Meningitis

Oleh Lufti Avianto

*) Ditulis untuk diskusi pada Jurnalisme Sastrawi, 30 Juli 2010

PONSEL di saku celanaku terus bergetar tanpa suara. Sengaja kupilih silent mode kalau sedang tugas wawancara. Takut mengganggu. Tapi, siapa yang terus-terusan telepon dari tadi? Segera kupijit ikon telepon warna hijau di sudut ponsel saat sebuah panggilan kembali masuk dengan nama yang kukenali. “Luf, mama…” suara di seberang telepon tersedak oleh tangisnya yang pecah. “Udah nggak sadar kayaknya,” suaranya makin pelan ditelan isak tangisnya yang malah mendominasi pembicaraan udara itu.

Segera kututup telepon dari kakak perempuanku, Mba Lussy. Sengaja kuminta dia sebelum berangkat kerja tadi pagi untuk langsung mengabarkan bila keadaan Mama menjadi tambah gawat. Dan ternyata, firasatku benar. Mama tak sadarkan diri.

Usai wawancara selesai, kupacu sepeda motor hitamku dengan cepat. Menyusuri jalan di bilangan Kalimalang menuju Kramatjati. Empat puluh menit kemudian, aku sampai di rumah. Menerobos masuk rumah tanpa uluk salam, menuju kamar Mama di ujung rumah. Kulihat wanita yang melahirkanku itu dalam keadaan lemah tanpa daya.

Di bangsal reot itu, ia rebah. Dengan daster merah marun tanpa jilbab yang biasa ia pakai. Di sisi kirinya, Mba Lussy duduk sambil mengganti air kompres di keningnya yang mulai banyak kerutan. Rambutnya yang sudah didominasi warna putih, tampak basah dibalut sepotong handuk kecil berwarna hijau. Aku mendekat dengan rasa cemas. Serasa jantungku meloncat-loncat.

“Maa…,” aku membisiki di telinga kanannya. Mencoba membangkitkan kesadarannya. Tak ada respon. Tatapan matanya kosong menyisir langit-langit rumah. Hanya sedikit erangan kecil yang keluar dari mulutnya. “Kita bawa ke rumah sakit aja,” putusku sambil menatap Mba Lussy. “Kemasi baju Mama,” pintaku seraya meninggalkan kamar untuk memanggil taksi.

Dua puluh menit kemudian, aku dan Mbak Lussy sudah berada di Unit Gawat Darurat RS Haji, Jakarta Timur. Hari masih siang, hampir pukul setengah dua. Mama segera mendapatkan pertolongan. Seorang dokter wanita berjas putih menanganinya selama hampir lima belas menit. Tanpa ditanya, dokter itu menjelaskan alasan agar Mama segera mendapat perawatan intensif.

“Saya curiga ada sesuatu di otaknya yang mengakibatkan ibu anda tak sadar,” kata dokter itu sambil melepaskan steteskop dari telinganya.

“Sesuatu?” aku heran mendengar penjelasan abstrak dokter wanita itu.

Membetulkan letak kacamatanya yang melorot, dokter berkerudung itu berkata, “yaa, seperti kuman, mungkin. Makanya perlu CT Scan, rontgen, juga periksa darah untuk memastikan jenis penyakitnya. Saya curiga, mungkin meningitis,” katanya meluncur dengan hati-hati.

Absurd. Meningitis? Segera kupesan ruang rawat inap di bagian administrasi.
***
Mama baru saja dipindahkan dari UGD ke ruang perawatan. Di kelas III itu, Mama menempati bangsal paling pojok, dekat toilet. Aku dan Mbak Lussy tak saling bicara. Kami sibung dengan pikiran kami masing-masing. Kuputuskan untuk keluar ruangan itu.

“Mau ke mana?” hening itu akhirnya pecah dengan tanya Mbak keduaku itu.

“Ke administrasi. Ada yang belum sempat dibayar tadi,” aku melangkah menuju pintu di sebelah kanan bangsal. Belum genap langkah ke tiga setelah pintu ditutup, terdengar teriakan histeris dari dalam ruangan yang baru saja kutinggalkan.

“Toloooooooooongggg…” Jeritan itu membuat jantungku berdetak makin cepat. Memompa darah lalu mengaliri seluruh tubuh, wajah juga ke kepalaku. Pusing. Aku mengenali suara itu. Suara yang tadi pagi juga membuat irama jantungku lebih cepat. Ada apa lagi ini? Aku bergerak cepat, seperti melawan waktu. Terasa berat dan lambat.

Badanku menggigil ketika melihat tubuh Mama yang mengejang dan meronta. Mulutnya dipenuhi busa. Matanya terbelalak ke atas. Kedua tangannya mengepal. Aku harus bertindak.

Aku teriak sekeras-kerasnya di lorong. Dinding yang bercat itu, menggaungkan suaraku.

“Dokter… Suster… TOLONGG…”

Secepat kilat, dua perawat; lelaki dan perempuan dan dokter yang tadi memeriksa di UGD memberikan pertolongan pertama. Yang perawat perempuan mengecek tekanan darah. Sangat tinggi; 200 per 100. Sementara yang lelaki memeriksa mulut, mengelap busanya, kedua bola mata dan infus yang menancap di pungung tangan kanannya.

“Kita harus rawat di ICU,” putus dokter sambil melepaskan steteskopnya.

***
“Uang saya cuma ada segini bu,” aku berusaha memberi penjelasan kepada petugas administrasi. Wanita berkerudung hijau tosca itu menatapku lekat-lekat. Entah apa yang dia perhatikan. Menghela nafas, lalu berkata, “baiklah, nanti kalau sudah ada lagi, mohon disetor lagi ya, mas?” katanya ramah sambil menghitung kembali sembilan lembar seratus ribuan itu.

Bagaimana aku tak galau. Lima menit sebelumnya, petugas administrasi itu menyodorkan daftar biaya perawatan rumahsakit itu. Satu malam di ICU, hampir lima juta rupiah. “Jumlah ini kalau semua peralatan dipakai,” jelasnya yang kuuikuti dengan anggukan tanda setuju.

***
Setelah dua malam di ruang ICU, lantai dua rumahsakit swasta itu. Kulihat, Mama sudah lebih tenang. Tak meronta lagi setelah dokter ahli saraf memberikannya penenang. Kuperhatikan monitor elektroradiogram di sebelah kanan bangsalnya dari luar ruangan. Garisnya naik-turun dengan kerapatan yang kecil. Aku tersentak, ketika seorang dokter spesialis saraf keluar dari ICU. Menatapku.

“Kelauarga Ibu Sundari?” ia menatapku.

Aku mengangguk lemah.

“Alhamdulillah. Ini keajaiban. Obat yang diberikan ternyata berhasil membunuh kuman yang ada di kepala ibu anda. Dalam dua-tiga hari, sudah bisa dipindah ke ruang perawatan.”

Penjelasan selebihnya, tak kudengar persis. Hanya dua kalimat pertama saja yang kurekam. Selebihnya, dadaku bergemuruh dipenuhi syukur dan keharuan yang menyeruak. Mataku basah.

“Terimakasih ya Allah.” Doaku terjawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s