Surat Terbuka untuk ‘Keadilan’

Sulit sekali bagi saya dalam mendefinisikan ‘keadilan’. Melalui surat terbuka ini, saya ingin bertanya langsung kepada ‘keadilan’ untuk mendefinisikan ‘dirinya’ sendiri. Agar tidak terjadi polemik, khilafiyah, atau ada perbedaan yang berujung pada perpecahan umat. Yang terakhir ini adalah sebuah kerugian besar bila tak dapat dielak atau dikelola dengan baik. Namun, saya lebih suka untuk tidak menyebut ‘perbedaan’ dan lebih menyukai ‘dinamika’ untuk mewakilinya.

Dengan keterbatasan ilmu dan pengalaman, bagaimanakah ‘keadilan’ di dada umat dapat didefinisikan? Setiap orang akan memiliki beragam pandangan mengenai berbagai urusan dalam menimbang takaran keadilan atau permasalahan lainnya. Janganlah berharap adanya sebuah jawaban atau pendapat yang seragam, karena hal itu hanya bisa dilakukan malaikat.

Kita adalah manusia. Manusia yang ditakdirkan memilki setiap jengkal dinamika dalam diri kita. Antara satu dengan yang lain, tak ada yang sama persis sekalipun bayi kembar siam. Kalaupun ada yang hampir sama identik, namun ada karakter, psikologi dan watak yang amat jauh perbedaannya. Apalagi kita yang memilki pendidikan, pengalaman, status ekonomi dan sosial yang beragam, akan dijumpai 1001 dinamika dalam setiap gerak dan langkah kita. Yang pasti, dinamika adalah sunnatullah dan menghargai dinamika adalah sebuah kearifan dan pilihan bijak orang tertentu saja. Lalu kenapa kita tidak memilih hal ini?

Sebagai contoh untuk tidak memperpanjang topik ini, kita semua tentu masih ingat kisah seekor keledai dengan sepasang ayah-anak yang menyusuri kampung. Kisah ini menunjukkan sebuah KEBENARAN DAN KEADILAN YANG RELATIF. Karena setiap orang berpikir dari apa yang ia lihat, ia dengar, ia rasakan dan ia kecap selama hidupnya. Saya ringkas saja demikian :

Ayah naik keledai, anak berjalan = TEGA

Anak naik keledai, ayah berjalan = TIDAK TAHU DIRI

Ayah dan anak naik keledai = KEZALIMAN

Ayah dan anak tidak naik keledai = KEMUBAZIRAN

atau yang lebih ekstrim :

ayah dan anak MENGGENDONG keledai = KEBODOHAN YANG LUAR BIASA.

Ini menunjukkan, pada persoalan yang mengundang polemik sangat rentan untuk terjadinya sebuah perbedaan. Seandainya persoalan itu erat dengan kebenaran dan keadilan yang relatif sebagaimana yang sering terjadi, kecuali kebenaran dan keadilan yang telah digariskan dalam koridor Al-Quran dan sunah ; kebenaran mutlak (Qoth’i).

Ada 3 pertanyaan yang mesti dijawab bila konteks keadilan dan kebenaran yang relatif didekatkan. Tentunya bukan yang mutlak telah digariskan Al-Quran dan sunah, karena dua koridor ini tak bisa diperdebatkan dan bersifat aksiomatis.

Lalu bisakah kita membayangkan hidup dalam sebuah keseragaman?

Pernahkah kita memberikan satu toleransi kepada saudara kita yang memiliki perbedaan sedikit saja?

Dan sudahkah kita menghargai dengan tingkat penghargaan terendah sekalipun pada seseorang yang berbeda dari segolongan tertentu?

Silakan memberikan pandangannya….

Karena setiap kita memiliki latar yang beragam dan sangat dinamis….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s