Menulis, Kegiatan Menginspirasi Orang

Sabtu pagi itu, seperti biasanya. Rapat bidang humas sebuah yayasan diselenggarakan di rumahku. Rumah kecil yang terlalu besar bagi tiga penghuninya; ibu, kakak lelakiku dan aku sendiri. Dengan tiga kamar tidur dan ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga, rumah itu serasa bak sebuah istana bagi tiga kurcaci.

Seperti biasa pula, ibuku membuatkan teh panas dalam sebuah teko kaca dan menyandingkannya dengan sepirring pisang goreng yang masih panas untuk para tamu yang akan segera datang. Kugelar karpet di ruang tamu dan sedikit menggeser kursi-kursinya agar sedikit lebih leluasa. Tak lupa, kusiapkan kipas angin agar ketika rapat tak ada awak yang merasa tak nyaman dengan keringat mereka.

Jam 8.30. Tak lama, seorang kawan datang. Sedikit berbasa-basi dan menanyakan kabar, lelaki di hadapanku itu pun duduk. Kutuangkan teh ke dalam cangkir. Seketika kepulan asapnya menyembul saat air berwarna cokelat itu perlahan masuk ke cangkir. Tiba-tiba, HP sony ericsson-ku berbunyi. Ada pesan masuk. Kubaca dalam beberapa detik dan mulai sedikit kecewa karena rekanku yang lain berhalangan lain. Sehingga rapat kali ini tetap berjalan meski hanya berdua.

Satu setengah jam berlalu. Rapat berjalan dengan suasana santai. Usai rapat, kami isi pembicaraan dengan membahas soal sastera. Mulai dari diskusi buku populer, membuat blog, film adaptasi, novel best seller, sampai … kiat menulis!. Untuk tiga yang pertama, menurutku sah-sah saja bagi seorang awam untuk membahasnya. Tapi soal yang terakhir, aku belum bisa diandalkan meski aku lulusan jurnalistik sebuah perguruan tinggi swasta di selatan Jakarta.

“Bang, gimana sih resepnya bisa nulis bagus?”. Pertanyaan itu akhirnya muncul. Aku hanya tersenyum. Meski lulusan Jurnalistik, aku belum merasa tulisanku bagus atau paling tidak sebagus wartawan dan penulis pada umumnya. Tapi karena yang tanya berlatar belakang pendidikan teknik radiologi, maka kuberanikan untuk menjawabnya.

“Resep yang saya tahu dari baca buku, ikut pelatihan, dan waktu kuliah dulu cuma satu,” ujarku sambil menatap tajam matanya yang nampak antusias.

“Apa?” ia mulai penasaran.

“Menulis, menulis dan menulislah,” Jawabku singkat dengan nada rendah ke tinggi yang berurutan. “Itu artinya kita harus banyak berlatih dengan berbagai cara untuk memudahkan kita menulis,”.

“Misalnya, setting waktu terbaik untuk menulis, buat kerangka tulisan, banyak membaca agar banyak referensi kosa kata, menulis diary, membuat blog, siapkan buku saku agar kita mudah menulis di mana saja lalu menulislah dan terus berlatih,”

Jawabanku yang idealis bak seorang penulis sukses, memang tak bisa dibuktikan seratus persen. Karena, kata-kata indah itu harus dibuktikan dalam sebuah makhluk yang bernama ’buku’. Ya, buku sebagai karya, haruslah ada sebagai wujud eksistensi seorang penulis sejati. Tanpa buku, berarti tak ada yang namanya ’penulis’ dan ’pembaca’, sehingga jelaslah perbedaan orang-orang yang berperan sebagai ’aktor’ dalam peradaban dengan mereka yang hanya sebagai ’penonton’.

Namun kenyataannya, sampai detik ini belum satu ide dan pemikiran yang berhasil kurekam dalam sebuah buku. Aku pernah mencoba menulis dua buku non fiksi, tapi gagal. Sempat kudeteksi sebab kegagalanku menetaskan embrio buku itu, yakni virus bernama ’ketidakdisiplinan’.

Dari kegagalanku itu, aku mencoba mencari alternatif pemecahan lainnya. Aku mulai melirik pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan organisasi kesusasteraan. Mulai dari pelatihan yang gratis sampai yang membayar, tentunya yang sesuai dengan gajiku di sebuah lembaga kemanusiaan di Jakarta. Sampai beberapa hari yang lalu, di sebuah milis Forum Editor kulihat adanya pelatihan menulis buku yang diadakan Bambang Trim, seorang penggiat buku Tanah Air.

Setelah kubaca dengan seksama, betapa kecewanya aku melihat pesan yang dipos di milis itu. Menurutku, biayanya memang agak mahal, Rp.270.000 belum lagi ditambah biaya transportasi dan akomodasi karena acara itu diselenggarakan di Bandung. Kuredam semangatku tadi yang sempat menggelora, berharap adanya pelatihan murah dan berkualitas. Diam-diam, kuhibur jiwa yang terlanjur kecewa dengan sebait doa, semoga saja masih ada pihak yang mengerti kesulitan dan cita-citaku ini.

Peristiwa seperti ini, telah kucatat bukan untuk pertama kalinya. Sebleumnya, pelatihan jurnalistik atau kepenulisan semacam itu sering kubaca melalui beberapa milis yang kuikuti. Dan hasilnya selalu sama. Biaya yang tak terjangkau dan jarak yang tak rasional dengan kediamanku di Jakarta. Meski ada pelatihan dengan biaya relatif murah, namun pelatihan diadakan di Yogyakarta, Surabaya atau luar kota lainnya yang tentu saja biaya transportasi serta akomodasi yang masih tak mampu terjangkau kantongku.

Memang tak ada cara yang instan untuk sebuah kesuksesan. Begitu kira-kira yang kupahami dari sekian peristiwa semacam itu. Ini artinya, aku harus berjuang dengan lelehan keringat dan darah untuk menjadi seorang penulis.

Kuputuskan, untuk mengikuti perjalanan panjang para penulis hingga menunggu tangga kesuksesan. Tentunya dengan sedikit modifikasi dan penyesuaian terhadap kemampuan dan kapasitasku sebagai seseorang yang bermimpi sebagai penulis hebat. Cara yang kutempuh terbilang sederhana.

Pertama, aku berkhayal. Berkhayal? Ya. Karena kupikir semua kesuksesan akan berawal dari khayal, mimipi dan semacamnya. Dengan khayal itu aku menantik semangat dan rasa percaya diri untuk sukses. Dengan mimpi itu, aku mencoba mengganti sisi gelapku kepada sebuah cahaya harapan yang terang-benderang.

Aku pernah berkhayal menjadi Habiburrahman El-Shirazi. Jauh sebelum ia terkenal seperti sekarang ini. Aku berkhayal menjadi dirinya hanya pada kali pertama membaca Ayat-Ayat Cinta versi cerita bersambung (cerbung) di Republika. Begitu menggugah dan menginspirasi. Tak neko-neko dan tak pula berbelit.

Aku jadi ingat buku insiprasi bagi penulis yang ditulis M. Fauzil Adhim. ”Penulis yang baik adalah mereka yang mengubah ide yang sulit menjadi sesuatu yang mudah dipahami dan dicerna pembacanya. Bukan sebaliknya”. Dan bukankah lebih baik mempermudah dari mempersulit?

Langkah kecil berikutnya, aku menulis diary, membawa buku saku untuk menulis ide kapanpun dan dimanapun, mengikuti pelatihan (tentu dengan biaya terjangkau) serta membuat blog pribadi untuk berlatih dan mengepos tulisan-tulisanku. Tak lupa untuk banyak membaca karena penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula.

Ini semua kulakukan dengan satu tujuan, dengan menulis sebisa mungkin menginspirasi banyak orang untuk berbuat, berpikir dan berperasaan lebih baik. Bahwa bagi siapa saja yang menunjukkan satu kebaikan, maka ia akan mendapatkan kebaikan dari mereka yang berbuat baik itu. Dan itu bisa kita lakukan dengan menulis, menulis dan menulis. Tentunya menulis tulisan yang menginspirasi.

*) Ditulis untuk mengikuti seleksi Beasiswa Menulis dari Sekolah Menulis Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s