Surat Terbuka untuk ’Keadilan’ (Bagian Kedua)

Keadilan selalu memiliki timbangan yang berbeda bagi setiap orang, karena perspektif dalam melihat setiap hal memang kerap beraneka. Kisah keledai dan ayah-anak itu menunjukkan dinamisnya timbangan keadilan dipertontonkan bahwa dinamika adalah sebuah rahmat yang Allah anugerahkan pada manusia.

Hikmah dari kisah itu, janganlah seorang muslim terjebak pada penilaian sesaat yang bersifat jangka pendek. Memandang satu persoalan pada konteks sekarang, bukan nanti dan masa depan. Bukan pula memandang satu hal itu pada tataran pragmatisme saja, tapi lebih jauh ; harus visioner. Atau terjebak pada tataran teori saja : bahwa dinamika adalah suatu keniscayaan hidup. Pahami dengan benar dan seksama, kekuatan kebersamaan bagi manusia adalah keharusan. Prinsipnya, keadilan dan kesejahteraan harus dilihat dari sudut pandang yang obyektif.

Kenyataannya, kita hidup di alam realitas, bukan di negeri teori yang penuh dengan nilai dan aspek idealitas. Atau negeri dongeng dimana malaikat berkeliaran dan terbang ke sana kemari. Bahwa realitas ketidakadilan, seringkali disebabkan bukan karena pelakunya tidak tahu ’teori keadilan’ itu, tapi lebih kepada rasa benci yang bersemayam dalam dada. Hal inilah yang dikhawatirkan sebagaimana firmanNya :

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Saya pernah melihat bagaimana ketidakadilan dipertontonkan. Suatu ketika, Iwan, sebut saja begitu, dipecat dari kantornya. Ia terkejut atau lebih tepatnya sedih? Sehingga, bulan berikutnya ia tidak perlu masuk kantor lagi dan uang pesangonnya telah dipersiapkan.

Padahal, menurut rekan kerjanya, Iwan adalah karyawan yang cukup berdedikasi, pekerja keras dan selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Lalu apa penyebab ia diberhentikan dengan mendadak? Selidik punya selidik, seorang direktur mengatakan bahwa dipecatnya Iwan lebih disebabkan karena ketidaksukaan manajernya terhadap beberapa sikap Iwan.

Mungkin karena manajernya seorang wanita, sehingga pertimbangan dan penilaiannya hanya berdasarkan perasaan tidak suka bukan pada kinerjanya. Yang lebih miris lagi, ternyata ada rekan kerja Iwan yaitu didi (nama samaran) yang memiliki kinerja yang jauh lebih buruk tetapi tidak dipecat sebagaimana seharusnya atau minimal mendapat penilaian buruk. Ini berdasarkan pengakuan rekan kerja yang lan.

Sudahkah ini dianggap adil?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s