J.O.D.O.H

Bocah tiga tahun itu mendekati saya. “Mamang, aku punya mic baru dong,” ia pamer sebuah standing mic buatan China berwarna pink seharga 75 ribu yang dibeli ayahnya dengan rengekan super dari mulut mungilnya.

Ia bernyanyi dengan urat leher yang menonjol dan seperti nyaris putus. “Ibu-ibu bapak-bapak siapa yang punya anak bilang aku, aku yang sedang malu, sama teman-temanku karna cuma diriku yang tak laku-laku.” Ia menjerit sejadi-jadinya seolah-olah menjadi seorang vokalis grup band Wali. Hanya itu lagu yang dia bisa. Saya hanya tersenyum geli melihat polah keponakan yang satu ini sambil merenungi makna lagu itu. Ya, jodoh memang membuat sebagian orang pusing.

###

ENTAH MAGNET APA YANG MEMBAWA DUA WANITA ITU, mempercayakan dirinya untuk meminta dicarikan jodoh oleh saya. Satu wanita, belum pernah ketemu, kenal pun dari seorang kawan SMA dulu. Kami pun berkomunikasi hanya via pesan singkat dan e-mail. Itu saja. Tapi, mengapa ia meminta saya untuk mencarikan seorang pendamping hidup. “Asal baik agamanya, tidak merokok, suku apa saja, bekerja apa saja (tentu yang halal), lebih tua dan mendukung saya melanjutkan kuliah,” begitu bunyi pesan singkat wanita itu, memberi kriteria calonnya.

Sebut saja Mawar, nama wanita muda asal Yogyakarta itu yang belum genap 24 tahun. Saya berkenalan dengannya saat mengelola sebuah situs remaja, dimana dia adalah salah satu kontributornya. Asisten Apoteker dan guru Sains di sebuah SMP di jakarta ini suka menulis. Beberapa kali menulis dan bisa dimuat, meski dengan perombakan total tulisannya. Tapi, dia cukup keras belajar.

Singkat cerita, hanya komunikasi seadanya seperti itu, yang membuat dia memutuskan untuk memberikan kepercayaan, tepatnya meminta saya untuk mencarikannya jodoh. “Saya sudah kirim biodatanya vie email,” begitu pesan yang masuk di hape saya suatu ketika. Saya agak heran awalnya, mengapa begitu mudah percaya, padahal dia belum sekalipun kenal dengan saya. Bagaimana kalau saya carikan jodoh yang tak baik baginya?

Wanita lainnya, sebut saja Melati. Saya sudah mengenal Melati sejak lima tahunan, tetapi hubungan kami tidak intens. Hanya beberapa kali bekerja sama dalam sebuah kegiatan sebuah yayasan, dimana saat itu, aku menjadi ketua panitia sebuah acara. Melati sudah terlihat cemas di usianya yang ke-30. Bagi wanita berdarah bukittinggi ini, cukup sudah beberapa kali pengalaman ditolak lelaki untuk menikah, menjadi pengalaman pahit dirinya. Tahu alasannya? Hanya sebab ia asli orang Minang!

“Rata-rata mereka takut sama orang Padang. Padahal, keluarga gue udah gak terlalu ketat sama adat,” kata Melati suatu malam, dalam sebuah percakapan telepon. Melati sudah cukup mengenal saya, sehingga dia bisa dengan bebas ber-lo-gue. Dan kami memiliki kesamaan, yaitu suka menulis sehingga pernah bertemu beberapa kali untuk sebuah proyek penulisan naskah non-fiksi. “Tolong jangan kasih tau yang lain ya. Gue malu,” Melati mengirim pesan singkat, usai pembicaraan udara kami. Ia mewanti-wanti.

Dari kedua wanita ini, saya membaca kegelisahan dan keresahan seorang wanita. Maklum, di Indonesia yang masih kental adat-istiadatnya, seorang wanita yang sudah cukup usia dan belum menikah, menjadi persoalan tersendiri, kalau tak mau disebut aib. Orangtua akan sangat malu ketika anak perempuannya ditanya oleh tetangga, kerabat atau temannya, “Kapan anak kamu menikah?”

Saya bisa memaklumi ini. Usia wanita yang dinilai pantas masyarakat kita untuk menikah, berkisar 20-26 tahun. Bahkan ada yang lebih muda dari itu. Seperti Santi, kawan saya di SD dulu. Kali ini memang nama sebenarnya. Santi dilamar ketika ia lepas SD dan menikah di SMP saat ia duduk di kelas dua. Saat itu usianya belum genap 15 tahun.

Saya tahu benar Santi, sahabat kecil saya yang suka mentraktir es limun dan batagor sepulang sekolah. Ia sering curhat saat jam istirahat, kalau ditaksir guru mengaji di madrasah sorenya. “Dia sempet cium bibir aku,” kata Santi polos menunjuk bibirnya. Saya kaget. Kelas enam SD, sudah merasakan dicium lelaki?

Kini, Santi sudah menjadi istri seorang ustadz yang cukup terkenal di daerah rumah saya. Kalau nggak salah, anaknya sudah dua-tiga, tak tahu berapa yang putra dan putri. Yang jelas, pertemuan terakhir saya dengan Santi, berlangsung saat saya kelas 3 SMA, saat mengajar mengaji sebuah TPA kecil yang kebetulan berdekatan dengan rumahnya. Itu sembilan tahun lalu.

Saya bukannya tanpa usaha membantu dua wanita yang telah meminta saya mencarikan jodoh bagi mereka. Saya tahu betul, butuh keberanian ekstra bagi seorang wanita mengatakan, “Tolong carikan saya jodoh.” Apalagi kepada seorang lelaki.

Setelah menerima permintaan seperti ini, saya langsung cek daftar teman lelaki saya yang ada di hape saya. Jumlahnya ada sekitar 15 yang saya kira cocok dan sudah saatnya berumah tangga. Saya melihat secara sekilas saja untuk menilai apakah kawan lelaki saya ini siap atau tidak menikah; sudah bekerja, atau paling tidak mau terus bekerja, matang usia atau berada di semester akhir kuliahnya. Mudah bukan?

Segera saja, saya kirim pesan singkat menanyakan empunya nomor yang saya tuju, apakah siap menikah atau tidak. Jawabannya beragam. Mulai dari jawaban to the point, “Maaf bang, belum siap,” sampai jawaban sekenanya. “Belum bulet nih,”, “Eh, ada biro jodoh ya?”, “Saya belum siap bang, Si Anu aja,” dan sebagainya. Atau ada yang yang saya temui langsung dan tawarkan. Jawabannya, hanya mesem-mesem. Intinya, semua menyatakan belum siap! Sepertinya, lelaki memiliki banyak pertimbangan sebelum memutuskan urusan besar ini.

***

DI SEBUAH SUDUT KAMPUNG, di bilangan Jakarta Timur. Seorang wanita masih memegangi undangan pernikahan berwarna hijau toska yang saya berikan kepadanya. “Saya juga sudah berusaha mencari, Ma,” Kenanga menekan nada terakhirnya ketika sang Mama mengeluh soal jodoh anak perempuan tertuanya yang tak kunjung tiba. Ia melirik saya sejenak, sambil berusaha mengendalikan kerikuhannya. “Saya mencari suami, bukan pacar. Dan kalau sekarang belum dapat, ya berarti belum ada yang baik buat jadi suami,” kata-katanya bijak dan tegar mencoba mengalahkan kegalauan hatinya yang bergetar.

Saya mendengar percakapan itu di rumah Kenanga, tepat di hadapan saya, ketika sedang mengantar sebuah undangan pernikahan sahabat saya untuk dia dan keluarganya. Melihat undangan pernikahan seperti ini, orangtua mana yang takkan lirih melihat anak perempuannya yang sudah berusia offside dari 30 tahun dan belum juga menikah. Ibunya hanya diam, ketika usai menggumam yang membuat hati Kenangan kembali terusik. “Kapan ya kamu dapat jodoh, Nak?”

Saya terjebak dalam situasi yang tidak enak, betuk-betul jadi kikuk. Usai berbasa-basi, saya pamit secepat kilat seperti berpikir tak pernah melihat kejadian seperti itu. Saya yakin, Kenanga sangat malu membahas jodohnya di depan saya. Karena saya tahu betul, adik ketiga Kenanga sudah menikah dan punya anak, dan adik keduanya, akan menikah dalam waktu dekat. Sementara dirinya?

***

YA, BEGITULAH JODOH. Ada yang dirasa cepat menjemput anak usia belia, ada pula yang belum jumpa meski usia sudah beranjak dan berbilang banyak. “Jodoh soal ghaib, seperti rezki dan maut,” saya mengenang petuah seorang ustadz. Hanya Tuhan saja yang tahu, kapan ketiga hal ghaib itu datang, termasuk jodoh. “Tapi, jodoh juga harus diupayakan, bukan menunggu saja.”

Menjadi tua itu keniscayaan, sementara menjadi dewasa adalah pilihan. Semua orang akan tua, tetapi kedewasaan adalah hasil dari penempaan ujian dan pengalaman hidup yang diperoleh, salah satunya dengan menikah. Bahkan agama menyebut, separuh keimanan adalah menjalankan sunnah Rasul, yaitu menikah. Maka jangan heran, kalau setiap Muslim yang menyadari ini, ingin sekali menyegerakan untuk berumah tangga secara sah di mata Allah Swt dan hukum di republik ini.

Sayangnya, akibat birokrasi yang korup, urusan menikah dianggap susah. Belum lagi dengan adat istiadat yang menjadi momok, bahwa menikah harus dirayakan dan memakan biaya yang tak sedikit pula. Uang tukon, uang belanja, peningset atau apalah adat menyebutnya yang biasa dipahami masyarakat sebagai pemberian sejumlah uang dari calon pengantin lelaki kepada calon pengantin wanita. Kadangkala dalam beberapa kasus, ditemukan menjadi ‘ajang pemerasan’ calon mertua kepada calon menantunya. Tentu saja ini sangat memberatkan. Sehingga, inti menikah untuk membina keluarga yang sesuai dengan syariat-Nya, menjadi kabur lantaran beban biaya resepsi  yang besar untuk menjaga gengsi keluarga di tengah masyarakat.

Kalau sudah begini, jangan heran kalau ada saja pemuda yang nekat merampok atau berbuat kriminal demi mendapatkan uang secara kilat sebagai biaya untuk menikah. Kalau mentok, ada pula mereka yang memilih bunuh diri berdua untuk membuktikan cinta mereka sebagai ‘sehidup-semati’, betul-betul mati!

Di akhir tulisan ini, saya titip doa buat ketiga teman saya; Mawar, Melati, Kenanga, juga mereka yang hingga kini belum dipertemukan dengan jodohnya. Yakinlah, bahwa Allah tak pernah menzalimi hamba-Nya.

*) Semoga Allah Swt memberikan pasangan hidup untuk di dunia dan akhirat. Semoga bahagia. Amin. Mohon maaf, bila ada tokoh dalam tulisan ini yang membaca. Bukan maksud saya membuka aib atau mencemooh, tapi sebaliknya, semoga menjadi renungan kita bersama yang membawa kebaikan dan menjadi ibadah di sisi-Nya.

2 thoughts on “J.O.D.O.H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s