“Maafin Abi, Ya,…”

 

Oleh Lufti Avianto

Farih baru berusia tiga bulan. Tapi, anak pertama saya ini sudah bisa menunjukkan ekspresinya

Tiga bulan ini, kehidupan keluarga saya berubah. Ada tangis yang membuat suasana rumah saya menjadi semarak bahagia. Seorang bayi lelaki telah lahir dari rahim istri saya secara normal dan kami beri nama Farih Abdurrahman. Lengkaplah kebahagiaan kami yang baru menikah setahun lalu.

Saya menjalani hari-hari yang baru, tugas baru, tanggung jawab baru dan peran saya yang baru sebagai seorang ayah. Sebisa mungkin, saya perhatikan pertumbuhan dan perkembangan Farih dari hari ke hari, bulan ke bulan, hingga kini menginjak usianya yang ketiga bulan, kami menjalani hari-hari bersama amanah dari Allah SWT. Seperti biasa, saya bekerja dan berangkat sekitar pukul 7.30 dari Tangerang SeLatan menuju Jakarta. Tak lupa, ritual berpamitan dengan Farih Abdurrahman, anak pertama kami yang masih berusia tiga bulan itu, saya lakukan. Sesekali saya ciumi pipinya sambil mengajaknya mengobrol. “Abi berangkat dulu ya,” begitu pamit saya yang sering dibalas dengan senyum dan tawa kecilnya. “Jangan nakal ya…”

Suatu ketika, saya berangkat lebih pagi dari biasanya. Ada pekerjaan penulisan iklan yang harus dituntaskan dan diserahkan siang harinya kepada klien. Otomatis, kegiatan pagi, seperti sarapan, mandi, dan obrolan pagi dengan istri, menjadi terburu-buru. Bahkan, ritual pamit saya pada Farih, tak sempat dilakukan. Saya berangkat saat Farih sedang dimandikan. Hanya uluk salam yang saya ucapkan.

Sampai sore hari, pekerjaan tak jua selesai. Karena advertorial mengalami banyak perubahan sehingga saya harus menginap di kantor. Baru tengah malam, saya menyempatkan kirim pesan singkat kpeada istri, sekadar menanyakan kabar. Saya sedikit terkejut. Farih terus-terusan rewel dan tak bisa tidur sejak lepas Maghrib dan baru saja tidur menjelang tengah malam. “Tapi nggak nyenyak,” balas istri.

Saya merasa bersalah dan terus memikirkan penyebabnya. Saya baru ngeh. Ada hal yang terlupa hari ini, sesuatu yang tak saya lakukan seperti hari-hari biasanya. Saya belum pamit pada Farih. Bahkan mencium pipinya yang tembam dan putih itu tak disempatkan.

Ada perasaan bersalah menyergap. Ada bayangan Farih yang rewel. Ada wajahnya dalam mata saya. Wajahnya yang merengek dan memelas.
Saya cari tahu tentang psikologis bayi. Tentang komunikasi awal bayi terhadap orangtuanya. Tentang sentuhan, ciuman, obrolan, canda, senyum, dan segala bentuk ekspresi yang sudah bisa ditangkap pada bayi seusia Farih.

Saya dapatkan informasi bahwa bayi, meski baru beberapa bulan saja, sudah bisa mengenali ayah-ibunya melalui komunikasi yang intens. Melalui ciuman, sentuhan, dekapan, bau, suara dan sebagainya. Jangan anggap remeh soal komunikasi pada tahap awal ini. Termasuk ritual pamit setiap pagi merupakan bentuk komunikasi yang baik bagi anak dan orangtuanya.

Saya juga sempat mendapatkan masukan dari senior di kampus dulu, Mbak Efrie, namanya. Paginya, saya menulis status di fesbuk perihal kerewelan Farih. Beberapa teman ada yang komentar, termasuk Mbak Efrie yang memberikan masukan. Bahwa suaminya tak pernah alpa untuk berpamitan dengan kedua anaknya yang masih balita. “Meski sedang mandi, suami selalu nungguin sampai selesai. Lalu pamit. Jadi anak itu tidak merasa ditinggalkan,” tulis Mbak Efrie di comment jejaring sosial saya.

Setelah menginap di kantor, saya pulang hampir menjelang Maghrib. Segera saya mandi dan menggendong Farih sebagai upaya penebusan dosa sehari sebelumnya. Farih masih sedikit meronta.

Saya bisikkan permintaan maaf padanya. “Maafin Abi ya, kemarin nggak pamit sama Farih,” kata saya sambil menggendong-gendongnya. Ajaib. Farih yang sepanjang hari itu masih rewel, langsung tenang begitu saya dekap. Saya cium kening dan pipinya, terus saya dengungkan permintaan maaf saya. Tanda menyesal. “Maafin Abi ya, nak…”

Reaksi Farih langsung senyum dan tertawa kecil. Lelah, capek dan penat saya serasa rontok melihat anugerah Allah SWT itu tersenyum seperti sudah memaafkan kealpaan saya padanya.

“Abi janji nggak lupa lagi deh pamit sama Farih.” Ia tersenyum lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s