#12: Hidup di Belantara

Pernah berpikir untuk memutar waktu ke masa lalu? Dimana zaman masih primitif dan tinggal di hutan belantara. Tak ada alat komunikasi atau transportasi modern, listrik, apalagi internet untuk membuka facebook atau berkicau di twitter.

Hidup dalam banyak keterbatasan. Bahkan saat mau makan sekalipun, kita harus mengolah langsung dari alam. Mau makan ayam atau daging, ya harus berburu dulu, lalu memasaknya dengan bumbu yang juga didapat dari alam. Pasti repot buat manusia modern di zaman yang serba digital ini. , manusia yang hidup di zaman dan tempat semacam itu, adalah orang yang tangguh.

Tapi, saya bukan mau cerita soal zaman prasejarah. Saya hanya menganalogikan bahwa hidup sebagai freelancer itu seperti hidup di hutan: penuh perjuangan. Istilah saya, kalau tak berjuang, ya nggak makan.

Makanya jangan heran kalau para freelancer punya jam kerja yang sangat fleksibel. Bahkan bisa 24 jam sehari dan 7 hari sepekan demi mempertahankan hidupnya. Tapi kalau ‘hasil buruannya’ bisa mencukupi kehidupannya selama setahun ke depan, bisa saja freelancer lebih banyak libur daripada jam kerjanya.

Saya pernah mengalami masa itu selama tujuh bulan, setahun yang lalu. Dan kini saya menekuninya lagi dengan beberapa alasan. Hanya saja, ada dua macam freelancer bagi saya:

1. Freelancer yang terpaksa. Mereka ini melakoni profesi freelancer semata-mata karena tak dapat pekerjaan. Melamar sana-sini ditolak perusahaan. Sementara dia tak bisa berdagang. Akhirnya dia hanya bekerja kalau ada permintaan saja.

2. Freelancer karena pilihan. Mereka adalah orang yang sadar memilih profesi sebagai pekerja independen. Biasanya mereka ini sukses secara materi karena keterampilannya banyak dibutuhkan sementara tak banyak SDM yang bisa melakukannya.

Kebanyakan freelancer yang saya kenal menggeluti bidang penulis, desainer, ilustrator, fotografer, IT, konsultan, seniman,  marketing dan wartawan. Mengapa?

Kebanyakan yang punya darah seni, lebih suka bekerja secara bebas. Nggak banyak aturan administratif dri kantor. Misalnya, penulis, wartawan, desainer, fotografer. Mereka ini terbiasa bekerja base on target.

Sementara IT, marketing atau konsultan, biasanya disebabkan karena alasan income. Dengan freelance mereka bisa mendapatkan lebih banyak uang daripada ngantor.

Namun, untuk bisa survive sebagai seorang freelancer, ada beberapa modal yang harus dimiliki dan diperkuat. Apa saja:

1. Keterampilan yang mumpuni.
2. Jaringan dan kolega.
3. Tetap menjaga profesionalisme.
4. Portofolio atau jejak karya.
5. Kemampuan komunikasi untuk menjaga hubungan baik dengan klien.

Nah, itu sekelumit soal dunia freelancer yang bak hutan belantara. Kalau sudah punya lima item itu, apa masih berpikir menjadi pegawai kantoran terus?

One thought on “#12: Hidup di Belantara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s