novel tersebut juga meraih The Most Favourite Books and Writer 2005 mengalahkan serial Harry Potter versi Majalah Muslimah. Kemudian, terpilih sebagai Novel Dewasa Terbaik dalam Islamic Book Fair 2006. Yang teranyar, Kang Abik dianugerahi sebagai Novelis No. 1 Tahun 2007 dari Insani Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan dinobatkan sebagai salah satu Tokoh Perubahan oleh Republika pada 4 Januari 2008.

AAC Diangkat ke Layar Lebar

Novel AAC yang fantastis ternyata membuat produser MD Picture Manooj Punjabi melirik kesempatan emas untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dengan penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim (sekitar 80%), MD Pictures setidaknya menargetkan 1% (sekitar 2 juta orang) saja Muslim yang menonton film ini.  Dengan hitungan 20 juta dikali sepuluh ribu maka setidaknya diperoleh pendapatan kotor sekitar Rp. 20 Milyar yang akan dikurangi biaya produksi setidaknya Rp. 10 Milyar. Hasilnya keuntungan bersih sebesar Rp. 10 milyar!

Menurut hemat saya, keputusan Kang Abik untuk menerima tawaran AAC difilmkan bukan hanya pertimbangan materi semata. Ada pertimbangan kemaslahatan dan dakwah yang harus dipertimbangkan, meski banyak kalangan dan para ’penggila’ AAC yang menolak novel itu difilmkan. Mereka khawatir nilai-nilai Islam akan luntur dengan selera pasar para kapitalis untuk mereguk keuntungan.

Seperti pernah diberitakan di media, keuntungan royalti selama ini yang ia peroleh digunakannya untuk membangun sebuah pesantren karya dan wirausaha Basmala yang berlokasi di Semarang. Jadi, bisa kita katakan bahwa keuntungan dari film AAC juga akan digunakannya untuk mengembangkan dakwah. Menurut saya, ini merupakan sebuah langkah jitu untuk merambah dakwah di dunia pertelevisian Indonesia, mengingat masih sedikit film yang bertemakan dakwah.

Buktinya, dari informasi yang beredar banyak aktor dan aktris yang ’terwarnai’ dengan film ini menjadi lebih baik dan sadar akan nilai-nilai Islam sebagaimana pesan moral AAC, termasuk sang sutradara Hanung Bramantyo seperti dikisahkan di blognya. Itu artinya, dakwah Kang Abik melalui karyanya dengan sadar atau tidak telah melintasi relung hati para kru dan pemain, itu minimal, belum lagi para pemirsa AAC nantinya.

Karya Itu Dibajak!

Bukan Indonesia namanya kalau tidak ada pembajakan karya. Meski belum sempat film itu diluncurkan di bioskop di Indonesia ternyata sudah beredar AAC versi bajakan. Hal ini membuat Hanung Bramantyo geram dan bingung. Bagaimana mungkin film yang belum diluncurkan tapi versi bajakan sudah ada di pasaran.

Menurut saya, di sinilah letak perbedaan mana karya besar dan bukan, yaitu pembajakan. Memang terdengar menyakitkan, tapi mana mungkin sang pelaku mau membajak karya yang ’ecek-ecek’? pasti yang dibajak adalah karya yang bermutu dan bernilai tinggi. Dalam hal ini, saya tak hendak membela sang pembajak, bukan. Hanya sedikit rasionalisasi bahwa Novel AAC yang megabestseller dan dicintai sekian banyak penikmat sastera ternyata tetap tangguh ketika diangkat ke layar lebar dan berhasil menarik banyak simpati dari setiap elemen masyarakat, termasuk elemen pembajak. Hehehe…😀

8 thoughts on “Film Ayat-Ayat Cinta : Dipuja dan Dibajak!

  1. hehe… namanya juga orang Indonesia, sawah sudah jarang Mas, jadinya bajak Film deh.😀
    sudah nonton bajakan masih saja banyak yang bilang film itu jelek. aneh.😐

    1. kalo saya harapannya banyak mas: mau beli villa di puncak, mau beli pajero, mau beli telp satelit, mau punya pulau pribadi, mau……..oya masuk syurga saya juga mau kok mas…:D

  2. saudaraku….
    terlepas dari membaja-dibajanya AAC… ada hal yang paling krusial yang terlewatkan. mungkin…
    ada perbedaan nuasa, ketika anda membaca novel terlebih dahulu, baru menonton film di banding anda menonton film terlebih dahulu, baru membaca novelnya.
    untuk novelnya.. saya berikan bintang 5 plus…..
    sedangkan untuk filmnya…
    saya sendiri ragu untuk memberikan nilai bintang 1….
    kenapa..
    karna konsep2 dan nilai2 islam yang terkandung di dalam novel, banyak yang tidak terealisasi bahkan bertentangan dengan maksud dan tujuan yang dijunjung sang novel…
    ah… betapa mirisnya…. ternyata film-nya… memang jauh dari yang diharapkan…

    1. kalo mas punya pikiran begitu mungkin saya anggap wajar kalo mas punya pengetahuan keislaman yang baik….
      tapi kalo buat orang yang pemahaman islamnya cekak (spt saya), saya apresiasi sebagai penyebaran nilai islam bagi masyarakat umum, karna gak semuanya punya pemahaman islam yang ideal seperti mas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s