Catatan Bisnis Seorang Muhammad

Oleh : Lufti Avianto

Di tengah padang pasir nan tandus di Jazirah Arab. Panas terik menggigiti kulit hingga peluh basah dan menguap. Seorang bocah lelaki berada di tengah kerumunan ternak, menggiring binatang-binatang itu menuju daerah rerumputan. Muhammad, begitulah nama bocah itu. Sebuah nama yang akan mennguncang dunia dengan nubuwah yang dianugerahkan Pemilik Semesta, Allah ‘Azza wa Jalla.

Di kala anak seusianya tengah bermain-manja dengan orangtua, Muhammad kecil telah berkeringat menggembala ternak milik para hartawan kota Makkah. Dengan bayaran beberapa qirath*, beliau mencoba berdikari di tengah asuhan pamannya yang sangat sederhana, Abu Thalib. Keprihatinan yang membuat Muhammad kecil harus membantu ekonomi keluarga sang paman dengan bekerja serabutan.

Beranjak remaja, Muhammad muda mencoba menapaki dunia bisnis pada usia 12 tahun. Yaitu ketika beliau turut serta dalam perdagangan yang dilakukan pamannya ke Syiria. Pada tahap ini, beliau mencoba belajar cara (magang) berdagang sebagai bekal dalam menjalankan bisnisnya kelak.

Menjelang dewasa, 17 tahun, beliau memutuskan untuk menjadi pedagang sebagai pilihan karirnya. Ini dilakukan karena pamannya memiliki keterbatasan dalam hal finansial. Awal karirnya dimulai dengan berdagang kecil-kecilan di Makkah. Kemudian semakin berkembang dengan keprcayaan modal yang dititipkanoleh janda kaya dan anak yatim yang tidak mampu mengelola hartanya. Termasuk modal dari seorang janda kaya, Khadijah dimana beliau mengambil barang dari pasar, kemudian menjualnya kembali kepada penduduk di sekitar Makkah.

Dengan sifat keutamaannya, bisnisnya mengalami kemajuan yang pesat. Banyak investor yang mempercayakan modal kepadanya dengan sistem perdagangan yang saling menguntungkan, baik dengan sistem upah maupun sistem bagi hasil. Ini juga ditunjukkan saat beliau melakukan transaksi, seperti memberikan harga lebih dari yang sebenarnya kepada yang memberikan kredit dan memegang teguh janji.

Seperti pengalaman yang diceritakan Abdullah bin Abdul Hamzah bahwa, ”Aku telah membeli sesuatu dari Nabi sebelum ia menerima tugas kenabian. Karena masih ada satu urusan, aku menjanjikan untuk mengantarkan padanya, tetapi aku lupa. Ketika teringat tiga hari kemudian, aku pun pergi ke tempat yang telah kami sepakati dan masih menemukan Nabi masih berada di sana.” Beliau berkata, ”Engkau telah membuatku resah. Aku telah berada di sini selama tiga hari menunggumu,”

Usaha perdagangan pun tetap dijalankan, meski beliau telah menikah dengan Khadijah. Berbagai perjalanan bisnis dilakukan ke beragam daerah dan telah bermitra dengan berbagai macam orang. Seperti catatan hubungan dagang antara beliau dengan Saib bin Ali Saib. Nabi menyambut Saib pada hari fathu Makkah seraya berkata kepada Saib, “Selamat datang saudara dan mitra bisnisku yang tak pernah kita berselisih.” Saib pun mengakui bahwa hubungan kemitraan bisnis yang terjalin antara dirinya dengan Nabi selalu lurus dalam perhitungan dagang.

Dengan pernikahan ini pula, status Nabi naik menjadi seorang business owner untuk terus mengelola perdagangannya. Ketika usia beliau menginjak usia 30 tahun, beliau menjadi seorang investor. Dengan demikian, beliau memiliki cukup banyak waktu untuk memikirkan tentang kondisi masyarakatnya yang masih dalam kejahiliahan. Pada masa inilah, Nabi telah mencapai – apa yang disebut Robert Kiyosaki degan kebebasan finansial dan waktu.

*) Qirath adalah upah atau gaji dalam bentuk dinar atau dirham.

One thought on “Catatan Bisnis Seorang Muhammad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s