Langitku

Ini cerita tentang dia. Dia yang sejak lebih dari setahun itu, melengkapi kehidupan saya.

Arum Patriati, nama perempuan Jawa itu. Bicaranya medhok, hatinya seputih salju, budinya lurus, kata-katanya halus terjaga, dan cita-citanya setinggi langit. Itu sebabnya, saya menyebutnya ‘Langitku’ di phonebook handphone.

Sebelum menikah, saya masih ingat betul, dia bilang mau kuliah setinggi langit. Sampai tingkat postdoc, atau kalau perlu, sampai S4 kalau ada. Diam-diam saya kagum. Saya juga punya cita-cita yang sama, meski saya jauh lebih malas dan tidak lebih tekun darinya. Ini jujur.

Singkat cerita, kami menikah akhir Januari 2010 lalu, lalu di tahun yang sama, dikaruniakan putra, Farih Abdurrahman, di pertengahan Oktober. Hidup kami sempurna. Sebagai sebuah keluarga kecil, kami bahagia.

Kebahagiaan itu, kian lengkap ketika sekitar sepekan lalu, dia dinyatakan mendapat beasiswa master dari Kementerian Ristek, institusi yang menaungi kantornya – BATAN.

Saya senang, sekaligus takjub. Padahal, tiga bulan sebelumnya, saya bikin sedikit analisis, kalau sulit baginya diterima. Sebab, dia memilih UGM, perguruan tinggi yang tidak ada kerjasama dengan Batan. Hanya IPB, UI dan ITB yang saat ini sudah teken kontrak agar Batan mengirim para karyawannya untuk belajar di sana.

Dan kami sudah menyiapkan beberapa rencana. Sebab, sebelumnya dia sempat mendapat tawaran dari beberapa profesor di luar negeri untuk kuliah; dari Australia dan Korea. Saya pilih Australia, sebab, negeri Kangguru itu yang paling mudah bagi saya beradaptasi; bahasa dan jurusan jurnalistik yang saya incar, ada di sana.

Pilihannya, bisa saya dan istri yang berangkat, sementara Farih dititip di Jogja bersama Mbah Utinya. Atau saya dan Farih di Jogja, mendaftar di Kajian Media dan Budaya UGM. Sementara dia sendiri di Aussie.

Korea Selatan, sama sekali tak kami lirik.

Kenyataannya, ajaib. Bim salabim. Kun fa yakuun. Diterimalah dia di beasiswa Ristek.

Dia tak pernah menyerah, meski tahu kemungkinan itu kecil. Dia tetap mencoba, menulis proposal rencana studinya, begadang mencari data, mengerjakan eksperimennya, dan semua hal sebagai penunjang proposalnya. Dia terus berharap dalam doanya. Dia tak putus asa. Aha, dia memang jauh lebih tekun dari saya.

Kini, dia sedang mempersiapkan tes potensi akademik sebagai syarat sempurna diloloskan beasiswa. Sebab, beasiswa akan batal bila dia tak diterima di universitas yang dituju. TOEFL, beres. Kalau nggak salah, skor terakhir ITP-nya sekitar 530. Selebihnya, sudah oke. Semoga saja lancar. Saya harap begitu.

Dia memang pintar, rajin dan tekun. Dia memang tinggi, cita-cita dan motivasinya.

Selain itu, diam-diam saya juga menyicil rencana lima tahunan kami untuk kuliah lagi. Istri sudah. Kini tinggal saya yang harus memikirkan, ke mana saya akan berlabuh? Sepertinya beberapa program beasiswa dalam dan luar negeri menjadi agenda perburuan.

Semoga saja bisa. Dia juga bilang begitu dalam perbincangan kami, suatu malam. “Mas orang rajin itu akan mengalahkan orang pinter,” katanya menasehati. Saya kira, banyak benarnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s