Catatan saya untuk kejadian memalukan di rumah rakyat: Arifinto dan Situs Porno

Seorang wakil rakyat dari sebuah partai yang dikenal agamis dan gigih menentang pornografi, kedapatan tengah berasyik-masyuk menjelajah situs pornografi di dunia maya dengan tablet PC-nya. Ke mana lagi, kami harus mempercayakan suara dan amanat aspirasi kami?

Saya tengah menonton televisi, ketika membaca sebuah running text dari tvOne yang menulis perihal yang memalukan ini. PKS dan pornografi? Itu ibarat dua kutub yang berlawanan. Jelas sekali masih ingat bahwa PKS adalah partai yang paling ngotot memperjuangkan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (UU APP). Tapi, bagaimana mungkin seorang wakil rakyat dari partai dakwah itu bahkan muasis (pendiri) partai yang ketat dengan slogan bersih dan peduli itu, kini berbuat sesuatu yang tak senonoh di tengah publik? Bahkan ia bermaksiat, di tengah amanahnya sebagai anggota DPR yang tengah bersidang paripurna…!  Na’udzubilllah min dzaalik.

Astaghfirullahalazhiiimmmm. Saya beristighfar berkali-kali. Sebab, sudah bisa ditebak bahwa ini akan menjadi ‘bulan-bulanan’ di media massa bahkan di media sosial, seperti fesbuk, twitter dan kawan-kawannya. Dan ternyata benar. Banyak kawan yang saya pantau menuliskan status sebagai reaksi atas bencana moral ini. Saya juga beristighfar, takut sekali bahwa Allah Swt kelak akan membuka aib saya di muka umum atau pada saat di Padang Mahsyar nanti. Astaghfirullahal ‘azhiiimmmm

Tapi, yang ingin saya sampaikan di sini adalah catatan saya agar persitiwa ini menjadi hikmah dan pelajaran. Bagi siapa saja, bagi kader, mantan kader, orang yang sakit hati dengan PKS, bagi mereka yang benci dengan PKS sekalipun, atau bagi mereka yang masih menaruh harap dan simpati.

Catatan Salut

Pertama dan utama, saya harus mengatakan salut bahwa Arifinto telah mundur sebab bencana moral yang terjadi. Tak bermaksud menimbang derajat kemaksiatan, sebab hanya hak Allah Swt semata; meski ‘hanya’ menonton situs porno, ia mau mundur. Sebab, ada banyak contoh anggota dewan atau pejabat yang tak punya malu, pernah menjadi ‘aktor porno’, tapi tetap saja menjabat.

Salut yang kedua, bahwa PKS memberi sanksi tegas; meminta dia mundur dari DPR, dipecat dari Majelis Syuro (MS) dan harus mengerjakan amal kebaikan untuk mengganti dan menghapus kemaksiatan yang telah dilakukan. PKS tidak membangun seribu alasan untuk membela kadernya. Ini yang perlu dibiasakan dan dicontoh partai lain apabila para kadernya melakukan kesalahan. Bahkan secara personal, pesan ini sangat baik bagi kita; “mengganti perbuatan buruk dengan amal sholeh.”

Sikap taklid?

Ada beberapa kader yang saya mintai komentar via pesan singkat tentang hal ini. Rata-rata mereka menjawab, masih mempercayai keterangan Arifinto yang hanya membuka email dan tak sengaja membuka situs porno melalui link itu. Komentar ini diberikan, sebelum ada keterangan resmi perihal kemunduran sang anggota dewan dari DPR dan dipecat dari MS PKS.

Pembelaan semacam ini, menurut saya, cukup membabi buta, kalau tak sampai hati disebut taklid. Sebab tak didasari dengan verifikasi data dan informasi yang cukup. Sebab, pembelaan lahir hanya melalui anggapan bahwa media massa yang memberitakan peristiwa ini dinilai tak berimbang. Seharusnya, para kader bisa mengamati kinerja jurnalis.

Kepercayaan (tsiqoh) lahir dari rahim keteladanan dan pribadi yang luhur dari orang yang menjadi panutan serta ilmu pengetahuan yang cukup bagi para kader. Sementara taklid, lahir dari intruksi, minimnya informasi dan cekaknya ilmu pengetahuan. Dua hal yang berbeda. Saya tahu persis, bahwa para kader PKS dilatih untuk tsiqoh. Tentu saja sikap ini tak datang dengan sendirinya. Sebab harus ada ilmu untuk memahami ini dan keteladanan yang ditampilkan. Ia seperti komunikasi dua arah, harus ada pesan dan umpan balik-nya.

Nah, bagaimana bila ada sikap kritis dengan bertanya? Saya kira, ini harus diapsresiasi dan segera mendapatkan jawaban yang memuaskan dari pihak yang berwenang untuk memberikan informasi yang benar (tidak mengada-ada), akurat dan jelas dan lugas. Setelah itu, biarkan masyarakat yang akan menilai selanjutnya.

Setelah ada fakta berikutnya bahwa Arifinto mundur dari DPR dan dipecat di MS PKS dengan segala konsekuensinya, saya kira sikap para kader di grassroot harus berbesar hati. Tak perlu lagi ngeles dan bermain kata bahwa ini adalah ulah musuh dakwah dan politik PKS. Tak perlulah berlindung di balik pernyataan “ini fitnah, makar dan hidden agenda”. Fakta sudah mengatakan demikian adanya. Maka yang diperlukan hanya sikap ksatria para kader di akar rumput seperti yang ditunjukkan Arifinto.

Metode Kerja jurnalis; fakta, fakta dan fakta

Bagi seorang jurnalis yang baik, sudah menjadi nilai yang terintegrasi bagi dirinya untuk bekerja sesuai dengan fakta. Sebab fakta adalah andalan utama bagi mereka yang bekerja sebagai jurnalis. Fakta juga yang membedakan jurnalistik dengan ranah infotainment, sastra, fiksi dan karya seni. Jurnalistik haruslah fakta, bukan yang lain.

Seperti yang diberitakan, bahwa sang fotografer M. Irfan dari Media Indonesia, punya 60 stok foto wakil rakyat yang tengah browsing konten porno. Bahkan dia memperhatikan detil waktu, sekitar dua menit untuk mengakses situs itu. Meski dalam pernyataan pers awal, Arifinto mengelak, dia hanya melihat tak sampai 1 menit dan langsung dihapus. Ini fakta. Kalau PKS keberatan dengan fakta ini, bisa saja menggugat Media Indonesia, kalau memang mempertanyakan keberadaan 60 foto itu dengan detil waktu yang ada.

Yang ingin saya katakan, jangan terlalu underestimate dengan media massa dan jurnalis. Jangan su’uzhon yang berlebihan. Bukankah kita diajari untuk berbaik sangka? Husnuzhon yang berlapis-lapis malah. Sebab, akan sangat terlihat kinerja media dan jurnalis yang tidak didasari dengan fakta.

Pers = Watchdog.

Saya jadi teringat dengan salah satu perang pers sebagai anjing penjaga (watchdog). Ia menjalankan peran kontrol sosial di masyakarat. Dan melalui peristiwa ini, terbukti bahwa pers telah menjalankan fungsinya. Jadi, bagi kalian para wakil rakyat, pejabat publik, presiden dan antek-anteknya, dan siapa pun yang akan mengganggu kepentingan publik, bersiaplah terus diawasi oleh pers (juga Allah swt yang akan terus) melihat kinerja kalian!

Meminjam peribahasa, “muka buruk cermin dibelah”. Yang perlu dilakukan PKS hanyalah berbenah memperbaiki kualitas diri, organisasi partai, kedisiplinan kader dan menegakkan garis perjuangan partai yang berdasarkan nilai Islam, bukan nilai ‘buka-bukaan’. Memperbaiki urusan rumah tangga lebih baik daripada menyalahkan mulut nyinyir para tetangga lain yang tak suka dengan PKS. Bukankah dakwah itu memang tak disenangi para musuh Allah?

Hidden Agenda

Pikiran saya tak bisa menjangkau ini. Otak saya yang hanya segini-gininya, belum bisa menebak kalau peristiwa ini adalah hidden agenda. Kalau setelah peristiwa ini menjadi peluru buat menyerang PKS, iya. Sebab, kejadian ini berlangsung sangat alami, bukan dengan rekaan melalui rekayasa foto atau video porno rekaan yang sempat menuding Anis Matta sebagai pelakunya. Ini menjadi bola salju lantaran sikap Arifinto yang tak segera mengaku kekhilafannya dan sikap PKS yang selama ini dikenal partai berbudi luhur menjadi berseberangan dengan akhlak para petingginya (kader). Lalu jadi kontradiktif, dan kemudian menjadi sasaran empuk bagi pemberitaan.

Terlepas dari agenda beberapa partai yang punya media besar, seperti tvOne, AnTV dan Viva News milik Aburizal bakrie, Media Indonesia dan MetroTV milik Surya Paloh, Jurnal Nasional, yang kita sendiri sudah mahfum, ke mana arah keberpihakan media-media itu. Ini hanya momen bagi kepentingan politik mereka, saat melihat peluang bahwa salah satu kekuatan politik yang akan mengancam, yaitu PKS, tengah lalai menjaga integritasnya. Saya meyakini ini. Atau bahkan cenderung mengalami demoralisasi para petingginya sebagaimana yang dimaksud Yusuf Supendi? Untuk yang satu ini, saya tak tahu persis.

Kalau video porno yang diduga mirip Anis Matta atau ‘ulah’ Yusuf Supendi, ini masih bisa disebut agenda lawan politiknya. Sebab, banyak instrumen yang akan memperkuat ke hipotesis itu bahwa politik memang demikian kejam adanya. Semua serba intrik. Bahkan saat saya browse video yang menuduh Anis Matta, saya cari dan tak saya dapatkan. Saya hanya dapat capture atau potongan gambar saja. Saya bisa bilang, “Nggak mirip sama sekali dengan Anis Matta.” Bukan saya mau mmbela, tapi bagi saya yang sudah pernah mewawancarainya beberapa kali, tentu bisa membedakannya.

Saya kira, siapapun yang sudah berani terjun ke dunia politik, dia harus sudah siap dengan segala intrik dan makar dari para lawan-lawannya. PKS dan para kadernya tak perlu merasa dizalimi. Sebab, kalau melihat kasus yang melanda partai lain juga akan disikapi sama oleh media; diberitakan secara besar-besaran.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s