Kresek…

Lelaki itu baru saja memasuki sebuah supermarket. Didorongnya sebuah trolley, sambil menyusuri selasar yang dipenuhi tumpukan segala jenis barang; ada bahan makanan, pakaian, pokoknya serba ada. Tetapi, ia masih saja berputar-putar dari satu selasar ke selasar lainnya. Seperti tak tahu apa yang ingin ia belanjakan. Sesekali tangannya menjamah barang yang ia ingin beli, tapi kemudian ia batalkan. Begitu seterusnya.

Ia tertegun. Atau lebih tepatnya terkaget-kaget. Saat potongan kecil stiker yang menunjukkan harga sebuah barang, menempel dan menunjukkan betapa mahalnya harga barang itu. Tak semurah yang ia bayangkan. Sementara, empat lembar potongan voucher belanja lima puluh ribuan, masih melekat di saku bajunya, bergeming. Tak jua ia belanjakan.

Sebelum tiba di supermarket itu, ia sempat mencatat barang apa saja yang ia beli, berikut patokan harganya. Seperempat buat si yatim, seperempat buat si dhuafa, dan setengah sisanya untuk dirinya. Ternyata, seperempat itu tak bernilai apa-apa baginya. Jumlah yang sama yang biasa ia berikan secara rutin setiap bulannya bagi kedua mustahik itu. Ternyata, tak banyak membantu.

Ia malu. Trolley-nya masih kosong belum terisi. Lalu ia putuskan porsi bagi mustahik itu diperbesar. Hanya menyisakan baginya seperempat saja. Sisanya, ia lebihkan buat si mustahik. Dimasukkannya beberapa jenis bahan makanan, seperti mi instan, gula, kopi, susu, teh, dan biskuit. “Ini lebih baik,” pikirnya. Lalu ia bergegas ke kasir, untuk membayar, meski harus menambah beberapa puluh ribu atas kelebihan belanjaan yang tak terkaver voucher-nya.

Empat kantong kresek putih berukuran sedang itu, ia tenteng sendiri menuju motor bututnya di parkiran. Ia membayangkan bahwa dirinya adalah Umar bin Khattab yang memikul gandum bagi rakyatnya yang kelaparan. Tapi tentu, tak selevel dengan sahabat nabi itu. “Ya Allah, ternyata uang yang biasa aku berikan, bukan jumlah yang besar bagi kehidupan mereka,” pikir lelaki itu sambil melaju motornya.

Sesampai di rumah, lelaki itu kemudian mengepak ulang barang-barang belanjaannya. Lalu, ia bawa dua kresek berukuran sedang itu, menuju dua orang yang dimaksud. Diketuknya sebuah rumah berpintu putih, lalu keluar sesosok wanita gempal menerima bungkusan itu. “Terima kasih ya,” katanya tulus. Hati lelaki itu berdesir penuh syukur. Tak jauh dari situ, rumah kedua diketuknya pula. Sepi, tak ada jawaban. Ia letakkan saja bungkusan itu di dekat pintu. “Toh kalau ia pulang, pasti melihatnya,” pikirnya. Lalu ia pergi.

Berkali-kali ia berucap syukur bisa berbagi dengan sesama. Alhamdulillah. “Tapi jangan pernah puas dengan apa yang kita beri. Jangan melihat bahwa sudah banyak yang kita beri. Ternyata, pemberian itu belum apa-apa dengan karunia Allah yang begitu luas kepada kita. Jangan berhenti bersyukur,” janji lelaki itu dalam hati sambil memasuki rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s