Hati yang Beribadah, Beribadahlah dengan Hati

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’d: 28). Ayat ini menunjukkan salah satu bentuk ibadah hati, yaitu dengan berdzikir –mengingat Allah– agar hati kita menjadi tenteram. Bahkan Allah memberikan penekanan berulang sehingga nampak jelaslah, hati yang mengingat Allah akan mendapatkan ketenteraman jiwa. Sebaliknya, hati yang gundah, gelisah dan resah adalah hati yang jauh dari aktifitas mengingat Rabbnya.

Ibadah, sebagian kita mungkin mengenalnya hanya sebatas ibadah fisik dan yang tampak saja. Itu tidak salah, namun akan lebih sempurna bila ibadah fisik diiringi dengan ibadah hati. Sehingga, seluruh potensi jasmaniah dan ruhaniah kita berpadu dalam bekerja dan beraktifitas yang bernilai ibadah dengan ketundukan hanya kepada-Nya. Sepertihalnya seseorang yang salat, dengan menghadirkan perasaan khusyuk, takut dan berharap kepada Allah maka akan lebih sempurna ibadah salatnya. Jasadnya berdiri, rukuk dan sujud menunjukkan seluruh organ tubuhnya yang tunduk-patuh dan rela-pasrah untuk menyembah hanya kepada-Nya. Sementara hatinya berdzikir mengingat kemahabesaran, kemahasucian dan kemahaagungan Pemilik semesta alam, Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah kesempurnaan ibadah seorang Muslim yang menginginkan cinta dan rida dari Rabbnya.

Ini juga berlaku bagi ibadah lainnya. Ibadah yang menggerakkan anggota tubuh dan hati secara simultan akan melahirkan kesempurnaan ibadah. Ini menunjukkan, seluruh potensi manusia sebagai hamba bisa dioptimalkan untuk ibadah apa pun jenis aktifitas itu. Sebagaimana diserukan dalam firman-Nya yang mulia:
Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (Adz-Dzaariyat: 56).

Seseorang yang bersedekah, mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan adalah ibadah yang bisa disaksikan. Bila sedekahnya disertai dengan perasaan ikhlas, berharap bahwa Allah-lah yang akan membalasnya, maka sedekahnya menjadi ibadah yang jauh bernilai di hadapan Allah. Bukan berharap pada pujian manusia atau penilaian baik orang terhadap kita yang justru akan menyesatkan kita pada lembah maksiat kepada Allah Swt.

Inilah sebabnya Rasulullah menguatkan akidah para sahabat pada masa awal dakwahnya di Makkah. Tiga belas tahun pertama, Rasulullah menancapkan tauhidullah pada kalbu kaum Muslimin, agar hanya kepada Allah-lah manusia menyembah dan hanya kepada-Nyalah memohon pertolongan. Inilah pekerjaan hati, tentunya hati yang dinaungi cahaya dan kasih-sayang Rabbnya. Maka, kita bisa menyaksikan para sahabat yang unggul dalam hal ibadah dan menjadi contoh yang baik karena penanaman keimanan pada kalbu oleh Rasulullah telah berhasil dilakukan. Bukankah amal yang produktif seorang Muslim itu berasal dari keimanan yang bergerak aktif yang bersemayam dalam hatinya?

Sangat ironi bila kita melakukan ibadah seperti menuntut ilmu, mengajarkan Al-Quran bahkan berjihad di jalan Allah hingga mati terbunuh, namun tidak menghadirkan keikhlasan dalam amal itu. Sehingga pada Hari Pembalasan kelak, kita akan dimasukkan ke dalam neraka akibat kelalaian menjaga hati. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits:
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radi allahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kita Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).

Begitu dasyatnya perubahan niat dalam hati manusia. Sedikit saja kita lalai dalam menata hati akan membawa perubahan yang mendasar. Seperti disebutkan dalam hadits di atas, seseorang yang tampak berhijrah bersama rasul pun dinilai oleh manusia lain seperti tampak beribadah. Padahal sejatinya, yang bersemayam dalam hatinya adalah keinginan untuk berdagang atau menikah dengan wanita lain. Maka, apa yang diinginkan akan Allah berikan sesuai dengan niat awalnya sehingga ia tidak memperoleh keridaan dari Allah Swt. Na’udzubillah.
Ibarat bahtera, kompas akan menunjukkan kita arah mata angin mengarungi samudera luas menuju pulau yang dituju. Sedikit saja berbelok dalam menetapkan arah, maka bahtera akan tersesat dan menjauh dari tujuan. Sama halnya dengan manusia yang memiliki “kompas” hati, sedikit saja salah dalam menetapkan niat maka aktifitas amal kita pada saat itu akan berakhir sia-sia.
Lalu, ke mana seharusnya hati ini dihadapkan?

Hanya kepada Allahlah kami menyembah dan hanya kepada Allahlah kami memohon pertolongan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s