Berjalan di atas Kebenaran

Saya kerap terheran-heran bagaimana seseorang bisa berubah pikiran akibat intervensi orang lain dalam melihat kebenaran. Kebenaran yang hakiki hanya akan terasa nyaman oleh hati. Ia tidak akan bergejolak dalam dada ketika hadir dalam hati kita setiap hari, kita mungkin bisa menyelesaikan bacaan Quran kita setidaknya satu juz, atau setengahnya atau bahkan kurang. Belum lagi ibadah wajib dan sunnah lainnya yang dianjurkan, maka semakin kariblah kita dengan pewarnaan Allah- sbaik-baiknya pewarnaan. Dari sinilah, cahaya Allah perlahan masuk ke relung dan ruang hati kita. Tanpa sadar, perlahan Allah mengaruniakan ‘furqan’ pada diri kita sebagai rambu untuk melihat baik-buruk sertiap peristiwa.

Dalam Tafsir Fii Zhilal lil Quran, Sayyid Quthub mengutip apa yang pernah diucapkan Imam Al-Ghazali mengenai iman. menurutnya, ciri iman seorang muslim, ia selalu bergerak aktif dalam jiwa manusia. Ciri yang nampak dari aktifias gerak di dalam hati itu, nyata pada produktifitas amal yang dilakukan. Sungguh, dari pernyataan ini, kita harus merenung, sudahkan iman itu sennantiasa ‘hiperaktif’ dalam dada kita? Sehingga, produktifitas amal yang kita lakukan terus menghasilkan karya bagi kemaslahatan umat.

Apa yang telah kita lakukan kemarin, saat ini dan yang masih kita rencanankan, mudah-mudahan adalah sebuah pertanda bahwa iman kita belum ‘wafat’. bila badan masih bergerak sementara imannya terlelap, hanya menjadikan kita sebagai ‘seonggok mayat hidup yang berjalan’. Sia-sia.

Lalu, seperti yang saya herankan di awal tulisan ini, bagaimana mungkin, sebuah intervensi seseorang mampi mengubah penilaian kita mengenai konsep ‘kebenaran’? Seandainya iman kita sebagaimana yang dicirikan Imam Ghazali, masih aktif bahkan mungkin ‘hiperaktif’ mengarahkan kita pada produktifitas amal, maka dimana bashirah dan mata hati kita gunakan dalam melihat kebenaran itu? Tak pedulilah intervensi sang penguasa, para ulama, bahkan orang-orang yang sholeh sekali pun, selama kita masih dalam ‘alal haq, maka pihak-pihak yang berusaha mengintervensi itu secara tidak langsung telah memposisikan dirinya sebagai ‘alal bathil.

Kalau yang terjadi seperti ini, apakah kita masih takut menerima kebenaran? sementara Allah bersama kita dankita telah menyandang predikat ahlul haq?

Kebenaran, hanyalah sesuatu yang terasa nyaman dalam jiwa. tak ada penolakan, tak ada konflik batin, tak ada keraguan, tak ada penerimaan dengan kata ‘tapi…’ bahkan tak ada perdebatan
Kebenaran mungkin tak nampak untuk beberapa saat.
Kebenaran mungkin sedang tertutupi kabut saat ini.

Tapi suatu saat, kebenaran akan menampakkan dirinya di depan ahlul haq dan ahlul bathil sesuai dengan rencana Allah dan saat itu, tak ada lagi perdebatan mengenai kebenaran yang dulu diributkan karena kabut tipis menyelimuti mata batin kita.

“Maka berjalanlah bersama ahlul haq, meski barisan itu sepi bahkan kerap dimarjinalkan. Tetapi Allah senantisa bersama mereka….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s