#8: Identitas Kota

Istri saya bertanya, kenapa Jakarta tak punya tradisi macam pawai takbiran yang ada di Kotagede?

Saya enteng menjawab. “Karena Jakarta tak punya cultural content.” Budaya Betawi yang ada pun mulai terkikis sekularisme, materialisme dan modernisme yang lantas tiga nilai itu menjadi budaya masyarakat pop ibukota.

Bukan saya mau membela Jogja. Tapi ketika anda menyebut nama “Jogja”, ada satu benang merah yang teringat: kota budaya! Benar kan? Bagaimana kalau kita menyebut “Jakarta”, akan ada banyak atribut: ya kota pemerintahan, perdagangan, industri, macet, banjir, dan sebagainya. Tidak ada kesepakatan budaya yang dibuat.

Di Jogja, anda dengan mudah menjumpai pusat seni dan budaya dimana nilai-nilai itu terinternalisasi dalam kehidupan mereka. Mulai dari pakaian, bahasa, dan atribut lainnya.

Istri saya heran. Kenapa di Jogja, mall-mall seolah tak lebih laku dari pasar tradisional? Sementara di Jakarta, mall berbaris berdekatan letaknya. Di rumah saya di bilangan Kramatjati, saya bisa menjangkau empat mall dalam radius 5 km: mall Cijantung, Tamini Square, KJI dan PGC.

Saya bilang, penyebabnya dari identitas kota itu sendiri. Jogja dikenal sebagai kota yang sangat kental tradisi budayanya. Sementara Jakarta, juga sudah terkenal budaya betawi yang sudah luntur. Ironi.

Padahal, di beberapa titik yang saya tahu, ada daerah cagar budaya, seperti Condet, Setu Babakan atau Rawabelong. Sayangnya, pemerintah Jakarta, saya lihat kurang serius menggarap potensi pariwisata Jakarta. Ini yang membuat identitas Jakarta sebagai kota, tak pernah jelas statusnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s