Aku Bukan Pembunuh Waktu Dakwahku

Ditatapnya gelas di ruang tamu itu. Kosong. Tak ada air cokelat manis yang hangat menemani rintik hujan di luar sana. Biasanya, gelas itu mengepul tiap malam selasa dan malam jumat menemani sekumpulan anak muda yang berdiskusi bertopik “langit”. Ya…apalagi kalau bukan membicarakan dakwah, dakwah dan dakwah yang selama ini mereka pahami, dilakukannya dengan setia. Tanpa keluh, tanpa kesah dan tanpa sesal meski mereka harus mengorbankan tetes keringat atau merogoh kocek lebih dalam demi menjaga nafas dakwah agar lebih panjang.

Tetapi malam itu berbeda. Seorang lelaki duduk di sebuah ruang tamu berdinding kuning. Di tatapnya gelas-gelas yang masih kosong tak berpenghuni. Dilirik arloji bututnya sekilas, jam 21.19. Seakan tak percaya, sudah lewat hampir satu jam 20 menit, tak ada satupun sahabat yang memberikan kabar kehadiran atau kealpaan dirinya. Ia tampak sedih namun segera perasaan itu diusirnya jauh-jauh dengan menjejalkan seratus prasangka positif ke dalam jejak pikirnya kala itu.

“Mungkin mereka sakit…” ujarnya pelan mulai mendoktrin pikirannya.
“Atau gak punya pulsa sekadar memberi kabar…”
“Atau ada urusan penting yang mendadak,”
“Atau mereka lelah dan sibuk…”
“TIDAAAAK……” batinnya bergolak dan berontak Untuk alasan yang terakhir, lelaki itu gundah dan mulai tak bisa menerima. Darahnya naik ke kepala, wajahnya memerah memendam kesal.

“Bukankah semua orang sibuk dan lelah?” ia mulai menggugat.
“Kenapa dakwah yang harus menjadi korban….?” gugatannya meluncur di tengah badai kecewanya. Ia sadar betul, kecewa pasti akan menyegera bila harap kita sandarkan pada manusia. Segera ia ingat nasihat seorang ustadz dalam sebuah film kesukaannya. Bukan, film itu bukan Laskar Pelangi yang banyak dinikmati “orang sepertinya” di bioskop yang ikhtilat tetapi film kesukaannya itu melebihi film lainnya, Sang Murobbi.

“SEONGGOK KEMANUSIAN TERKAPAR, SIAPA YANG MAU BERTANGGUNG JAWAB!? BILA TAK ADA YANG MAU…BIARLAH AKU YANG AMBIL SEBAGIAN ATAU PUN SELURUHNYA” (UST.RAHMAT ABDULLAH).
Sejurus kemudian ia beristighfar. “Astaghfirullah…”. Ia menyadari tak ada manusia yang sempurna. Karena ketidaksempurnaannya itulah, manusia menjadi sempurna.

*********
Di kesempatan yang lain, seorang lelaki terduduk di sebuah musholla milik sekolah dasar islam terpadu. Hatinya sedikit gelisah melihat jam yang menunjukkan pukul 12.55. Belum ada juga yang muncul. Padahal hari itu, lima menit lagi, ia diundang rapat akhir tahun sebuah yayasan. Sepuluh menit berikutnya, seorang lelaki tergesa sambil menuntun anak usia sekitar empat tahun di tangan kiri dan menjinjing tas LCD di tangan lainnya.

Setelah saling menyapa, keduanya terlibat dalam perbincangan ringan. Sesekali keduanya tertawa dan menyelingkan canda sebagai bumubu obrolan. Tak terasa dua jam berlalu. Baru lima orang yang hadir. Selebihnya, hadir melalui kiriman singkat sms. Betul-betul singkat dan tak lupa menggunakan kalimat sakti “Afwan akhi…” yang mampu meluluhkan hati si penerima pesan.

Akhirnya, rapat pun dimulai dengan kondisi waktu yang sudah ngaret dua jam. Tak tanggung-tanggung memang.

*********

Perhatian kita terhadap waktu masih sangat memprihatinkan. Ketika tak datang, kita lebih akrab dengan alat komunikasi yang murah meriah itu: SMS. Dan semua urusan pun beres. Itu masih lebih baik, ketimbang raib-lenyap tanpa kabar. Atau ketika kita terlambat, tanpa rasa bersalah meminta maaf dan menjelaskan alasan keterlambatan, kita sering pula menzalimi rekan lain yang sudah lama menunggu. Bukankah ini kezaliman? Apalagi ketika alasan dakwah dibenturkan dengan dakwah itu sendiri. Apakah dakwah yang salah? Bukankah ini karena soal kepandaian kita mengatur waktu? Berdoalah, agar diri ini tidak menjadi pembunuh waktu bagi dakwah yang kita semai…

Wallahu’alam
“Ya Robb, Ampuni diri yang tersalah ini…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s