Aku Ini Milik Allah

 Farih sakit. Ah, aku sedang tidak siap menghadapi ini. Apalagi, istriku juga sakit. Dalam waktu yang bersamaan pula, aku sedang menghadapi deadline yang sangat padat.

Dokter spesialis anak yang muda dan berdarah batak itu melirik kami. Aku dan istriku saling berpandangan. “Jadi bagaimana, pak?” suaranya tertata lembut meminta jawaban.

“Yang panas saja, dok,” aku menjawab setelah berdiskusi sejenak dengan istriku. Akhirnya, kami memilih vaksin DPT Combo yang berdampak panas.

Saat itu, kami tengah memilih imunisasi DPT tahap kedua bagi buah hati kami, Farih Abdurrahman, yang masuk usia lima bulan. Dr. Mutiara Siagiaan, nama dokter yang setiap bulan kami sambangi untuk konsultasi kesehatan Farih, kembali menjelaskan untuk kedua kalinya tentang perbedaan vaksin DPT yang ‘panas’ dan yang ‘tidak panas’.

Selain perbedaan harga vaksin, baru kami ketahui pula sejak sebulan lalu saat penjelasan pertama, bahwa vaksin yang menyebabkan panas terdiri dari seluruh bagian sel; inti sel, ekor dan badan sel. Sedangkan yang tidak menyebabkan demam hanya terdiri dari inti selnya saja. “Yang dibutuhkan bayi hanya inti selnya saja,” dokter itu kembali menegaskan.

Keputusan telah diambil. Alasannya, selain lebih murah, saya hanya khawatir kami tidak memiliki pengalaman bila kelak farih sakit. Bukan bermaksud ingin menyakiti Farih. Tapi, setidaknya, sistem imunitas tubuhnya juga memiliki pengalaman terhadap kuman yang masuk. Mendengar alasan saya, dokter tak berkerudung itu bisa memaklumi alasan saya.

Show dimulai malam harinya. Termometer digital berwarna putih yang pagi tadi kubeli, menunjuk angka 37,5 derajat celsius. Setelah pulang dari klinik tadi siang, Farih sudah diberikan paracetamol untuk mengantisipasi demamnya. Kondisi ini semakin menghimpit saya, ketika istri, di malam farih panas, juga sakit radang tenggorokan dan flu. Ditambah sebuah naskah 70 halaman, yang harus selesai dalam waktu dekat.

Kepala rasanya sakit mendapat ujian seperti ini. Saya coba untuk tetap senyum saat Farih mulai menangis karena lapar, sementara ASI tak lancar keluar akibat istri saya yang juga sakit. Layar komputer jinjing menyala sejak sore, tanpa keybord-nya bisa terpijit lancar mengetikkan kalimat demi kalimat demi menyelesaikan pekerjaan. Saya masih menggendong Farih, kadang bergantian dengan ibu mertua yang kebetulan sedang menginap saat itu.

Pengalaman pertama demam ini, betul-betul jadi pelajaran bagi kami. Sempat turun, lalu naik lagi suhu tubuh buah hati kami yang lahir 11 Oktober tahun lalu. Hingga memasuki hari ketiga, Farih masih demam meski tak rewel tapi ia jadi sulit tidur.

Tiap empat jam, kami mengontrol suhu tubuhnya. Meminumkan obat puyer dan paracetamol berselang-seling, dalam rentang itu, bila panasnya tak mau turun. Sampai suatu malam, panasnya mencapai 40 derajat celsius. Aku dan ibu mertua bergantian menjaga Farih, sementara istri yang sakit hanya dibangunkan kalau Farih minum ASI saja.

Saya perhatikan, kebiasaan menggumamnya, menjadi berkurang. Suatu malam, saat aku menjaga Farih, melintaslah serombongan pikiran buruk. Farih takkan selamat. Dia akan meninggalkan kami, Abi dan Ibunya yang mencintainya. Dan Allah Swt lebih mencintai anak kami, ketimbang kami sendiri orangtuanya. Pikiran itu melintas tanpa bisa dibendung sampai saya hampir menangis. Seperti nyata.

Saya tak bisa menerima kenyataan bahwa Farih akan meninggalkan kami selamanya. Bagaimana kehidupan saya kalau Farih tiada? Pikiran itu terus saja berjejal di kepala yang tak lagi bisa berpikir jernih. Saya istighfar. Saya mohon ampun sebab cinta yang terlalu dalam kepada buah hati kami, hingga alpa dengan cinta kepada-Nya yang lebih kekal, lebih abadi dan lebih pasti berbalas.

Tiba-tiba, Farih tersenyum tipis. Hati saya meloncat kaget. Senang tentu saja, sebab Farih sudah terhitung hampir lima hari demam tinggi. “Kalau sampai hari Sabtu masih panas, cek darah saja,” kata dokter Mutiata menyarankan saat imunisasi hari Seninnya, sembari memberikan obat anti-kejang dan surat rujukan tes laboratorium.

Senyum tipis itu kemudian semakin lebar diiringi dengan gumaman yang menggemaskan. “Auwa…..wawabi…” Ada pesan yang saya tangkap saat itu, seolah Farih ingin mengatakan, “Abi, aku ini milik Allah. Engkau hanya bertugas menjaga, mendidik, membesarkanku serta mengenalkan aku dengan Allah. Jangan terlalu sayang yang berlebihan kepadaku, ya?”

Saya terdiam sambil memikirkan maksud gumaman Farih. Saya diingatkan anak kami yang belum genap enam bulan bahwa tak pantas menyandarkan cinta seutuhnya kepada manusia. Istri, anak-anak adalah titipan milik-Nya yang sewaktu-waktu bisa diambil kapan saja dan di mana saja.

Tak terasa, butir bening di pojok mata ini menganak-sungai. Aku cium Farih sambil berbisik, “Abi sayang Farih karena Allah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s