#6: Tentang Ayah dan Aku

Anak laki-laki akan meniru perilaku ayahnya dalam keluarga. Seperti kata pepatah, “buah tak jatuh jauh dari pohonnya.”

Saya pernah mendengar pernyataan ini. Entah apakah ini pernah diuji secara klinis atau psikologis, atau mungkin hanya kesimpulan yang tak berlaku umum. Tapi bagi saya, ini benar adanya.

Saya memang meniru perilaku ayah saya. Meski beliau meninggal sejak saya berusia 8 tahun, tapi ibu saya selalu bercerita tentang ayah.

Ayah saya itu tidak sungkan membantu pekerjaan rumah tangga, mulai dari mencuci baju, memasak. Ayah saya juga tak malu mengurus anak, memberi makan, memandikan dan sebagainya. Saya juga melakukan itu, meski ada beberapa lelaki yang memandang tugas itu tak layak dilakukan seorang kepala rumah tangga. Ada argumentasi lebih mulia yang mengatakan, “Nabi juga melakukannya.”

Saya pernah ngobrol dengan seorang kawan yang punya pandangan sebaliknya. Katanya, lelaki pantang melakukan pekerjaan macam itu. Tugasnya, kata dia, adalah mencari nafkah. Titik. Selebihnya, dialah yang akan minta dilayani sang istri dalam urusan apapun.

Saya tak menyalahkan pandangannya yang saya kira keliru. Dalam beberapa sejarah kenabian yang saya baca, Nabi juga menjahit terompahnya sendiri, tak marah bila tak ada makanan, dan juga membantu menyelesaikan pekerjaan istrinya. Beliau tak sungkan. Beliau juga tak malu.

Kini, saya sudah berputra satu. Tentu saja seperti ayah kebanyakan, saya ingin anak saya lebih baik dari saya. Saya ingin dia lebih lembut dan lebih sabar dalam bergaul kepada istri dan anaknya kelak. Juga lebih santun. Tidak menempatkan istri melulu di bawah dirinya sebagaimana rasulullah juga mengembangkan potensi para istrinya.

Tentu saja, untuk mewujudkan itu, masih ada tahap panjang pendidikan yang harus saya berikan sebagai seorang ayah. Saya harus memberikan lebih banyak contoh ketimbang teori dan nasihat. Sebab, pola pendidikan yang baik adalah dengan keteladanan.

Semoga Allah Swt. memberikan saya kekuatan dan kemudahan dalam mendidik anak dan istri saya untuk bersama-sama menuju Allah. Seperti yang selalu saya bilang kepada istri, “saya ingin kita bahagia dunia dan akhirat.” Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s