Sepotong Maaf

Selasa (12/4) siang, lewat tengah hari. Telepon seluler saya berbunyi dengan nomor pemanggil yang sudah tidak asing dalam dua pekan terakhir. Saya menebak, sebuah lembaga zakat dan kemanusiaan yang berkantor di bilangan Ciputat yang menghubungi saya. Ternyata tak meleset. Suara wanita di ujung telepon, dengan santun mengabarkan bahwa saya berhak mengikuti final interview keesokan paginya. Saya setujui untuk datang tepat pukul sembilan, sesuai jadwal yang ia susun.

Satu jam kemudian, di hari yang sama, seorang lelaki giliran menghubungi saya. Ujang nama lelaki yang menelpon saya itu. Ia mengatur janji untuk bosnya, seorang pemilik sebuah grup media, untuk bertemu dengan saya Rabu (13/4) pagi jam 10.00. Saya katakan kepadanya bahwa saya sudah membuat janji sejam sebelumnya, khawatir bentrok, saya usulkan untuk bertemu saja siang harinya. Ia sedikit kecewa. Tapi kemudian, saya coba usulkan untuk reschedule.

Beberapa saat kemudian, saya kirim pesan singkat ke GM HRD lembaga itu. Pak Iqbal namanya. Saya ketahui saat tes wawancara dan tes tulis pertama pada Jumat (1/4) pekan sebelumnya. Ia yang mewawancarai saya dan tahu nomor teleponnya saat ia mengirimkan alamat tempat psikotes di bilangan Parung, Jawa Barat.

Agak sulit rupanya mengatur ulang jadwal bila ingin bertemu dengan pembesar atau sekelas direktur. Saya maklumi ini. Reschedule tak bisa dilakukan, artinya saya harus commit dengan janji yang sudah saya buat. Sampai akhirnya Pak Iqbal mengirim pesan yang berbunyi, “Kalau mas lufti berminat silakan datang sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Kita tidak mengagendakan reschedule. (Kemudian sebagai info: gaji yang bisa kita berikan untuk 22 hari kerja, 40jam per pekan adalah di kisaran 2,5 juta). Silahkan dipertimbangkan. Thanks.” Begitu bunyi pesan, yang menurut saya, menyiratkan ketegasan.

Tak berhasil. Karena itu, saya langsung mengontak Ujang untuk mengabarkan ini. “Maaf sekali pak, saya sudah buat janji dengan yang lain. Saya harus komitmen untuk menepati karena tidak bisa dijadwal ulang. Mohon maaf. Saya bisa datang, insya Allah sebelum jam 11 siang,” saya menjelaskan tentang kondisi saya. Ujang menjawab, “Oke.”

Dalam kasus seperti ini, saya harus memegang komitmen dan janji saya. Sederhana saja, siapa yang membuat janji lebih dulu, itu yang harus dipenuhi. Sebab, saya menakar, kedua janji itu memiliki bobot penting yang sama. Jadi saya lebih menghormati lembaga itu. Karena itu, saya putuskan untuk menemui janji dengan lembaga itu untuk final interview lalu bersegera memenuhi janji saya yang lain di Bintaro. Namun, saya agak sangsi. Bukan apa-apa. Dua pengalaman panggilan tes wawancara pertama di Ciputat dan psikotes di Parung, pihak lembaga itu ngaret dari jadwal yang telah disepakati.

Janji yang pertama, pukul 13.00 pada Jumat (1/4) pekan sebelumnya di kantor Ciputat. Janji pukul 13, dan hari Jumat pula, Saya sengaja untuk sholat Jumat di masjid dekat kantor tersebut dan rela tidak makan siang demi tertib dan disiplin waktu saya memenuhi janji. Akhirnya, saya ingat betul, saya tiba lima belas menit menjelang pukul 13, tapi tak ada tanda-tanda akan tepat waktu. Bahkan masih resepsionis mengatakan kala itu, bahwa GM HRD Manajer masih makan siang, padahal sudah lewat pukul 13. Hingga tes tulis dimulai baru pada pukul 13.15 waktu lembaga itu. Padahal, waktu di jam tangan saya sudah lewat dari 20 menit.

Ibu Yuyun, staf HRD yang memberikan tes tertulis itu, memulai dengan basmalah dan doa. Tapi lupa meminta maaf atas keterlambatan yang membuat saya tidak nyaman dengan menunggu lebih dari 20 menit. Juga tanpa menyebut alasan keterlambatan itu. Saya kira, kalau ingin membuat janji di hari Jumat siang, yang ideal memang setelah shalat Jumat dan makan siang, mungkin sekitar 13.30 atau 14.00, bukan pukul 13.00. Karena itu, saya tak heran kalau ngaret dan saya merasa ‘ditelantarkan’.

Janji kedua pada saat psikotes di LPI, Parung, pada Senin (5/4). Saya dijadwalkan untuk tes pukul 08.00. Sengaja, saya datang pukul 07.00 saat sekolah milik lembaga itu, tengah upacara bendera pada Senin pagi. Sebab, Pak Iqbal mewanti-wanti untuk datang lima belas menit, sebelum tes dimulai. Saya pun menyanggupi. Ternyata ngaret juga. Meski kemudian, saya bisa memaklumi sebab harus menunggu peserta tes yang lain, yang mungkin saja tersesat di jalan.

Sampai pada Rabu (13/4) pagi yang sangat mengecewakan bagi saya. Setelah sehari sebelumnya dikabarkan, saya sengaja datang satu jam sebelumnya, yakni pukul 08.00. Dengan harapan, saya bisa memulai pertemuan dengan dua direktur yang telah dijadwalkan sebelumnya, lebih cepat.

Sampai satu jam saya menunggu, sambil ditemani ngobrol dengan karyawan lembaga itu yang sudah saya kenal sebelumnya. Pukul sembilan lewat, seorang perempuan berjilbab cokelat muda mendekati saya dengan ragu. “Maaf pak, direksi sedang ada rapat. Mungkin paling cepat selesai pukul 10.00” perempuan yang belakangan saya tahu namanya dari resepsionis itu mengaku sebagai sekretaris salah satu direktur itu mengabarkan. Mba Nia, namanya.

“Lalu?” saya mulai resah.

“Sampai jam berapa bisa menunggu?”

“Saya sudah ada janji sebelum jam 11. Jadi paling tidak berangkat dari sini pukul 10.” Saya kira satu jam, batas terakhir saya menunggu untuk kemudian menepati janji saya yang lain.

“Saya coba tanyakan. Karena sedang rapat, nggak enak bolak-balik ke dalam, pak. Jadwalnya juga padat,” wanita itu mencoba meminta maklum saya, tapi dengan nada yang buat saya, kurang ramah.

“Oke.”

Saya menunggu dengan resah, khawatir saya menzalimi janji saya dengan pihak lain. Sebab, perhitungan saya, pertemuan di lembaga itu tidak akan mencapai satu jam. Dan saya kira, saya sudah menunjukkan minat dan keseriusan saya untuk bergabung dengan lembaga itu dengan datang satu jam lebih awal dari waktu yang ditentukan.

Hampir setengah jam lewat dari pukul 09.00, saya mulai gelisah. Perkiraan saya, rapat direksi hampir tidak mungkin selesai dalam satu jam. Pasti banyak yang harus didiskusikan dan dibahas. Tak lama, Pak Iqbal keluar menemani seorang tamu. Ia melewati tempat saya duduk di lobi, tapi tanpa menegur bahkan tak menatap saya sekalipun. Padahal, sebelumnya kita sudah jumpa dan bicara.

Setelah mengantar tamu itu, ia menemui saya sebelum masuk ke dalam. “Rapat direksinya mendadak. Mungkin akan selesai pukul 10.” Saya perhatikan, tak ada kata ‘maaf’ yang terlontar darinya. Tidak juga keluar maaf itu dari Mba Nia dan staf HRD Bu Yuyun. Saya sangat heran dan berpikir, mahal sekali kata maaf dari sebuah lembaga yang dikelola atas nama sistem Islam ini? Padahal, tak perlu waktu lama untuk mengucapkan maaf. Saya kira, tak sampai dua menit, tapi bisa berdampak pada kenyamanan saya dalam menunggu hingga satu jam, kalau itu diucapkan.

Saya sudah merasa tak nyaman, sangat tak nyaman saat jam dinding menunjuk pukul 10. Belum ada tanda-tanda dan ada kabar bahwa rapat itu akan segera berakhir. Tak ada konfirmasi yang melegakan dari lembaga ini. Saya merasakan, bahwa orang-orang yang terlibat seperti berusaha menghindari saya.

Saya kira, hubungan antara pelamar pekerjaan dengan perusahaan atau lembaga penerima kerja, adalah setara. Seperti halnya saya. Saya membutuhkan pekerjaan tempat saya berkarya dan mencari nafkah. Hal yang sama juga terjadi di pihak penerima kerja seperti lembaga itu yang membutuhkan keterampilan saya setelah dinyatakan lolos melalui serangkaian tes.

Kali ini, Bu Yuyun yang menemui saya. “Kami minta maaf. Rapatnya juga belum selesai. Nanti kita jadwalkan ulang bagaimana?” raut wajah wanita itu saya amati lekat-lekat. Ada raut kecanggungan.

Memang saya tak gila hormat agar seseorang untuk meminta maaf. Tapi bukankah, agar komunikasi itu lancar, permintaan maaf sebaiknya sudah didengungkan sejak keterlambatan demi keterlambatan terjadi? Tapi apa susahnya minta maaf? Toh saya bukan siapa-siapa.

Saya merasa kecewa sekali dengan lembaga yang berplat dan bernaung dalam manajemen Islam itu. Memang, posisi saya sebagai pelamar pekerjaan untuk poisi reporter di lembaga itu. Tetapi, saya bukan pengemis yang meminta belas kasihan untuk diterima agar saya punya uang untuk anak dan keluarga saya. Sebab, saya yakin –haqqul yaqiin—bahwa, rezeki itu semata-mata hanyalah milik Allah. Dan Dialah yang akan membagikan kepada hamba-Nya yang berusaha. Meski saya sebagai pelamar kerja, bukankah saya juga manusia yang sebaiknya diperlakukan secara manusiawi?

Saya masih merutuki kondisi itu. Beristighfar sebanyak-banyaknya agar saya tak khilaf sehingga melakukan hal-hal yang tak patut.

Memang saya akui, budaya tertib waktu dan budaya meminta maaf, masih sulit dilazimkan. Saya memang bukan orang yang perfect untuk urusan ini. Tapi, saya adalah orang yang sedang belajar membiasakan dua hal itu –disiplin waktu dan meminta maaf-  sebagai kebiasaan, etos kerja dan nilai yang terintegrasi dalam diri saya.

Saya jadi berpikir, pantas saja kalau budaya tepat waktu di negara ini sulit berkembang. Pasalnya, setiap ada orang yang belajar disiplin, dia selalu dikecewakan seperti saya, oleh pihak lain yang tak belajar disiplin.

Untuk soal permintaan maaf ini, saya pernah diingatkan oleh abang sulung saya. “Biasakan untuk mengatakan ‘maaf, terima kasih, dan tolong’ dalam keseharian.” Saya ingat betul ia mengatakan itu saat kakak kedua saya tengah ngambek pada suaminya. Nasihat itu yang saya dengar dari mulut lelaki pendiam itu dan masih saya rekam dalam ingatan. Bahkan, saya coba terapkan kepada siapa pun.

Akhirnya, lewat pukul 10, saya keluar dari kantor itu dengan kecewa. Meski kecewa, tapi saya merasa yakin akan ada hikmah dari kejadian ini. Semoga saja, saya dan orang-orang di lembaga itu, bisa mengambil pelajaran yang berharga tentang maaf, tentang disiplin waktu dan tentang nilai-nilai kemanusiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s