Ini Soal “Kita”

Dulu, kita lebih senang berbicara dengan konteks “aku” dan “kamu”. Setidaknya, masa itu sejak kita bisa berbicara hingga sebelum menikah. Pasca ijab terucap, doa keberkahan terangkat, dan status berubah, semestinya konteks itu bisa diperbesar dengan sudut pandang “kita”. Ya, k-i-t-a. Antara aku dan kamu, dan di dalamnya ada kamu dan aku.

Tak mudah memang, menerima seseorang yang asing, masuk ke dalam hati, pikiran dan kehidupan kita. Sungguh tak mudah. Tapi, karena Allah telah mengizinkan, biarkanlah dengan asma-Nya pula, kita belajar menerima orang asing itu perlahan. Mulai dari kebiasaan, pola pikir, sikap, gaya hidup, watak, kepribadian dan hal-hal terkecil dalam hidupnya.

Pada awalnya memang, masing-masing kita punya kebiasaan dalam perspektif “aku” bukan “kita”. Tentu akan banyak keterkejutan. Sang istri berpikir terhadap suaminya, tentang kebiasaan-kebiasaannya yang “tak biasa” bagi kehidupannya pada masa lajang dulu. Begitu pula sebaliknya.

Inilah proses belajar sehingga bisa terbentuk sebuah “kebiasaan kita”, “pandangan kita” atau perspektif lain yang mengatasnamakan “kita”. Bukan “kau saja” atau “aku saja”. Sulitkah itu? Relatif, tergantung kelapangan dada kita dalam menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Rabu siang, salah seorang sahabat lama berkisah tentang suaminya, tentang kebiasaannya, dan tentang keterkejutannya terhadap suaminya itu. “Kok cara makannya begitu sih?”, “Kok jemur handuknya begitu?” atau “Iihh kaos kakinya dilempar begitu aja? Jorok!”. Itulah keterkejutan sang sahabat terhadap suaminya di masa awal pernikahan.

Tapi, ia sadar betul bahwa dirinya memang tidak dipersiapkan khusus bagi suaminya, begitu juga sebaliknya. Sehingga bila banyak hal- atau bahkan terlalu banyak hal, yang tidak berkenan, ia pun bisa belajar memakluminya dan mulai mengubah secara perlahan agar segala sesuatu menjadi perspektif “kita”. Segala sesuatu yang penuh keterbukaan antara sepasang suami-istri yang berharap syurga-Nya. Indah sekali memang.

Sayangnya, tak sedikit pula yang beranggapan bahwa perspektif “kita” hanyalah angan-angan menjelang pernikahan. “Nanti juga kalau sudah nikah, dia bisa menerima kita apa adanya,” seloroh kawan pada suatu hari yang lewat. Sayang sekali, padahal pernikahan memiliki konteks ibadah yang bila diterjemahkan bermakna, saling memperbaiki diri bagi pasangan suami-istri agar lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Dengan kalimat seperti itu- kalimat permesif yang melenakan- sungguh orang itu telah terjebak dalam sebuah lingkaran stagnan perubahan. Menganggap bahwa perubahan, sulit atau bahkan tak mungkin dilakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s