Syukur Saja, Sudah Cukup

Entah bagaimana persis ceritanya, lelaki itu memuji saya. “Lo beruntung. Udah di track karirnya. Anak udah ada, tanah udah ada, udah ada rencana studi segala,” suaranya tegas, meski agak serak.

Saya diam. Apakah sebegitu beruntungnya saya? Jujur, saya jarang merasa beruntung atau lebih tepatnya bersyukur. Astaghfirullah. Pikiran saya menerawang mendengar pujian itu sambil memikirkan sosok lelaki berkulit gelap di depan saya.

Sebelumnya, kami hanya sedang mengobrol ringan di parkiran motor saat pula kantor. Ngalor-ngidul ngomong soal kantor, tempat kami berdua bekerja. Dia fotografer, saya jurnalis. Kami merasa klop sebagai kawan sejawat yang baru sebulan kenal. Tapi bisa langsung tune in.

Dia, kawan baru saya, sebut saja namanya Adi. Saya sengaja tak menulis nama sebenarnya, sebab saya takut sekali menyinggung perasaannya. Usianya, lebih tua dari abang pertama saya sekalipun, sekitar 35 tahun, sementara istrinya terpaut setahun lebih muda darinya.

Bicara soal pengalaman, lelaki ini saya amati sudah mumpuni. Google merekam namanya sebagai pemenang sejumlah kompetisi fotografi. Sudah cukup buat saya menilai kapasitas dan kapabilitasnya.

Sayangnya, di usia delapan tahun pernikahannya, belum juga dikaruniakan momongan. Dia sudah usaha, tapi tampaknya Allah belum kasih restu. Sudah berobat setiap sabtu ke pengobatan alternatif di bilangan Bintaro. Dia yang ceritakan itu.

Pikiran itu yang mengganjal batinnya. Soal anak yang sudah dirindukan sangat. Saya ingat beberapa pasangan yang juga belum memiliki anak. Beberapa wajah sahabat berkelebatan, juga salah seorang publik figur yang sebulan lalu saya wawancarai, Melanie Subono (kisahnya akan saya publish kalau majalah sudah terbit).

Seperti saya bisa memahami hasrat dan keinginan mereka yang begitu kuat, dada saya sakit. Seperti ingin menangis dan protes dengan Tuhan.

Di sisi lain, saya merasa begitu sempurna di mata kawan saya itu. Anak sudah ada, tanah yang akan menjadi calon rumah kami, juga sudah ada meski meninggalkan cicilan yang harus kami bayar kepada kedua orangtua kami. Istri dapat beasiswa di UGM. Kami baik-baik saja. Kami sehat. Kami tak kekurangan.

Ya, Allah, ada yang kurang ternyata!

Ternyata saya kurang bersyukur dan jarang mengakui semua nikmat itu. Dalam perjalanan Bintaro-Serpong, saya menangis dari balik helm standar Honda hitam. Saya ingat betul, banyak kemudahan saya saat menikah dulu. Bahkan soal anak, belum sebulan kami menikah, istri saya sudah positif hamil dan kini anak kami sudah berusia delapan bulan. Dada saya sakit, batin saya menggugat. Saya beristighfar berulang-ulang.

Ya Allah, ampuni saya. Maafkan. Bahkan saat menuliskan ini, mata saya basah. Ternyata Allah menegur saya, melalui orang yang dekat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s