Sedekah Ilmu

Katanya, sedekah itu bisa dengan apa saja. Yang punya harta, bersedekah dengan hartanya. Senyum juga sedekah. Atau yang punya ilmu, bersedekah dengan ilmunya. Dan saya, mencoba untuk bersedekah dengan yang terakhir itu.

BEBERAPA HARI LALU, seorang kawan menulis sebuah pesan di dinding jejaring sosial saya. Intinya, dia meminta untuk mengajari menulis. Saya pun tak menolak. Lalu jadwal pertemuan pun, kami atur. Merasa sayang kalau hanya ia sendiri yang belajar, saya kirim pesan pendek ke beberapa teman, juga memasang undangan via Fesbuk. Beberapa lainnya pun, turut.

Saya menamakannya “Diskusi Kecil Praktik Menulis”. Entah nama itu datangnya dari mana, entah pula inspirasinya berasal. Memang dalam benak saya, kelas menulis ini hanya akan berisi diskusi kecil dan langsung praktik menulis. Soal teori, sedikit ilmu yang saya punyai, jadi sedikit pula yang saya bagi.

Jujur saja, metode belajar seperti ini, saya contek habis dari pelatihan yang pernah saya ikuti Agustus lalu. Jurnalisme Sastrawi, nama pelatihan yang diselenggarakan Yayasan Pantau itu. Biayanya? Jangan tanya. Untuk ukuran wartawan di media Islam seperti saya saat itu, jumlahnya melampaui gaji saya setiap bulan. Tiga juta, dalam rupiah. Hmmm, pasti anda sudah menerka lembar rupiah yang saya terima untuk menafkahi istri dan bayi yang ada di dalam kandungan.

Maka, begitu membaca pengumuman kursus jutaan itu, saya langsung menelepon sang panitia. Saya lihat namanya, Siti Nurofiqoh. Awalnya, saya memanggilnya “ibu” pada kiriman pesan singkat pertama. Baru pada percakapan telepon, saya memanggilnya dengan “mba”. Anda tentu tahu maksud saya menelepon Mba Fiqoh. Selain untuk mendaftar, juga untuk meminta keringanan biaya kursus. Hehehehe…

“Masih ada dua kursi lagi, mas. Dikorting satu juta,” suara lembut Mba Fiqoh terdengar  menyenangkan. Eiits, tunggu dulu. Selain suaranya benar-benar lembut seperti suara perempuan Jawa yang anggun dan santun, suara itu juga yang mengabarkan tentang potongan harga biaya kursus itu. Satu juta perak.

Saya melonjak kegirangan. Saat itu yang terlintas hanya, bagaimana mencari sisa dua juta rupiah sisanya? Hmmmm. Saya ingat-ingat uang di dalam buku tabungan saya, ada hampir lima juta rupiah. Tapi tak mungkin uang itu saya pakai, sebab uang itu adalah tabungan saya untuk biaya persalinan istri yang saat itu tengah hamil tujuh bulan.

Ting. Sebuah ide melintas. Saya mengirim sebuah pesan memelas penuh harap. Intinya; pinjam uang istri. Tak sampai lima menit, sebuah pesan masuk dan mengabarkan restu sang istri untuk meminjamkannya. Dan akhirnya, selama dua pekan saya bisa belajar banyak hal tentang jurnalisme dari para pakar; Andreas Harsono dari Pantau dan Janet Steele dari Universitas George Washington di Amerika sana.

Setelah kursus itu, saya merasa paradigma saya mulai berubah tentang jurnalisme, gaya penulisan, metode kerja jurnalis dan struktur tulisan. Sayang sekali, pikir saya saat itu, kalau hanya sedikit orang atau bahkan wartawan yang mempelajari genre jurnalisme ini.

Maka, saya mulai berpikir untuk membagikan apa yang saya miliki kepada siapa saja yang membutuhkannya. Hingga sampai pada suatu ketika, tiga pekan yang lalu, seorang kawan meminta apa yang saya miliki itu.

Eri Santoso, nama kawan saya yang bekerja di sebuah lembaga amil zakat milik PLN. Ia ingin bisa menulis, mungkin keingnannya sebesar usahanya menafkahi keluarganya, pikir saya saat itu terlalu berlebihan. “Pokoknya, ane akan usahakan terus datang kalau nggak ada halangan,” ia berjanji pada sebuah percakapan telepon.

Hingga diskusi berjalan pertama kalinya, benar saja Eri menepati janji. Ia adalah peserta pertama yang datang. Kalaulah boleh saya sebut “peserta”, itu tidak lain adalah tiga lelaki dan satu perempuan antusias yang datang sekitar pukul 10.00, waktu akan dimulainya diskusi.

Kalau anda mau tahu pula, diskusi berlangsung di sebuah musholla yang teretak di gang sempit dekat pinggir Kali Induk. Musholla Nurul Huda namanya, sementara nama gangnya, Gang Kalimasada di Kelurahan Tengah, RT06/03. Tanya saja kepada orang di sepanjang kali itu, semua sudah mahfum.

Bagaimana soal biaya? Tak perlu ngeri memikirkan biaya diskusi ini. Takkan sama dengan biaya yang saya keluarkan untuk kursus menulis semacam Jurnalisme Sastrawi. Gratis, atau kerennya, free of charge. Tapi, saya menulisnya dalam sebuah pengumuman di akun fesbuk saya dengan “Bayarlah dengan kesungguhan belajar dan keinginan untuk berbagi.” Entah wangsit dari mana yang menginspirasi saya sehingga mampu menuliskan kata-kata semacam itu, yang menurut saya, keren. Piss.

Oya, soal diskusi ini, jujur saja, saya sedikit tahu diri. Saya memang bukan seorang wartawan yang rutin memenangkan penghargaan jurnalistik semisal Mochtar Loebis Award atau Adiwarta Sampoerna yang bergengsi di negeri ini. Atau mahasiswa jurnalistik yang berpredikat cumlaude saat menyelesaikan 3,5 tahun kuliahnya di perguruan tinggi ternama di republik pimpinan presiden dua kali periode itu.

Bukan. Saya hanya wartawan, tepatnya saat ini mantan wartawan majalah Saksi, Gatra dan Sabili- penulis empat buku anak kelas ecek-ecek, editor sejumlah buku saat bekerja enam bulan yang suram di sebuah penerbit di Pulogadung, kolumnis bayaran dua lembaga kemanusiaan di Jakarta, lelaki yang masih terobesesi menjadi wartawan perjalanan, dan lelaki pemimpi yang berharap suatu saat -entah kapan itu, saya kira dalam dua tahun lagi- akan mendapatkan beasiswa magister dalam bidang jurnalisme di luar negeri dengan menjadi dosen jurnalisme sebagai pilihan terakhir karirnya.

Ya, itulah saya. Saya, lelaki dengan kalimat sakti “sedekah dengan ilmu” yang dirapalkan dalam hati, berusaha berbagi, dengan apa saja yang saya miliki. “Saya ingin punya monumen kebaikan yang saya bangun, tegakkan, rawat dan saya banggakan kelak di hadapan Dzat, yang telah menciptakan saya.” Kalimat itu yang saya benamkan untuk memotivasi.

Karena pada saatnya nanti, Dia akan bertanya, “Apa yang sudah kau lakukan dengan ilmu yang Kuberikan?”

2 thoughts on “Sedekah Ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s