#11: Ikat Pinggang

Dua bulan ini adalah masa transisi saya. Sebab, menurut rencana saya akan melanjutkan kuliah di Jogja sekaligus berkumpul bersama anak dan istri. Kebetulan, istri saya sudah lebih dahulu mendapatkan beasiswa dari Kemenristek, sehingga bisa melanjutkan studi S2 dengan gratis.

Di Jogja, kami akan tinggal bersama orangtua dari pihak istri. Selain bisa menghemat biaya, juga ada mertua yang akan menemani anak kami yang masih berusia 13 bulan. Memang, hitungan kami sudah lumayan matang untuk bisa melanjutkan kuliah. Seperti orang lain, kami juga mengencangkan ikat pinggang, mengingat biaya kuliah yang tak murah.

Apalagi saya memang memutuskan keluar dari pekerjaan dan memilih bekerja sebagai penulis independen lagi. Itu artinya, besarnya pendapatan yang akan saya peroleh, ditentukan juga oleh seberapa kuat saya berusaha.

Dampak ikat pinggang itu sungguh terasa. Mulai dari perubahan manajemen keuangan keluarga sampai pemilihan tempat belanja. Kami buat perencanaan keuangan yang lebih rasional, kami juga memilih tempat belanja yang punya selisih harga lebih murah, kami juga membatasi makan di luar rumah, dan yang paling penting, kami lebih menghargai uang.

Kalau kata pepatang, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Nah, inilah yang kami sedang lakukan. Berhemat demi bisa melanjutkan kuliah, agar kehidupan kami, anak dan orang terdekat kami, kelak menjadi lebih baik. Insya allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s