Marbot Masjid Mengajarkannya…

Namanya Mukhlis, marbot masjid di depan komplek rumah. Kerap kali, lelaki itu terlihat duduk bersama Mukhlis. Ngobrol ngalor-ngidul, berbicara apa saja, seusai shalat jumat. Seperti hari itu, sambil menggulung karpet sajadah, Mukhlis bertanya pada lelaki di sampingnya. “Jadi kapan sampeyan nikah, mas?”

Lelaki itu diam tak berkutik. Ia bingung tak berdaya setiap kali pertanyaan itu memburunya. Menusuk jantungnya sehingga ia bagai orang sekarat, megap-megap. Perlahan, keringat dingin mengucur di sudut dahinya. Dan pembicaraan menjadi senyap sejenak. “Mmmmmh….,” hanya itu dengung yang keluar dari lelaki berkacamata itu.

Ia merenung sejenak. Flash back, beberapa bulan yang lalu. Ia tahu benar, kondisi Mukhlis seperti apa. Seorang marbot masjid yang bergaji Rp.300 ribu sebulan, dan tak berpendidikan tinggi. Tambahan penghasilannya, ia peroleh dengan berjualan cermin di depan masjid. Selain itu, nyaris tak ada keahlian khususnya, hanya membantu warga komplek yang membutuhkan bantuannya, tentu dengan imbalan seadanya.

Sementara dirinya? Seseorang yang berpendidikan S1, meski dari perguruan tinggi swasta dan sudah bekerja. Soal gaji, memang tak besar. Ia mengakui itu, namun ia memiliki keahlian untuk mencari sedikit tambahan. Bukan, bukan mencari tambahan seperti yang Mukhlis lakukan dengan bekerja serabutan mengandalkan otot, tapi dari hasil menulis atau mengedit naskah pesanan penerbit. Setidaknya, jumlah yang diterima jauh lebih besar yang Mukhlis terima atas imbal tenaganya itu. Lalu apa lagi yang ia tunggu?

Sepatutnya ia lebih bersyukur. Kondisinya lebih beruntung dari Mukhlis. Seharusnya ia lebih berani dan lebih yakin, dengan pendidikan dan pengalaman yang banyak mengajarkannya. Tapi kenyataannya? Ia merasa tidak lebih baik dari Mukhlis sendiri.

Ia masih sibuk dengan pikiran-pikiran itu. Terlalu sibuk, sampai ia sendiri tak memperhatikan Mukhlis di sebelahnya yang telah selesai menggulung seluruh karpet sajadah. “Lho…bengong..? Mukhlis menatapnya lekat-lekat.

Ia kaget, berusaha mengendalikan diri. Sebisa mungkin ia bersikap normal. Ia menatap wajah Mukhlis yang polos. Wajah Mukhlis yang seolah-olah menasehati dirinya sengan kata-kata yang tegas dan jelas: “Kau lelaki yang tak bersyukur. Kenapa kau menunda menikah?” Ia sadar, bahwa dalam usianya, ia sudah pantas berumah tangga. 24 tahun bukan usia yang kanak untuk seorang lelaki mengambil sebuah keputusan besar dalam bagian hidupnya.

Tak dapat menjawab teguran Mukhlis, lelaki itu memilih hanya tersenyum simpul. Senyum yang dipaksakan. “Eeehh, iya,” lalu menyedot teh botol yang sedari tadi berada di genggamannya. “Eehh, mas, istri sampeyan sekarang tinggal di mana? Ia berusaha mengalihkan pembicaraan. Lalu, Mukhlis dengan lancar menceritakan isterinya yang kini di Bogor, tentang kehamilannya, tentang rezekinya, dan sebagainya. “Kalau tinggal sama saya, kasihan. Di sini mahal biaya hidupnya,” katanya.
****

Peristiwa itu masih membekas dalam ingatannya. Meski sesaat, tapi Mukhlis sudah mengajarkannya banyak hal, termasuk tentang syukur dan keberanian. Mukhlis itu polos, tapi ia bersykur dan berani. Bersyukur atas semua rezeki yang diterimanya. Karena Mukhlis yakin, “logika matematika” rezeki yang dipakainya, adalah “matematika” Allah yang Mahakaya.

Secara matematika dunia, Rp.300 ribu yang diperoleh setiap bulan, tentu kurang bahkan tak cukup membiayai dirinya dan isteri dan calon bayi yang kini bersemayam di rahim isterinya. Tapi, di dunia ini, “matematika” Allah-lah yang berlaku karena sang isteri dan calon anaknya, telah memiliki rezekinya sendiri. Mukhlis juga berani mengambil keputusan menikah dengan kondisi yang sangat sederhana, kalau tak boleh disebut “susah”.

Malam itu, ia kembali tepekur mengingat potongan-potongan episode dialognya dengan Mukhlis sang marbot masjid. Bagian yang paling menarik baginya, mengambil hikmah dari muslim lainnya. Tak terasa, butiran bening tumpah di sudut matanya. Sajadah hijau itu basah dengan beberapa tetes air bening dari matanya.

“Ya Robb, apa aku adalah hamba-Mu yang kufur nikmat itu?” ia mengeluh dan mengiba dalam sujud setelah shalat Isya malam itu. Tangisnya pecah dan dadanya sesak. Ia tumpahkan semua kegalauan di hatinya. Ia mencecar sendiri dengan pertanyaan berkali-kali.
“Apa kau senang bermaksiat?”
“Mengapa kau menunda beribadah?”
“Apa yang kau takutkan?”
“Apa yang kau tunggu? Karir yang cemerlang? Rumah pribadi?”
Pertanyaan-pertanyaan itu mempertanyakan niatnya. Mempertanyakan keberaiannya. Dan mempertanyakan: Harga Dirinya!

Ia menarik napasnya yang tersengal. Mengumpulkan kepingan-kepingan keberanian yang terserak entah di mana. Ia buka lipatan imannya, ia temukan kepingan keberanian itu; nikah adalah kesempurnaan dan ibadah. Ia cari di sudut nuraninya, ada keberanian lagi di sana: nikah adalah fitrah. Ia putar memori otaknya, ada gambar orang-orang yang dikasihinya. Semuanya memberikan semangat, ibu, kakak-kakaknya, dan beberapa sahabat karibnya. Ia dapatkan keberanian lagi.

Cukuplah baginya keberanian yang didapatnya malam itu. Ia lipat sajadah hijau itu seperti ia melipat semua ketakutan-ketakutan yang selama ini menghantui. Semoga saja, keberanian itu kini jauh lebih banyak dan beranak-pinak. Sehingga Allah memberikan keputusan yang terbaik bagi dirinya kelak. Karena, “Allah itu dekat dengan prasangka hambaNya,”

*) 10 Agustus 2009, di sudut meja, di sebuah kantor di bilangan Kalibata. Bertafakur menjelang kematangan usia, 25 tahun pada 16Agustus nanti. “Nabi juga menikah di usia 25 tahun,”d

3 thoughts on “Marbot Masjid Mengajarkannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s