Kresek…

Lelaki itu baru saja memasuki sebuah supermarket. Didorongnya sebuah trolley, sambil menyusuri selasar yang dipenuhi tumpukan segala jenis barang; ada bahan makanan, pakaian, pokoknya serba ada. Tetapi, ia masih saja berputar-putar dari satu selasar ke selasar lainnya. Seperti tak tahu apa yang ingin ia belanjakan. Sesekali tangannya menjamah barang yang ia ingin beli, tapi kemudian ia batalkan. Begitu seterusnya.

Ia tertegun. Atau lebih tepatnya terkaget-kaget. Saat potongan kecil stiker yang menunjukkan harga sebuah barang, menempel dan menunjukkan betapa mahalnya harga barang itu. Tak semurah yang ia bayangkan. Sementara, empat lembar potongan voucher belanja lima puluh ribuan, masih melekat di saku bajunya, bergeming. Tak jua ia belanjakan.
Continue reading

Advertisements