Sarapan cinta

Oleh Lufti Avianto

*) Ditulis untuk diskusi pada Jurnalisme Sastrawi, 4 Agustus 2010

Perempuan muda itu membuka boks plastik berwarna biru. Diciduknya beras dengan sebuah gelas plastik. Sebuah pertanyaan meluncur, tertahan ditumpahkan. “Mas, nanti siang makan di luar ya?”

“Iya,” jawabnya singkat dengan mata yang masih terpaku pada layar.

Dengan hati-hati, ia lalu menuangkan dua gelas butiran putih itu ke dalam wadah stainless steel berwarna hitam.

Melirik jam weker di sudut ruangan, wanita itu setengah berteriak. “Aduh, udah jam tujuh,”

Diambilnya beberapa siung bawang merah, bawang putih dan cabai merah. Perempuan itu merajang ketiganya di atas talenan kayu.

Krekk, krekk. Terdengar bunyi irisan berulang-ulang sambil sang perempuan itu melirik ke buku resep di depannya.

Krek, krekk.

“Masak apa sih?” giliran si lelaki bertanya.

“Tempe bacem.”

“Bukannya, udah pernah bikin?” sedikit melirik ke arah sang perempuan.

“Lupa,” katanya sambil nyengir, menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Lima detik kemudian, si perempuan itu kembali sibuk menggoreng-goreng di tungku sebelah kanan kompor gas pemberian ibunya, sementara tungku yang sebelah kiri ia gunakan untuk menumis kangkung. Dan lagi, terdengar bunyi gemericik bumbu. Bau tumisan menyengat, bawang putih, cabai dan menusuk hidung dan memenuhi udara di rumah tipe 29, yang mereka sewa sejak tujuh bulan lalu.

Di sebelah ruang tamu dan ruang makan yang menjadi satu, ada dapur berukuran tiga meter persegi. Di situlah, perempuan itu terlihat cekatan dengan perkakas dapur. Sejak pukul lima, setelah shalat shubuh berjamaah dengan sang lelaki, ia memulai aktifitas pagi. Mulai dari memasak air, mencuci piring, tentu dengan kebiasaan; perabotan yang selesai dicuci, tak lekas dimasukkan ke dalam lemari. Setelah itu, mulai menanak nasi, dan menggoreng tempe bacem dan mengoseng sayur kangkung.

Satu jam kemudian. Perempuan itu sudah siap dengan piring dan mangkuk di tangannya. Sepiring tempe bacem di tangan kanan, dan oseng kangkung di tangan kiri. Aroma keduanya tercium. Bau gula Jawa dan bawang putih beradu. Daster hijau dari Bali yang baru semalam diberikan ibu mertua, terlihat kumal. Ada bercak noda bekas memasak. Tapi senyum tipis di bibirnya, mengalahkan kekumalan pakaiannya.

“Ini untuk suamiku,” perempuan itu meletakkan kedua wadah itu di ‘meja makan putih raksasa’.

Eit, bukan meja makan, tapi lantai keramik berwarna putih itulah yang menjadi meja makan keluarga kecil itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s