Sahabat, Izinkan Aku Pamit

Tak seperti biasanya, beban tasku sore itu begitu berat. Semua barang pribadi yang biasanya kutinggal di meja, kubawa semua. Hari itu aku berbenah karena keesokan harinya, aku sudah resmi tak berkantor di tempat itu lagi. Tasku begitu berat. Sangat berat malah. Tak hanya barang pribadiku, tapi semua kenangan manis-pahit serta banyak pengalaman yang kubawa serta dengan tas gemblok hitamku itu.

Setelah usai berbenah, kutatap untuk yang terakhir kali meja kerjaku yang sederhana itu. Tak ada yang istimewa di atasnya, kecuali beberapa dokumen dan alat tulis. Setelah kupastikan tak ada yang tertinggal, aku melangkah turun sambil melempar senyum ke beberapa rekan kerja. Sambil bersalaman, aku juga memohon maaf kepada mereka. Mungkin saja ada salah ucap dan perbuatan yang menyakitinya. Apalagi, beberapa hari mendatang akan Ramadhan, aku semakin terharu meninggalkan mereka yang selama dua tahun lebih menjadi rekan kerjaku.

Sepintas, bayangan kali pertama aku bekerja berkelebatan. Saat dimana aku bekerja di lembaga kemanusiaan itu, 1 Mei 2006. Saat itu, aku masih semester akhir dan tengah menyelesaikan skripsi. Meski belum lulus, aku dierima bekerja. Aku bersyukur bisa mempraktikkan ilmu yang kudapat di bangku kuliah jurnalistik.

Tugas pertama yang diberikan adalah misi kemanusiaan di Jogja. Saat itu, aku belum genap sebulan bekerja. Belum juga mencicipi gaji pertama tapi sudah harus mengemban tugas yang cukup berat. Tapi aku merasa senang dan tertantang untuk menjalaninya dengan sepenuh hati. Aku menyebut pekerjaanku sebagai wartawan kemanusiaan. Meski bukan wartawan beneran di media massa tapi aku cukup bangga menyebutnya demikian.

Namun dalam waktu dekat, statusku akan berubah. Tepat 1 September mendatang aku akan menyandang status sebagai Acquisition Editor di sebuah penerbitan buku nasional. Sejak enam bulan terakhir, aku mulai belajar menggeluti dunia penerbitan, mulai dari kopi darat dengan penulis dan editor hingga mengikuti pelatihan editologi.

Keinginanku untuk menjadi editor professional semakin tak terbendung. Kerinduan untuk menginspirasi manusia dengan buku telah ada sejak aku di bangku SMA. Dan sekarang, kesempatan itu datang menghampiriku. Ia bagai sebuah anak tangga yang akan membawaku ke puncak cita-cita. Dan aku sadar harus memulainya dari bawah.

Ada semacam rasa gamang dan bersalah pada lembaga yang telah membesarkanku dua tahun terakhir ini. Tapi setelah berkonsultasi dengan beberapa rekan, akhirnya kumantapkan hati untuk mengambil kesempatan itu. Aku yakin, dakwah yang kulakukan bersama lembaga ini masih bisa kulanjutkan di tempat lain. Dan aku yakin, masih banyak orang yang sangat berpotensi di luar sana yang bisa menggantikan posisiku di lembaga ini. Terlalu naïf rasanya saat ada seseorang yang berujar “Antum memang tak tergantikan di posisi itu,”. Entah pujian atau sebaliknya, tapi yang jelas aku bukan orang yang pantas dinilai seperti itu.

Kupercepat langkahku menuju parkiran motor di depan kantor. Senja merona indah kian kuning kemerahan. Ada nafas baru ditarik dan dihela diantara angan, harapan dan cita-cita di balik rongga dada. Seorang pemuda di balik helm agiva itu, mulai menghidupkan mesin motor Jupiter bututnya. Di dadanya, Segala perasaan berkecamuk dan mengkristal menjadi sebuah tekad. Di detik terakhirnya di kantor itu, ia masih sempat menyelipkan email dan sebait puisi terakhir di milis lembaga itu :

Sahabat, jangan picingkan mata tanda curiga ketika kita bertemu kelak.

Jangan alihkan pandang dengan sengaja ketika mata bertumpu menatap

Jangan pula menyindir sinis bila salam pertemuan kembali duucap.

Jangan pula dendam menggumpal dan menggunung di dalam dada.

Selseaikan saja hari ini, di dunia ini.

Jangan kita bawaserta dendam dan apapun itu kemanapun kita pergi.

Biarkan kenangan indah penuh kebaikan yang tetap tinggal bersama kita di sini, di dunia ini.

Karena di akhirat, kita akan melihat indahnya buah ukhuwah itu.

Ramadhan kian dekat. Tapi waktu kita tak ada yang mampu menerka. Apakah kita akan tetap bersamanya? Semoga ramadhan kali ini membawa keberkahan bagi peningkatan iman kita.

 

4 thoughts on “Sahabat, Izinkan Aku Pamit

  1. Syairnya bagus. Memang susah banget berpisah dengan lingkungan yang sudah ‘membesarkan’ kita. Tapi terlalu lama ‘nyaman’ di suatu tempat terkadang membuat kita stuck dan gak ‘tumbuh’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s