Wajah Kejujuran

Oleh Lufti Avianto

Bila ingin melihat wajah kejujuran, pandangilah wajah-wajah mereka yang tengah tidur…

Farih baru kemarin menjalani imunisasi DPT yang ketiga. Dan, kembali demam. Ini malam kedua saya dan istri bergantian berjaga. Saya kebagian sepertiga malam pertama, sisanya, kami bergantian menggendong Farih yang kerap bangun dan menangis.

Saya pandangi, wajah anak-beranak yang tidur di kasur busa tanpa ranjang itu. Keduanya tidur nyenyak sekali. Sesekali saya kipas untuk menghalau nyamuk yang mampir di tubuh-tubuh kesayangan itu. Tak rela, kalau ada satu cc sekalipun yang dihisap.

Saya tertegun pada satu titik. Melihat mereka, istri dan anak secara bergantian. Sudah setahun dua bulan kami menikah, dan Allah Swt telah memberi kado yang teramat besar nilainya; Farih lahir enam bulan yang lalu. Ah, bahagianya.

Saya pandangi wajah istri yang terlelap. Wajah yang enam bulan lalu pucat pasi menahan perih luar biasa saat persalinan. Wajah itu masih saya ingat betul, sebab saya mendampingi istri hingga seorang bayi lelaki lahir dari rahim wanita yang kunikahi dengan mahar seperangkat alat sholat.

Saya lihat bibirnya. Bibir yang mengadu pada Tuhannya dengan dzikir dan istighfar saat bukaan rahimya tersendat dan beranjak lambat. Bukaan satu pada Ahad siang, baru bukaan dua pada Senin malamnya, terus beranjak lambat hingga bukaan empat setelah azan Isya berkumandang. “Astaghfirullaaahal ‘azhiiiimmm….” Ia merintih menahan sakit. Dan berganti, “Alhamdulillaaaaahhh,” setelah bayi kami lahir dan ditengkurapkan di dadanya.

Saya mengingat sesungging senyumnya. Saat menyambut saya pulang. Juga saat mengantar di pintu gerbang saat berangkat. Juga senyum ketika sebuah kejutan didapatnya. Manis. Senyum yang terasa tulus. Seperti boneka yang saya berikan bertepatan dengan Hari Pernikahan kami, 22 Januari lalu. Ia tersenyum setelah membuka kotak berisi boneka kangguru berbulu cokelat muda. Kangguru adalah lambang cita-cita kami untuk melanjutkan studi di Australia tahun ini.

Juga senyum-senyumnya yang lain.

Di sampingnya, ada buah cinta kami. Farih Abdurrahman. Nama itu saya pilih dengan sangat sederhana usai membaca sebuah majalah islam yang berkisah tentang anak hafal Al-Quran di usia empat tahun. Dengan nama yang sama, saya berharap keajaiban yang sama pula, bahwa suatu hari nanti Farih akan menghafal ayat-ayat suci. Ditambah lagi, harapan bahwa ia akan seperti namanya, berbahagia (Farih) sebab kedermawanannya sebagai hamba Sang Penyayang (Abdurrahman).

Saya juga ingin dia kelak bahagia. Bahagia karena memiliki kami, abi dan ibu yang mencntainya. Punya kakek-nenek, pakde-bude dan saudara sepupu yang menyayanginya.

Meski sesekali bangun dan rewel, saya berusaha menjadi seorang abi yang baik. Ketika bangun, saya rangkul, cium dan gendong dengan hati-hati. Bersenandung di tengah malam sambil berdoa. Mengayun-ayunnya dalam pelukan sambil menepuk lembut agar ia tetap tertidur.

Ahh…menatap wajah mereka, hati ini terasa teduh. Benar kata setiap ayah bahwa lelah dan penat serasa lenyap saat tiba di rumah lalu dihujani cium sang buah hati dan dihangatkan dengan senyum dan teh manis buatan istri.

Maka, untuk merasakan makna kedamaian dan kejujuran, saya selalu menyempatkan menatap wajah anak dan istri, ketika masih berkutat di depan monitor menyelesaikan tugas demi nafkah halal untuk mereka. Saya melihat, ada telaga kedamaian di raut keduanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s