Nenek di Bawah Pohon Beringin

11 April 2008

Badannya kurus dan lusuh. Kerudungnya pun sederhana, hanya sepotong kain yang dililitkan di wajahnya yang mulai keriput. Pakaiannya pun tak senada antara atasan dengan bawahannya. Sepintas, wanita paruh baya ini nampak seperti wanita yang berkarakter buruk, namun ada kesan lain bila mengajaknya berbincang sejenak tentang makna hidup dengan wanita asal Sumatera Utara ini.

Di kalangan Universitas Indonesia di Kampus Salemba, Jakarta Pusat, ia sudah begitu dikenal. Tak ada yang tahu persis nama aslinya. “Sebut saja aku nenek cerewet di bawah pohon beringin, pasti semua orang tahu di sini,” ucapnya sambil terkekeh.

Mudah sekali untuk menemuinya. Ia selalu berjualan minuman botol di depan Masjid Arif Rachman Hakim (ARH). Bahkan sesekali memunguti koran yang biasa dipakai jemaah sholat pada hari Jumat untuk menambah penghasilan.

Seperti sore tadi, saat aku ingin menjenguk seorang korban kebakaran pada Senin lalu di Unit Perawatan Khusus (UPK) Luka Bakar R.S. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Panas yang menggigiti kerongkonganku sepanjang perjalanan Kramatjati-Salemba, menggiringku untuk berisitrahat sejenak untuk sembari membasahinya dengan air dingin.

”Satu ya, teh botolnya yang dingin,” pintaku sambil duduk di anak tangga menuju pelataran masjid. Dengan cekatan, tangan rentanya mencari botol yang kumaksud. Beberapa detik, botol itu dibuka dengan paku yang menancap di sebilah papan dan disodorkannya padaku.

Tak ada sepuluh detik, air manis berwarna cokelat itu sudah habis. ”Bocor ya bu botolnya,” candaku sambil menyerahkan botol kosong itu. ”Ya tambah lagi,” katanya menawarkan yang segera kusambut dengan anggukan kepala tanda setuju.

Kembali ia mengaduk kotak besar yang dipenuhi es dan botol-botol air minuman. Botol kedua kuterima sambil berbasa-basi kutanya, ”Ibu ini asalnya dari mana?”

”Sumatera Utara,” jawabnya sambil jari telunjuknya diarahkan ke belakang.

”Wah, jauh sekali…,” komentarku.

”Tidak lah, karena masih di Indonesia. Kalau adik belajar di Amerika atau Australia itu baru jauh,” jawabnya ceplas-ceplos.

”Luar negeri? Ah kayaknya nggak mungkin, bu. Kan sulit belajar di luar negeri, mahal,” balasku datar sambil menyedot teh kedua.

”Lho kenapa nggak mungkin? Mungkin saja. Kalau ada keinginan kuat, usaha terus pasrahkan pada Allah. Kalau Allah punya mau, pasti ada jalan,” tuturnya penuh bijak dengan logat batak yang khas. To the point.

Aku tercekat. Tenggorokan ini rasanya tak lagi kering. Aku menunduk malu. Biasanya aku yang kerap memberikan semangat kepada rekan-rekan mengenai usaha, doa, tawakkal dan takdir Allah. Semoa memiliki korelasi yang positif untuk diubah. Memang kuakui, keinginanku untuk memperoleh beasiswa ke luar negeri sempat mampir di hati. Keinginan belajar di negeri orang dan kembali ke Tanah Air dengan semangat untuk memperbaiki negeri tercinta adalah keinginan setiap generasi muda yang progresif terhadap perubahan. Terutama bagi mereka yang tak memiliki dana untuk belajar di luar negeri, sehingga menggantungkan harapannya dengan pilihan beasiswa.

”Pasti bisa. Ibu doakan,” ucapnya membangunkan lamunanku.

”Insya Allah. Doakan ya,” pintaku sambil merogoh kantong. ”Berapa bu?,”

”Rp.4000 saja,”

Kuberikan selembar uang bergambar Sultan Mahmud Badarudin II. ”Ini bu. Tak usah kembali. Terimakasih nasihatnya,” ujarku sambil melempar senyum pada wajah rentanya.

”Alhamdulillah,” ucapnya sambil membalas senyum.

”Tapi, nama asli ibu siapa?” tanyaku penasaran sambil bersiap pamit.

”Zaenab,”jawabnya singkat.

Aku pun melangkah masuk ke halaman Masjid ARH dengan perasaan baru, semangat baru. Terima kasih ya. Perbincangan kita sore itu begitu menginspirasi dan meninggalkan bekas-bekas pelajaran berharga. Semoga doa Ibu Zaenab terkabul, doaku dalam hati.

2 thoughts on “Nenek di Bawah Pohon Beringin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s