Kebahagiaan

Oleh : Lufti Avianto

Di sebuah masjid, baitullah, empat orang lelaki duduk melingkar. Lutut keempatnya merapat dan saling bersentuhan. Seorang di antaranya, terlihat kontras dengan ketiga lainnya. Berusia senja dengan kulit wajah mengerut dan rambut putih yang ditutupi sorban. Ia dikenal sebagai seorang bijak dari kaumnya. Atau, ketiga pemuda itu biasa memanggilnya “guru” karena ilmu dan teladannya.

Dalam kesempatan itu, seperti biasa sang guru memulai taklimnya dengan sebuah pertanyaan. Sebuah kebiasaan yang memancing nalar intelektual ketiga muridnya. “Mengapa Allah menciptakan kebahagiaan?” tanya sang guru kepada tiga lelaki pagi di hadapnya. Mendengar pertanyaan itu, ketiga pemuda mengernyitkan kening dan mulai berpikir mencari jawaban yang tepat.

Lalu, pemuda pertama menjawab, “Wahai guru, Allah Swt. menciptakan kebahaiaan agar semua makhluk bersyukur. Sehingga dengan syukur itu, kebaikan demi kebaikan akan diperoleh kita sebagai makhluk-Nya,” ucap pemuda itu lugas. Mendengar jawaban tersebut, sang guru pun menjawab, “Alhamdulillah. Kamu benar, muridku.”

Sang guru lalu memandang kepada pemuda yang kedua. Melihat tatapan itu, pemuda kedua pun menjawab setelah sebelumnya bertasbih memuji kesucian Allah Swt., “Kebahagiaan, juga diciptakan Allah Swt. sebagai ujian bagi hamba-Nya. Seperti halnya harta, kuasa, anak dan isteri kita. Membahagiakan, tapi juga menyimpan ujian (fitnah), agar kita tetap mengingat-Nya,” jelas pemuda yang kedua. Mendengar jawaban itu, sang guru kemudian berseru, “Alhamdulillah. Kamu juga benar.”

Lalu tatapan sang guru dialihkan kepada pemuda terakhir. Melihat tatapan ini, sang pemuda berpikir sejenak dan menjawab setelah sebelumnya juga bertahmid memuji keagungan Sang Khaliq, “Allah ciptakan rasa bahagia, agar kita tahu bagaimana rasa pedih itu, Guru. Dengan perasaan itu, kita bisa membedakan lalu bersyukur,” jawab pemuda itu dengan tenang. Kemudian, sang guru tersebut tersenyum dan berkata, “Maha Suci Engkau ya Allah. Alhamdulillah. Kamu benar,”

***
Dalam berbagai kesempatan, kita tentu kerap membicarakan kebahagiaan. Ya, kebahagiaan sebagai “akesoris” yang kita harapkan dapat menghiasi seluruh kehidupan kita. Namun, kebahagiaan yang dicari kerap tak sesuai dengan harapan, terkadang memang.

Dalam sesi pembicaraan, kebahagiaanlah yang mendominasi topik keseharian. Tentang harta yang berlimpah-ruah, anak yang beranak-pinak, atau kekuasaan yang tiada batas. Tapi kita lupa untuk sekadar “menyelipkan” satu bagian akhir agar pembicaraan itu tak sia dilakukan, yakni kepedihan.

Sahabat, sadarlah bahwa kehidupan, tak melulu menampilkan kebahagiaan sebagai alur cerita utama buat kita. Ada kalanya, kepedihan menghampiri sepenggal hidup itu. Dan adakalanya pula, kebahagiaan mendatanginya. Semua kerap dipergilirkan. Semua hanya soal waktu.

Maha Suci Allah yang tak pernah berbuat kesiaan. Kebahagiaan dan kepedihan adalah dua makhluk yang berpasangan namun saling bertolakbelakang. Dengan rasa bahagia, kita tahu ada kalanya kita ‘kan merasakan pedih. Dan ketika merasa pedih, ingatlah bahwa masih ada bahagia di ujung hari depan kita.

Nah, apa yang kita rasakan hari ini? Kebahagiaan? Maka bersyukurlah. Lalu bersiap dan bersabarlah tatkala rasa pedih menggelayuti hati. Karena, bahagia dan pedih, hanyalah rasa yang Allah akan pergilirkan waktunya; kapan saja dan di mana saja. Maka, jadikanlah setiap rasa itu menjadi kebaikan di sisinya: bersykur dan bersabar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s