Konsistensi

“Jadi?” kalimat tanya itu memecahkan lamunan kami. Suara lembut wanita cantik itu seakan menghapus pengembaraan pemikiran kami yang terlalu jauh. “Jadi kita ikuti saja kamus besar ini,” kata seorang lelaki berkacamata tebal sambil menimang kamus seberat sekiloan kilo itu.

“Tapi pak, bukannya ada transliterasi yang membebaskan kita menentukan kata serapan?” aku memprotes bahan diskusi yang baru saja diputus secara sepihak itu. “Karena kata ‘shalat’ dalam bahasa Arab, jadi kita bisa menentukan, kita akan menuliskannya dalam kosa kata yang seperti apa itu terserah kita. Itu gaya selingkung penerbit kita pak. In House Style,” paparku memberi argumentasi.


“Ya, kita ikut saja kamus ini. Di sini tertulis ‘salat’ bukan ‘sholat’ atau ‘shalat’ seperti pandanganmu,” lelaki yang juga managing editor itu memutus. “Kalau itu salah menurut sebagian orang, ya kita harus konsisten dengan penulisan model itu. Konsisten dengan kesalahan,” kata dia bijak.

“Haaah? Konsisten dalam kesalahan?” tanyaku heran. Maklum, sebagai editor muda, aku merasa harus bisa memberi konstribusi dalam khazanah perbukuan kala itu. “Ya, intinya konsistensi atau ketaatasasan. Jadi, kita harus mematenkan itu sebagai gaya selingkung penerbit kita,” kata dia lagi.

Aku diam. Editor cantik di sebelah kiriku juga diam. Juga rekan-rekan editor lain juga diam seperti sedang menyerap sebuah makna baru bahwa konsistensi begitu multipersepsi. Tapi setidaknya, konsistensi itu perlu. Bahkan harus, apalagi dalam kebaikan.
***

Sahabat, sering kita mendengar kata ‘konsistensi’ dalam banyak kesempatan. Konsistensi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yang artinya dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah ketetapan dan kemantapan (dalam bertindak).

Hari ini, di tengah hiruk-pikuk perubahan zaman dan idealisme, kita sulit mencari ‘konsistensi’ dalam paradigma idealisme dan cita-cita. Terlebih idealisme yang disandarkan pada dogma agama sebagai bagian dari garis perjuangan sebuah kelompok atau komunitas.

Kita tak lagi menemukan ‘orang-orang yang konsisten’ dalam memperjuangkan nilai-nilai yang telah menjadi falsafah kehidupan. Kita telah meminggirkan semua konsistensi beserta ‘saudara-saudaranya’; komitmen, pengorbanan, keteguhan dan lainnya.

Konsistensi menjadi barang langka nan mahal harganya. Ironinya, hanya orang-orang yang terlihat jelata yang memilikinya karena konsistensi tak bisa dinilai dengan uang. Meski kita juga tidak bisa membuat hipotesis bahwa bagi mereka yang kaya-raya-bahagia, telah lari dari makna konsistensi ini. Tapi, justru nilai ini tak lagi kita temukan pada mereka yang dulu telah giat meneriakkannya. Sayang sekali.

Saya tak perlu memberikan contoh konkret dari apa yang saya maksud dengan ‘mereka yang telah lari dari makna konsistensi’. Cukupkan saja pengetahuan saya, anda dan kita semua dengan realitas yang semakin jauh dari idealitas. Kalau istilah kerennya sekarang, “Tahu sama tahulah…”

Jadi, konsistensi terhadap apa yang kita pahami dan telah mendarahdaging dalam sistem idealisme kita, adalah kekayaan yang tak ternilai bagi zaman edan seperti sekarang ini. Syaratnya, idealisme itu mestilah membawa perubahan dan kemaslahatan bagi diri dan ummat. Insya Allah. Amin.

*) Tulisan ini hanya diinspirasikan dari sepotong kecil pengalaman pribadi di sebuah penerbit. Tentu dengan sedikit modifikasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s