Emak Pingin Naik Haji

“Mana mungkin bisa beli komputer, aku aja belum beli.”

Emak terdiam ketika perempuan muda di hadapannya menanggapi dengan ketus keinginannya untuk membeli seperangkat barang mahal itu. Ketika itu, emak mengutarakan keinginan membelikan komputer untukku. Tapi justru jawabannya, seperti yang tak dia harapkan dari adik sulungnya itu.

Emak miris, melihatku selalu menginap di rumah teman untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Apalagi, kuliahku sudah memasuki tahun ketiga dan akan segera wisuda. Tugas-tugas makalah dan persiapan skripsi tentu menanti.

Itu terjadi sekitar delapan tahun lalu.

Hal serupa juga terjadi lagi.

“Pingin deh naik haji,” kata emak usai mengantar kakak perempuannya ke asrama haji Pondokgede, Jakarta Timur, beberapa tahun lalu. Tanggapan sinis juga didapatnya dari adiknya.

“Mana mungkin haji, ya aku duluan lah,” tanggapan yang lagi-lagi membuat emak terdiam.

Aku tahu, emak tak sepenuhnya diam. Aku tahu emak mengadu kepada Allah swt di sela-sela shalat wajib dan sunnahnya. Aku tahu emak menangis ketika diperlakukan begitu. Aku tahu emak sakit hati. Aku tahu betul emak.

Memang, emak ‘cuma’ abdi negara dengan pendapatan yang hanya sepertiga pendapatan adiknya yang berdinas swasta. Pendidikan emak juga hanya SLA yang mentok digolongannya IIIA. Apalagi setelah kematian bapak saat kami masih kecil, praktis beban hidup emak yang merantasi.

Maka ketika emak pensiun dua tahun lalu, emak emoh bekerja, meski akan dikaryakan kembali sebagai tenaga honorer. Emak memilih sibuk dengan pengajian rutin dan kegiatan lainnya di rumah. Diam-diam, emak belajar dan mempersiapkan diri untuk naik haji. Ia menghapal doa dan memperlancar bacaan Qur’annya.

Ia lalu mendaftar ke sebuah yayasan atas rekomendasi guru mengajinya pada bulan Maret. Hanya dua pekan setelahnya, sang ustadz pembimbing haji, menelepon emak dan menyatakan emak bisa segera berangkat.

Raut wajahnya tegang, mulutnya ternganga.

“Apa bener nih ustadz?” suaranya menggantung, kemudian berganti dengan dzikir dan syukur, usai pembicaraan lewat telepon itu.

Uang pensiun dan tabungan pribadinya, menjadi bekal perjalanan emak menuju Baitullah. Kemudian, hari-hari emak bertambah sibuk dengan serangkaian pengajian dan latihan manasik dari pihak yayasan. Aku sempat menemaninya. Aku lihat sorot mata emak yang antusias mengikuti serangkaian acara.

Banyak orang terdiam, ketika tahu kabar emak akan berangkat haji. Termasuk adik perempuan sulungnya, atau tetangga kanan-kiri yang menyimpan dengki dengan keberuntungan emak. Ya, memang memang beruntung dipilih Allah swt begitu cepat sebagai tamu-Nya di Tanah Haram. Bukan apa-apa, kita tahu bahwa mendaftar haji saat ini, baru empat-lima atau enam tahun kemudian baru bisa berangkat. Antreannya sudah mengular.

Kata sang ustadz, emak cerita padaku, dirinya diprioritaskan karena sudah masuk kategori ‘sepuh’. Yayasan Al-Anshar di Cileungsi mendahulukan calon haji yang sudah lanjut usia, ketimbang yang masih muda. Ya, emak sudah 57 tahun. Dan insya Allah, emak akan berangkat 13 Oktober ini.

“Jaga kesehatan ya mak, banyak berdoa dan ibadah. Doakan anak-anak emak, supaya bisa segera beribadah di Tanah Suci. Semoga emak pulang menjadi haji yang mabrur,” aku berbisik sambil mencium pipi emak yang sudah mengendur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s