#7: Belajar dan Belajar

Apa jadinya kalau seorang penulis ikut pelatihan menulis? Ini yang saya lakukan.

Sejak lulus kuliah dan lantas bekerja di bidang tulis-menulis, saya baru menyadari kalau ilmu yang saya pelajari selama 4.5 tahun di kampus, belumlah cukup untuk menjadi seorang profesional di bidang ini. Saya masih harus ikut berbagai pelatihan menulis untuk mengasah keterampilan dasar saya.

Dulu saya termasuk yang anti ikut pelatihan semacam ini. “Lha di kampus juga diajari kok?” Begitu saya selalu berkilah. Baru setelah bekerja, ternyata saya salah persepsi. Makanya, setelah itu saya lantas menjadi orang yang haus ilmu.

Berbagai pelatihan, terutama yang gratis dan berkualitas saya ikuti. Ada juga yang bayar lho. Mulai dari Rp 350 ribu sampai yang Rp 3 juta perak!

Saya termasuk yang teliti dulu sebelum membeli, termasuk ikut pelatihan yang berbayar. Dan, alhamdulillah sejauh ini, apa yang saya bayar sesuai dengan yang saya harapkan. Termasuk kursus Jurnalisme Sastrawi yang dibandrol Yayasan Pantau sebagai penyelenggara sebesar Rp 4 juta. Saya dapat diskon sejuta sebab ada peserta yang sudah bayar DP tapi mengundurkan diri. How lucky i am!

Beberapa pekan lalu saya mendapat informasi dari sebuah milis. Ada pelatihan gratis yang digelar penulis biografi Albertine Endah. Saya tak tahu persis siapa dia. Dan mbah Google memberi informasi bahwa dia telah menulis banyak buku biografi. Oke, toh gratis dan tak ada salahnya saya mendapat ilmu. Saya pun mendaftar.

Baru beberapa hari lalu, ada email lain yang mengkonfirmasi kesertaan saya. Wordisme, nama pelatihan sehari itu. Saya tadinya kurang ngeh, kok ada email undangan pelatihan menulis. Gratis pula. Saya lantas meneliti informasi dalam lampiran itu. Ada nama Albertine Endah. Saya baru ingat bahwa saya pernah mengirimkan email kepadanya untuk mendaftar. Dan ini mungkin jawabannya.

Yang membuat saya senang sebagai penulis dan wartawan adalah, banyak nama beken yang sarat pengalaman yang menjadi pengampu pelatihan yang digelar di Gedung Kompas itu. Ada Salman Arsito, Raditya Dika dan beberapa nama yang tak saya kenal tapi punya jam terbang yang bagus di media.

Syukurlah. Saya memang masih merasa ingin selalu belajar dari siapa pun. Bukti syukur itu saya tuangkan dengan bikin pelatihan menulis buat yang menginginkannya.

Dulu, saya pernah bikin pelatihan menulis. Hanya enam orang yang ikut tapi saya senang bahwa ilmu saya bisa mengalir. Nah, bulan ini, tanggal 20, saya diminta berbagi pengalaman kepada mahasiswa jurusan Farmasi Poltekkes Jakarta II. Saya sambut dengan gembira tawaran itu. Semoga menjadi kebaikan buat saya. Juga anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s